Tafsir Nabi-nabi Besar

Tafsir Nabi-Nabi Besar
Sillabus Tafsir Nabi-Nabi Besar
Oleh: Makjen Petrus Simanjuntak, S.Th., M.Div

I. Penjelasan

Dalam studi Teologia mata kuliah ini ada dalam rumpun Mata Kuliah Keahlian Berkarya. Dimana lewat mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat berkarya atau mengimplememntasikan apa yang dipelajari selama studi di dalam pelayanan kelak. Dalam perkuliahan ini kita akan membahas tentang tafsiran dari beberapa tema penting nabi-nabi besar, (Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel).

II. Tujuan Umum

1. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memahami apa yang menjadi Latar Belakang setiap kitab nabi-nabi besar.
2. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa diharapkan dapat memahami gaya sastra dari setiap tulisan nabi-nabi besar.
3. Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memahami beberapa tema penting dari kitab nabi-nabi besar.
4. Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat membuat khotbah dari setiap kitab nabi-nabi besar.
5. Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat mengetahui beberapa issu penting yang masih merupakan perdebatan dalam kitab nabi-nabi besar.

III. Tujuan Khusus

1. Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang sifat sastra setiap kitab nabi-nabi besar.
2. Setelah mempelajari mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan bagaimana ajaran dari setiap kitab nabi-nabi besar.
3. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan apa-apa saja yang menjadi permasalahan seputar kitab Yesaya.
4. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan tentang pengajaran Eskatologi dari kitab Daniel.

IV. Tugas-Tugas

1. Membaca dua kali kitab Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel secara keseluruhan.
2. Membaca buku dan membuat laporan, yang dikumpulkan setiap kali pertemuan.
3. Membuat satu khotbah ekspositori dari setiap kitab nabi-nabi besar. ( diketik rapih empat halaman 1 spasi dalam kertas kwarto)
4. Membuat Paper dengan Judul “Perdebatan tentang Deutro dan Trito Yesaya”. Paper diketik rapih 1 spasi dalam 10 halaman kwarto.

V. Garis-Garis Besar Mata Kuliah
I. Pengantar Kepada Nabi-Nabi Besar
1. Kesusastraan Perjanjian Lama
2. Kanon Perjanjian Lama
3. Nabi, Nubuat dan Fungsinya dalam Masyarakat Yahudi

II. Yesaya

1. Latar Belakang Historis
2. Pengarang
3. Tanggal dan aktifitas Yesaya
4. Sifat Sastra dan Keabsahan Yesaya
5. Perdebatan tentang Deutro dan trito Yesaya
6. Garis Besar Kitab Yesaya
7. Isi Ringkas Kitab Yesaya (Baca buku Pengenalan Perjanjian Lama, hal 158)
8. Tema-Tema Besar
a. Hari Tuhan Psl 1-12
b. Sabda-sabda Yesaya terhadap Bangsa-bangsa 13-23
c. Yerusalem, Mesir dan seorang nabi diantara keduanya. 28-33
d. Rangkuman Eskatologi 34-35
e. Lampiran Sejarah (36-39)
f. Yesaya 40-66.
 Psl 40-48 Pembebasan dari Pembuangan
 Berita tentang penaklukan Koresy atas Babel dan berita tentang Hamba Tuhan (menggali isi Alkitab) 49-57
 Psl 58-66 Pemulihan Sion

III. Yeremia

1. Latar Belakang Historis
2. Pengarang
3. Tanggal dan aktifitas pelayanan Yeremia
4. Sifat Kesusastraan dan Keabsahan kitab Yeremia
5. Garis besar kitab Yeremia
6. Isi Ringkas kitab Yeremia
7. Tema-tema penting
a. Panggilan dan pelayanan Yeremia
b. Hubungan yang tidak wajar antara Yehuda dan Allah
c. Pengajaran tentang Almasih (Menggali isi Alkitab)
d. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
e. Pengharapan
f. Masa Depan Yehuda
g. Penghukuman Allah atas Babel (Menggali isi Alkitab)
h. Yeremia sebagai gambaran Kristus (Menggali isi alkitab)
i. Pelayanan Yeremia sesudah keruntuhan Kerajaan

IV. Ratapan

1. Latar Belakang Historis
2. Pengarang
3. Judul dan tempat dalam kanon
4. Struktur sastra dan analisis
5. Isi Ringkas Kitab ratapan
6. Tema-tema penting
a. Puisi I-V
b. Pembuangan dan hari Tuhan
c. Bait Allah, Para Imam, Para nabi dan Pelayanan Agama dalam kehancuran.

V. Yehezkiel
1. Latar Belakang Historis
2. Pengarang
3. Sifat sastra dan Keabsahan Kitab Yehezkiel
4. Letak pelayanan Yehezkiel
5. Isi Ringkas kitab Yehezkiel
6. Firman dalam nubuat Yehezkiel
7. Kebisuan Yehezkiel
8. Yehezkiel dan Apokalips
9. Tema-Tema penting dalam kitab Yehezkiel
a. Penglihatan Pendahuluan (Menggali isi Alkitab)
b. Penglihatan tiga serangkai (menggali)
c. Ketiga penglihatan secara bersama-sama (menggali)
d. Pemberitaan dengan tanda-tanda (menggali)
e. Pemberitaan secara langsung (menggali)
f. Polaritas manusia dan Resolusi Allah
g. Ajaran kitab Yehezkiel tentang Allah, Manusia dan bangsa.

VI. Daniel
1. Latar belakang Historis
2. Pengarang dan waktu penulisan
3. Letak kitab Daniel dalam Kanon
4. Sifat sastra kitab Daniel
5. Tujuan penulisan
6. Cara Penafsiran kitab Daniel
7. Ajaran kitab Daniel secara ringkas
8. Tema-tema utama
a. Tahun ketiga Pemerintahan Yoyakim dan pembuangan Daniel
b. Belsyazar dan Nabonidus
c. Darius orang Media
d. Analisis mimpi dan penglihatan (Eskatologi)
Patung mimpi Raja Nebukadnezar (Menggali)
Tujuh puluh kali tujuh masa
9. Pemikiran Teologis tentang Kitab Daniel

VI. Bagaimana Supaya Mendapat Nilai (A)
Hadir tepat waktu tanpa ada absent : 15%
Mengerjakan semua tugas tepat waktu dan benar : 40%
Mengerjakan Quis dengan benar : 20%
Mengerjakan ujian akhir semester dengan benar : 25%
Total Keseluruhan : 100% (Nilai A)

VII.Daftar Pustaka

1. Green Denis, Pengenalan Perjanjian Lama. (Malang: 1984) Gandum Mas
2. C. Hassell Bullock, Kitab nabi-nabi Perjanjian Lama. (Malang: 2002) Gandum Mas.
3. Tafsiran Alkitab Masa Kini: Ayub – Maleaki. (Jakarta: 1980). Yayasan Komunikasi Bina Kasih OMF.
4. Walvoord John F. Pedoman Lengkap Nubuat Alkitab. ( Bandung: 2003) Yayasan Kalam Hidup.
5. Wycliffe Bible Comentary II. (Malang: Gandum Mas)
6. Siahaan SM, Kitab Daniel. (Jakarta: 2003) BPK Gunung Mulia
7. Baxter Sidlow J. Menggali Isi Alkitab II, (Jakarta: 1999) Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF.m

I. PENGANTAR KEPADA NABI-NABI BESAR

I.I. Kesusastraan Perjanjian Lama

Untuk mengerti isi dan ajaran Alkitab maka kita memerlukan pengertian mengenai jenis-jenis sastra, bahasa dan gaya penulisan yang dipakai di dalamnya. Kesusastraan Perjanjian Lama bersifat aneka-ragam, misalnya:
1. Prosa biasa, termasuk juga silsilah.
2. Prosa gaya cerita, kebanyakan catatan/riwayat-riwayat historis yang kadang-kadang juga mengandung khiasan.
3. Tulisan gaya puisi, yang dapat mengandung fakta dan khayalan, bayang-bayangan tentang realitas rohani, dan juga keterangan bersejarah.
4. Catatan-catatan hukum yang merumuskan undang-undang dan hukuman atas pelanggarannya.
5. Perkataan-perkataan berupa nasehat dan himbauan.
6. Syair dan Amsal.
7. Nubuat, termasuk penglihatan, mimpi, perbuatan-perbuatan simbolis dan ramalan, sebagianya dengan arti yang sudah jelas dan sebagiannya yang memerlukan penafsiran.

I. II. Kanon Perjanjian Lama

Kitab suci orang Yahudi berupa 24 kitab yang diatur dalam tiga bagian besar:

Hukum Taurat * Kejadian
(“Torah”) * Keluaran
* Imamat
* Bilangan
* Ulangan

Para Nabi # Yosua
(“Nebhim”) # Hakim-hakim
# Samuel
# Raja-raja Nabi-nabi terdahulu
# Yesaya Nabi-nabi terkemudian
# Yeremia
# Yehezkiel
# Nabi-nabi kecil Hosea s/d Maleakhi

Kitab-kitab * Mazmur
(Tulisan-tulisan) * Amsal
(“Khethubim”) * Ayub
* Kidung Agung
* Rut
* Ratapan
* Pengkotbah
* Ester
* Daniel
* Ezra
* Nehemia
* Tawarikh

Urutan Perjanjian Lama dalam Alkitab masa kini pada umumnya mengikuti terjemahan PL dalam Septuaginta (Alkitab PL yang diterjemahkan kedalam bahasa Yunani tahun 150 SM). Sementara urutan PB biasanya mengikuti urutan terjemahan Alkitab PB yang kedalam bahasa latin (Vulgata) yaitu kira-kira tahun 404 AD.

Pembagian biasa sekarang

Pentateukh
o Kejadian
o Keluaran
o Imamat
o Bilangan
o Ulangan

Kitab-kitab Sejarah
o Yosua
o Hakim-hakim
o Rut
o I & II Samuel
o I & II Raja-raja
o I & II Tawarikh
o Ezra
o Nehemia
o Ester

Kitab-kitab Syair
o Ayub
o Mazmur
o Amsal
o Pengkotbah
o Kidung Agung

Kitab Nabi-nabi Besar
o Yesaya
o Yeremia
o Ratapan
o Yehezkiel
o Daniel
Kitab Nabi-nabi Kecil
o Hosea
o Yoel
o Amos
o Obaja
o Yunus
o Mikha
o Nahum
o Habakuk
o Zefanya
o Hagai
o Zakaria
o Maleakhi

Dalam Septuaginta (LXX) kitab-kitab Apokrifa diterima sebagai kitab yang berotoritas. Kitab-kitab Apokrifa tersebut ditulis pada zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun setelah reformasi Protestan pada abad ke –16 AD., kitab-kitab tersebut dikeluarkan dari Alkitab karena tidak diakui dalam kitab-kitab suci orang Yahudi.

I. III. Nabi, Nubuat dan Fungsinya Dalam Masyarakat Yahudi

a. Sifat Nubuat Dalam Kebudayaan Yahudi

Nubuat adalah suatu penyingkapan tentang sesuatu yang belum terjadi, yang disingkapkan Allah melalui manusia, yang memakai kata-kata lisan atau tertulis untuk menyampaikan penyataan tentang Allah dan menerangkan tentang kehendak-Nya kepada manusia. Hal tersebut diatas bisa kita anggap sebagai definisi yang juga merupakan sebuah sifat dari nubuat itu sendiri. Jadi sifat nubuat itu bisa dikatakan sesuatu penyingkapan tentang yang akan datang (secara negatif disebut ramalan).
Dalam pengertian yang lebih luas, benda-benda, kejadian-kejadian, dan upacara-upacara yang tercatat dalam Alkitab kita dapat merupakan nubuat secara simbolis. Dan pada masa kini kita sering mengatakan hal itu sebagai tipologi. Misalnya, peristiwa ular tembaga (Bilangan 21:4-9) itu tidak hanya merupakan catatan sejarah saja, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai nubuat atau dan yang sekarang kita sering menyebutnya tipologi akan penyaliban Tuhan Yesus (Yohanes 3:14). Demikian juga dengan upacara persembahan korban, semuanya itu merupakan nubuatan tentang pencurahan darah Kristus sebagai Anak Domba Allah.
Jadi dalam arti yang luas ini, dapat kita simpulkan bahwa sebagian besar Perjanjian Lama mengandung nubuat; tetapi dalam arti yang sempit, istilah nubuat dipakai khusus untuk menyebut tulisan/ uraian golongan tertentu yang dipilih dan dikarunia untuk menjabat sebagai nabi.
Perlu diingat bahwa diantara golongan nabi-nabi besar dan kecil, masih ada nabi-nabi yang lain yang ucapannya tidak dituliskan. Walaupun berita-berita mereka disinggung secara tidak langsung dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang tergolong sebagai kitab sejarah. Demikianlah keadaan mengenai Nathan dan Gad pada zaman Daud; Semaya, Ahia, Mikha bin Yimla, Elia, Elisa, Obed dan yang lain-lain. Nabi-nabi ini disebut nabi lisan karena nubuatan mereka hanya disampikan secara lisan saja. Pada umumnya berita mereka disampaikan pada masa krisis tertentu dalam kehidupan bangsa Israel, dan tidak mempunyai arti yang penting untuk diketahui oleh generasi-generasi yang akan datang. Tetapi jika nubuatan seorang nabi perlu didengar oleh generasi-generasi sesudahnya maka Roh Allah akan menggerakkan nabi untuk menuliskan berita tersebut. Nabi yang demikian ini disebut sebagai nabi yang menulis dan tulisan-tulisan mereka merupakan Kitab Para Nabi yang sekarang merupakan sebagian dari Alkitab Perjanjian Lama.
Diatas kita telah mengatakan bahwa salah satu sifat nubuat adalah merupakan penyingkapan tentang hal-hal yang akan datang atau bersifat ramalan. Tetapi bukan hanya itu saja. Nabi juga dapat didefinisikan sebagai juru bicara yang menggantikan pribadi yang lain, atau boleh disebut sebagai penyambung lidah. Mari kita mengingat ketika Musa takut pergi kepada orang Israel di Negeri Mesir, karena merasa tidak fasih lidahnya, maka Tuhan berfirman, lihat Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun, dan Harun abangmu, akan menjadi nabimu (Keluaran 7:1), dalam hal ini Harun dibuat menjadi nabi bagi Musa, berarti ia harus berbicara ganti Musa atau dijadikan penyambung lidah bagi Musa. Sebab itu perlu dicatat, bahwa walaupun segenap ramalan (sesuatu yang belum terjadi) dalam Alkitab adalah nubuat, namun semua nubuat bukanlah ramalan. Nubuat juga dapat berkenaan dengan perkara-perkara yang telah lampau, atau yang terjadi pada masa kini, atau akan terjadi pada masa yang akan datang. Jadi nubuat berarti menyatakan sesuatu menurut yang sebenarnya berkat pengilhaman Tuhan. Nubuat juga adalah sesuatu yang memberikan pernyataan tentang hal-hal yang akan datang berdasarkan pengilhaman Tuhan, yang mustahil dapat dinyatakan berdasarkan hikmt manusia, melainkan berdasarkan ilham langsung dari Allah. Nubuat yang tidak bersifat ramalan dan juga yang tidak menyingkapkan masa yang akan datang, berarti suatu berita yang memberitakan kebenaran mengenai suatu pokok tertentu yang diterima langsung dengan ilham Tuhan.
Sifat yang lain dari nubuat dalam Alkitab dan yang dipercaya oleh orang Yahudi adalah, bahwa nubuat adalah berita yang datang dari Allah. Kata Ibrani, Nabhi, mempunyai kata dasar yang artinya memancar keluar sebagai pancaran air. Jadi berarti memancarkan kata-kata dengan semangat yang meluap-luap berdasarkan pengilhaman Tuhan. hal ini terlihat jelas sekali, dimana para nabi selalu memulai perkataan nubuatan dengan mengatakan: Beginilah Firman Tuhan…hal ini membuktikan bahwa mereka berkata-kata bukanlah dari diri mereka sendiri, tetapi apa yang Tuhan mau ucapkan itu sajalah yang mereka ucapkan. Berita mereka bukanlah dari karangan-karangan sendiri. Dalam 2 Petrus 1:21 dikatakan bahwa nubuat tidak pernah dihasilkn oleh kehendak manusia, tetapi karena dorongan Roh Kudus nabi-nabi berbicara atas nama Allah. Kata dorongan dalam hal ini berarti: digerakkan, dipaksa atau ditarik. Jadi apa yang dikatakan oleh para nabi tidak akan mungkin salah, karena mereka ada dalam kontrol Roh Kudus.

b. Jabatan Nabi

Pemunculan golongan orang istimewa yang disebut nabi terjadi pada zaman Samuel (I Samuel 10:5,6,10). Dalam Perjanjian Lama istilah Ibrani Nabi adalah menunjukkan seseorang yang mempunyai hubungan istimewa dengan Allah sebagai orang yang terpanggil dan berhak untuk berbicara atau bertindak atas nama Allah.
Istilah yang kedua yang dipakai ialah abdi Allah yang menunjukkan bahwa seorang nabi adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada Allah. Lebih dalam lagi bahwa arti abdi Allah disini menunjukkan ketaatan mutlak kepada Allah, walau apapun yang terjadi. Oleh karena ketaatan mutlak kepada Allah tersebut, maka dia dipercayai oleh Allah untuk menyampaikan Firman-Nya, karena dia hanya berbicara sebagaimana Allah menggerakkan lidahnya untuk berbicara, dia tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi apa yang Tuhan manu sampaikan kepada umat-Nya.
Istilah yang ketiga adalah pelihat, arti dari istilah ini menekankan bahwa seorang nabi tidak akan tertipu oleh sesuatu yang nampak secara lahiriah, tetapi akan dapat menilai segala sesuatu berdsarkan pandangan mata Tuhan sendiri. Sebagai nabi dia dapat menerima penglihatan khusus dari Tuhan tentang apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi dan apa yang akan terjadi. Sehingga dia dapat menyampaikan hal itu kepada orang lain.
Pada mulanya, jabatan nabi dilaksanakan oleh para imam dari suku Lewi, yang ditugaskan untuk mengajarkan serta menerapkan Hukum Taurat secara praktis dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel. Tetapi dalam Hukum Taurat sendiri sudah ada bayangan tentang perkembangan segolongan nabi yang akan meneruskan pelayanan Musa, sebagai orang yang menerima dan meneruskan Firman Tuhan (lihat Ulangan 18:15-22). Maka dengan kemerosotan pelayanan Imam (Hofni dan Pinehas anak Imam Eli, dalam 1Samuel 2), Tuhan membangkitkan jabatan nabi untuk mengawasi hubungan perjanjian antara Tuhan dengan bangsa Israel.

c. Fungsi Pelayanan Nabi Dalam Masyarakat Yahudi

G.L. Archer yang dikutip oleh Dennis Green dalam buku Pengenalan Perjanjian Lama, mengatakan bahwa ada empat fungsi utama dari pelayanan nabi.
1. Nabi harus mendorong umat Allah agar bersandar pada anugerah Allah saja, bukan pada jasa atau kekuatan sendiri atau kekuatan sekutu-sekutu manusia. Maka pada abad 8 SM seorang Nabi menasehati Raja-raja Yehuda agar agar tidak bersandar pada kekuatan Israel, Syria, Mesir atau negara-negra lain untuk melawan Asyur, melainkan bersandar pada kuasa Tuhan saja untuk menyelamatkan (Misalnya Yesaya 30:1-5)
2. Nabi juga mengingatkan umat Allah bahwa berkat dan keselamatan tergantung pada kesetiaan mereka dalam melaksanakan kewajiba-kewajiban perjanjian dengan Tuhan. Kesetiaan tersebut meliputi bukan hanya kepercayaan intelektual saja, melainkn penyerahan yng mutlak untuk mentaati Tuhan melalui cara hidup yang suci. Tanpa hidup suci itu segala persembahan korban tidak berguna sama sekali (Misalnya Yesaya 1:13-18). Para nabi menekankan bahwa kepercayaan harus disertai oleh perbuatan yang sesuai dengan Hukum Taurat sebagai dsar iman itu. Maka para nabi juga menafsirkan hukum itu dalam kehidupan sehari-hari bangsa Israel dan menerapkannya untuk menentukan standar-standar moral dalam menghadapi, keadaan-keadaan tertentu (Misalnya Amos 5:7-13, yang mencela perkosaan keadilan).
3. Nabi harus menghibur umat Allah tentang masa depannya. Dengan kesadaran bahwa bagian terbesar bangsa Israel tidak akan bertobat, para nabi yakin bahwa Tuhan pasti akan menghukum sesuai dengan peringatan-Nya dalam Imamat 28 dan Ulangan 28, denmgan akibat bahwa bangsa itu akan dibuang dari Tanah Perjanjian. Akan tetapi para nabi tidak hanya memberitakan penghukuman itu, mereka juga memberitakan penghiburan, dimana setelah masa penghukuman dan pembuangan maka sisa bangsa Israel yang setia akan dipulihkan dan dikemblikan ke tanah asal mereka. Tuhan masih mempunyai rencana bagi umat-Nya, yang akhirnya akan dipimpin oleh Mesias dn menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Harapan inilah yang menguatkan orang Yahudi yang saleh untuk tetap percaya kepada Tuhan walaupun dalam keadaan yang sangat sulit.
4. Nubuat merupakan semacam meterai atas kewibawaan Firman Tuhan, melalui nubuat-nubuat yang telah digenapi. Maka tanda kenabian yang sejati ialah penggenapan perkataannya (Ulangan 18:22). Kadang-kadang penggenapan itu terjadi lama setelah pengucapannya, tetapi karena beberapa nubuatan yang sebelumnya telah digenapi maka orang-orang yang mendengar atau bahkan membaca nubuatan itu menjadi percaya bahw nubuatan yang belum digenapi itupun suatu saat akan digenapi.

KITAB YESAYA

Latar Belakang

Latar belakang sejarah bagi pelayanan nubuat Yesaya, anak Amos adalah Yerusalem pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yes 1:1). Raja Uzia wafat pada tahun 740 SM (bd. 1Sam 6:1) dan Hizkia pada tahun 687 SM; jadi, pelayanan Yesaya meliputi lebih daripada setengah abad sejarah Yehuda. Menurut tradisi Yahudi, Yesaya mati syahid dengan digergaji menjadi dua (bd. Ibr 11:37) oleh Raja Manasye putra Hizkia yang jahat dan penggantinya (+ 680 SM). Yesaya rupanya berasal dari keluarga kalangan atas di Yerusalem; dia orang berpendidikan, memiliki bakat sebagai penggubah syair dan berkarunia nabi, mengenal keluarga raja, dan memberikan nasihat secara nubuat kepada para raja mengenai politik luar negeri Yehuda. Biasanya, Yesaya dipandang sebagai nabi yang paling memahami kesusastraan dan paling berpengaruh dari semua nabi yang menulis kitab. Ia menikahi seorang wanita yang juga berkarunia kenabian, dan pasangan ini memiliki dua putra yang namanya mengandung pesan yang simbolik bagi bangsa itu.
Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha; ia bernubuat selama perluasan yang mengancam dari kerajaan Asyur, keruntuhan terakhir Israel (kerajaan utara) serta kemerosotan rohani dan moral di Yehuda (kerajaan selatan).Yesaya memperingati raja Yehuda, Ahas, untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram; ia mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasihati kedua raja itu untuk percaya Tuhan saja sebagai perlindungan mereka (Yesaya 7:3-7; 30:1-17). Yesaya mempunyai pengaruhnya terbesar pada masa pemerintahan Raja Hizkia.

Penulis

Menurut tradisi secara universal baik orang Yahudi maupun orang Kristen, kitab Yesaya adalah hasil tulisan Yesaya secara keseluruhan, tetapi ada beberapa teolog yang mengatakan bahwa kitab Yesaya tidak ditulis oleh Yesaya secara keseluruhan. Melainkan hanya pasal 1-39 saja yang ditulis oleh Yesaya, yang lain adalah hasil tulisan dari seorang nabi yang lain, yang bersama orang yahudi di pembuangan. Dengan selengkapnya mereka menyebut orang tersebut sebagai Yesaya II atau deutro Yesaya dan Yesaya tiga atau Trito Yesaya. Kita akan membahas hal itu pada bagian selanjutnya.

Tanggal dan aktifitas Yesaya

Setelah kita mempelajari tentang latar belakang kitab Yesaya, disana kita sudah melihat kira-kira tahun berapa nabi Yesaya bernubuat, yaitu sekitar tahun 700-680 SM. Hal ini diteguhkan oleh apa yang telah dia tuliskan dalam Yesaya 1:1, dimana pelayanannya terjadi selama pemerintahan Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia. Para ahli membuat prediksi bahwa berakhirnya pemerintahan Uzia adalah sekitar tahun 740 SM, sedang akhir pemerintahan Yotam sekitar tahun 732SM, Ahaz sekitar tahun 716 SM, dan pemerintahan Hizkia berakhir sekitar 680 SM. Jadi dengan demikian dapat diruntut bahwa tanggal aktifitas Yesaya bernubuat sebagai nabi adalah sekitar tahun 700-680 SM.

Sifat Sastra dan Keabsahan Yesaya

Mengingat bahwa kitab Yesaya terdiri dari 66 fasal, sebagai jumlah fasal yang cukup banyak, maka menurut saya kita tidak usah terlalu heran jika kita menemukan keanekaragaman gaya dan pokok bahasan. Kita juga tahu bahwa seorang nabi juga dijuluki sebagai abdi Allah dan juga sebagai pelihat, yang dapat mengetahui dan dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia secara normal. Oleh sebab itu maka dia dapat berbicara tentang sesuatu yang masih sangat jauh di depan, atau sesuatu yang belum terjadi.
Banyak tokoh menolak keabsahan Yesaya sebagai penulis kitab Yesaya, dengan alasan bahwa Yesaya tidak mungkin bisa menulis sesuatu yang belum terjadi. Tetapi alasan itu muncul karena mereka tidak mengetahui definisi nubuat dan tugas nabi. Seolah-olah mereka berpikir bahwanabi berbicara atas nama dirinya sendiri.

Tujuan

Tujuan lipat tiga jelas kelihatan dalam tulisan Yesaya:

(1) Sang nabi pertama-tama menghadapi bangsanya sendiri dan bangsa lain yang sezaman dengan firman Tuhan mengenai dosa mereka dan hukuman Allah yang akan datang.
(2) Lalu, melalui berbagai penglihatan yang mengandung wahyu dan Roh nubuat, Yesaya menubuatkan pengharapan bagi angkatan masa depan orang Yahudi buangan. Mereka akan dikembalikan dari pembuangan dan akan ditebus Allah untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.
(3) Akhirnya, Yesaya bernubuat bahwa Allah akan mengirim Mesias dari keturunan Daud, yang keselamatan-Nya pada akhirnya akan meliputi semua bangsa di bumi ini, sehingga memberikan pengharapan bagi umat Allah di bawah perjanjian yang lama dan yang baru.

Survey

Sebagian besar sarjana berpendapat bahwa ke-66 pasal kitab ini dengan sendirinya terbagi menjadi dua bagian utama: pasal 1-39 (Yes 1:1–39:8) dan pasal 40-66 (Yes 40:1–66:24). Dalam hal-hal tertentu kitab Yesaya adalah seperti suatu Alkitab kecil:

1. Kedua bagian besar ini menekankan tema umum penghukuman dan keselamatan, sesuai dengan tema-tema umum di PL dan PB; dan
2. Dalam kedua bagian Yesaya dan Alkitab, hal yang menyatukannya adalah karya penebusan Kristus.

Ciri-ciri Khas

Delapan ciri utama menandai kitab Yesaya ini.

1. Sebagian besar kitab ini ditulis dalam bentuk syair Ibrani dan sebagai karya sastra tidak dapat dibandingi keindahan, kuasa, dan keanekaragaman dalam syairnya. Kekayaan kosakata Yesaya mengungguli semua penulis PL lainnya.
2. Yesaya disebut “nabi injili” karena, dari semua kitab PL, nubuat-nubuatnya tentang Mesias berisi pernyataan yang paling lengkap dan jelas dari Injil Yesus Kristus.
3. Penglihatannya tentang salib dalam pasal 53 (Yes 53:1-12) adalah nubuat yang paling khusus dan terinci dalam seluruh Alkitab mengenai kematian Yesus yang mendamaikan bagi orang berdosa.
4. Kitab ini menjadi kitab nubuat PL yang paling teologis dan luas; ia menjangkau ke belakang kepada saat Allah menciptakan langit dan bumi serta hidup manusia (mis. Yes 42:5) dan memandang ke depan kepada saat Allah mengakhiri sejarah dan menciptakan langit baru dan bumi baru (mis. Yes 65:17; Yes 66:22).
5. Kitab ini berisi lebih banyak penyataan tentang tabiat, keagungan, dan ekudusan Allah daripada kitab nubuat PL lainnya. Allah yang diperlihatkan Yesaya adalah kudus dan mahakuasa, Yang akan menghakimi dosa dan ketidakbenaran dalam umat manusia dan bangsa-bangsa. Ungkapan yang digemari untuk Allah ialah “Yang Mahakudus, Allah Israel”.
6. Yesaya, yang artinya “Tuhan menyelamatkan”, adalah nabi keselamatan. Ia memakai istilah “keselamatan” hampir tiga kali lebih banyak daripada seluruh kitab para nabi lainnya. Yesaya menyatakan bahwa maksud penuh keselamatan Allah akan digenapi hanya dalam kaitan dengan Mesias.
7. Yesaya sering kali mengacu kembali kepada peristiwa-peristiwa penebusan sebelumnya dalam sejarah Israel, mis. peristiwa keluaran (Yes 4:5-6; Yes 11:15; Yes 31:5; Yes 43:16-17), pemusnahan Sodom dan Gomora (Yes 1:9), dan kemenangan Gideon atas suku Midian (Yes 9:4; Yes 10:26; Yes 28:21); ia juga mengutip dari nyanyian Musa yang bersifat nubuat dalam Ul 32:1-52 (Yes 1:2; Yes 30:17; Yes 43:11,13).
8. Bersama dengan Ulangan dan Mazmur, Yesaya termasuk kitab PL yang paling banyak dikutip dalam PB.

Perdebatan tentang deutro dan trito Yesaya

Beberapa cendekiawan meragukan apakah Yesaya menulis seluruh kitab ini. Mereka menentukan pasal 1-39 (Yes 1:1–39:8) saja yang ditulis Yesaya dari Yerusalem; selanjutnya Yesaya 40-66 ditulis oleh dua orang yang lain. Fasal 40-55 ditulis oleh Yesaya kedua (Deutro Yesaya) dan yang dikatakan berupa karangan seorang murid Yesaya yang menulis pada masa pembuangan di Babel, kira-kira tahun 545 SM; kemudian fasal 56-66 ditulis oleh Yesaya ketiga (Trito Yesaya) dan yang biasanya dikatakan berupa karangan-karangan beberapa murid penulis Yesaya kedua, yang menuliskannya pada zaman pembuangan kira-kira tahun 520 SM.
Akan tetapi, tidak ada data alkitabiah yang mengharuskan kita menolak Yesaya sebagai penulis seluruh kitab ini. Nubuat-nubuat Yesaya dalam pasal 40-66 (Yes 40:1–66:24) untuk para buangan Yahudi di Babel jauh setelah kematiannya menekankan kemampuan Allah untuk menyatakan berbagai peristiwa khusus di masa depan melalui para nabi-Nya (mis. Yes 42:8-9; Yes 44:6-8; Yes 45:1; Yes 47:1-11; Yes 53:1-12). Jikalau seorang dapat menerima perwujudan penglihatan dan penyataan kenabian (bd. Wahy 1:1; Wahy 4:1–22:21), maka lenyaplah sudah halangan utama untuk percaya bahwa Yesaya menulis seluruh kitab ini.

Namun supaya kita tidak langsung serta merta menolak pandangan mereka, marilah kita melihat beberapa alasan mereka membagi kitab Yesaya menjadi tiga bagian dari segi kepenulisannya.
1. Suasana dan keadaan yang dicerminkan dalam bagian fasal 1-39 berbeda sama sekali dengan apa yang terdapat pada bagian fasal 40-66. bagian pertama pada umumnya berhubungan dengan keadaan menjelang keruntuhan kerajaan Yehuda dan permulaan masa pembuangan dan kemungkinan orang yahudi dapat kembali ke tanah asal mereka. Para pengkritik menekankan bahwa seorang nabi biasanya nejujukan beritanya kepada orang yang sejaman dengan dia sendiri, dan menetapkan berita itu dalam keadaan bersejerah yang sedang berlaku. Dalam kitab Yesaya kelihatan dua keadaan bersejarah yang sangat berbeda sifatnya, dan yang terpisah oleh jangka waktu cukup lama.
2. Rupanya fasal 40-66 mencatat peristiwa-peristiwa yang terjadi sedikitnya 150 tahun sesudah peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam bagian fasal 1-39. maka dari itu, dipandang secara manusiawi penulisan seluruh kitab Yesaya oleh seorang penulis saja tidak mungkin.
3. Nama Yesaya tidak disebutkan sama sekali dalam bagian fasal 40-66, walaupun cukup sering disebutkan dalam bagian fasal 1-39, seandainya naskah bagian fasal 40-66 diselidiki terlepas dari dan tanpa mengetahui isi bagian fasal 1-39, keterangan intern (misalnya nama raja Koresy disebutkan) akan mendorong kesimpulan bahwa bagian fasal 40-66 itu dituliskan pada masa pemulangan orang Yahudi setelah pembuangan di Babel (sekitar tahun 538 SM dst)
4. Rupanya beberapa sumber sebenarnya terdapat dalam bagian fasal 40 – 66, khususnya fasal 56-66, masing-masing dengan gaya menulis, gaya bahasa, pandangan teologia dan pokok pembicaraan yang berbeda. Dari segi lain, bagian fasal 1-39 pada umumnya menampakkan suatu kesatuan gaya menulis, gaya bahasa, pandangan teologia dan pokok pembicaraan yang juga berlainan dengan sumber-sumber yang terdapat dalam bagian fasal 40-66.

Beberapa jawaban dan dukungan yang mengatakan bahwa kitab Yesaya secara keseluruhan ditulis oleh Yesaya. Antara lain:
1. Tradisi Yahudi maupun gereja sampai dengan abad ke-19 AD, dengan suara yang bulat mendukung nabi Yesaya sebagai penulis seluruh kitab ini. Yosephus sejarawan Yahudi juga mengatakan bahwa kitab Yesaya adalah satu kesatuan. Dalam penyusunan kitab LXX kitab Yesaya juga disusun dalam satu kesatuan.
2. Menurut para pengkritik bahwa fasal 40-55 ditulis oleh deutro Yesaya, yaitu seorang nabi yang dianggap termasuk sebagai nabi yang terbesar di Israel. Tetapi jika benar demikian, sangat mengherankan bahwa segala keterangan tentang nabi yang terkenal itu telah terhapus sehingga namanyapun tidak lagi diketahui. Jadi dengn demikian adalah lebih masuk diakal mempercayai bahwa kitab Yesaya ditulis oleh satu orang Yaitu Yesaya sendiri.
3. Para pengkritik membedakan paling tidak empat sumber bagi bagian fasal 56-66 (Trito Yesaya). Maka sedikitnya harus ada enam penulis untuk seluruh kitab ini, tetapi inipun masih ditambah-tambah oleh para pengkritik sesuai dengan kesukaan mereka masing-masing. Dengan kata lain, para pengkritik sendiri belum dapat mencapai suatu persetujuan dan kepastian tentang jumlah penulis kitab Yesaya, maka argumentasi mereka tidak dapat diandalkan.
4. Tuhan Yesus Kristus dan penulis-penulis Perjanjian Baru ada beberapa kali mengutip berbagai bagian kitab Yesaya dengan selalu menganggapnya berasal dari Yesaya sendiri. berikut terdaftar beberapa kutipan dan bagian-bagian yang dikatakan para pengkritik tidak berasal dari Yesaya, tetapi dalam Perjanjian Baru tetap diakui sebagai karangan Yesaya; Matius 3:3 (bdk Yesaya 40:3); Matius 12:17-21 (Band Yesaya 42:1-4); Yohanes 12:38 dan Roma 10:16 (band Yesaya 53:1) Matius 8:17 (Band Yesaya 53::4); Roma 10:20-21 (band Yesaya 65:1-2).
5. Menurut para pengkritik isi Yesaya pasl 1-66, khususnya psl 40-66 sungguh berbeda dengan psl 1-39, tetapi pada kenyataanya psl 40-66 sangat sinkron dengan pasal 1-39, dimana keseluruhn kitab ini berbicara tentang hukuman dan keselamatan. Dan pada pasal 40-66 merupakan inti berita dari tentang keselamatan itu sendiri.
6. Lebih lagi kita dapat melihat bukti dari kitab Yesaya sendiri yang mendukung kesatuannya.
a. Diseluruh kitab ini, nampaklah suatu kesamaan dalam mutu dan kecakapan, gaya bahasa dan penyusunan, gagasan-gagasan dan symbol-simbol.
b. Ada beberapa istilah yang terdapat diseluruh kitab ini tetapi jarang atau mungkin tidak pernah disinggung dalam kitab PL yang lain. Misalnya: “Yang Maha Kudus, Allah Israel” terdapat 12 kali pada bagian fasal 1-39, 13 kali pada bagian fasal 40-66, tetapi hanya lima kali pada kitab-kitab lain; “Yang Mahakuat pelindung/Allah Israel/Yakub” (Yesaya 1:24; 49:26;60:16); penunjukan Israel sebagai orang-orang buta (29:18; 35:5; 42:16-18), “orang-orang tuli” (29:18; 35:5; 42:18; 43:8), orang-orang yang telah meninggalkan Tuhan (1:28;65:11), “orang-orang yang dibebaskan Tuhan” (35:10;51:11). Jdi dengan adanya istilah khas tersebut diatas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kitab Yesaya ditulis oleh satu orang saja, yaitu Yesaya.
c. Argumentasi para pengkritik bahwa perbedaam-perbedaan dalam gaya menulis, bahasa dan pandangan theologia yang terdapat dalam bagian fasal 40-66 menunjukkan bahwa penulis (atau penulis-penulisnya) berlainan dengan penulis bagian fasal 1-39 hanya dapat dipertahankan jika kedua bagian tersebut mempunyai pokok pembicaraan yang sama, yang ditunjukkan kepada golongn pembaca yang sama, dan para pembaca itu berada dalam keadaan yang sama. Tetapi faktor-faktor tesebut cukup berbeda juga. Mengenai pokok pembicaraan, bagian fasal 1-39 memuat berita celaan dan penghukuman, sedangkn bagian fasal 40-66 memuat berita penghiburan dan pemulihan. Mengenai golongan pembaca dan keadaannya, bagian fasal 1-39 ditujukan kepada orang-orang sezaman dengan Yesaya sendiri dan yang telah meninggalkan Tuhan sehingga layak untuk dihukum; tetapi bagian fasal 40-66 ditujukan kepada generasi mendatang yang telah mengalami masa hukuman (pembuangan), sadar akan kesalahannya dan menantikan pemulihan oleh Tuhan. maka tidak mengherankan jika perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan suatu perubahan dalam gaya menulis dan pandangan teologia Yesaya yang cukup menyolok. Perlu diingat bahwa bagian fasal 1-39 berupa khotbah yang disampaikan secara lisan, sedangkan bagian fasal 40-66 berupa bahan tertulis semata-mata yang dikerjakan oleh Yesaya pada masa tuanya, dan tentu akan menyebabkan beberapa perbedaan juga diantara kedua bagian tersebut.
7. Dari segi teologia fasal 40-66 dapat dipandang mjawaban terhadap problem-problem yang yang ditimbulkn oleh nubuatan tentang penghukuman yang terdapat pada bagian , fsal 1-39. nubuatan-nubuatan tersebut akan kelihatan bertentangan dengan janji-janji Tuhan, mengenai kelangsungan pemerintahan keluarga Daud dan penetapan Yerusalem sebagai pusat ibadah yang sejati, jika tidak diimbangi oleh nubuatan-nubuatan tentang pemulihan yang terdapat pada bagian fasal 40-66. maka bagian itu juga berfungsi sebagai penghiburan dan dorongan bagi umat Allah pada waktu mereka mengalami penghancuran itu.
8. Nubuatan-nubuatan mengenai raja Koresy yang terdapat pada bagian fasl 40-66 sebenarnya bukan dukungan terhadap teori bahwa Yesaya tidak menuliskan bagian tersebut, melainkan justru membuktikan bahwa berita Yesaya bahwa Yehovah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Maka Dia sanggup melakukan segala sesuatu. Orang yang percaya penuh pada inspirasi Alkitab juga tidak mengalami kesulitan dalam percaya bahwa Roh Kudus dapat menyatakan hal-hal yang akan datang kepada para nabi. Kalau nubuatan Yesaya tentang Koresy, yang diucapkan 150 tahun sebelum munculnya raja itu, cukup menakjubkan, yang lebih takjub lagi ialah nubuatan dalam 1Raja-raja 13:2 tentang Yosia yang diucapkan 300 tahun sebelum penumculan raja itu. banyak diantara para nabi memberitakan hal-hal yang akan datang, maka jika ketulenan kitab Yesaya dicurigai atas dasar itu, seharusnya beberapa kitab yang lin juga diperlakukan demikian.
9. Naskah-naskah laut mati (Dead sea scrolls), yang ditemukan di Qumran pada tahun 1947 AD, tidak menunjukkan pemisahan antara fasal 39 dengan fasal 40. malah kedua fasal itu terdapat pada halaman yang sama, dimana fasal 40 langsung menyusul setelah fasal 39. kita juga dapat membandingkan dimana catatan Lukas dalam Lukas 4:17., dimana dikatakan bahwa “kitab nabi Yesaya” diberikan kepada Yesus padahal bagian yang dibacakannya terambil dari Yesaya 61:1-2. ini membuktikan bahwa orang yahudi mempunyai satu gulungan saja untuk seluruh kitab Yesaya. Jadi kitab Yesaya adalah satu kesatuan dan ditulis oleh satu orang yaitu Yesaya.

Garis Besar Kitab Yesaya

Tema Umum: Penghukuman dan Keselamatan

I. Firman Tentang Pembalasan dan Pemulihan (1-39)

II. Firman Tentang Penebusan dan Akhir Zaman (40-66)

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Yesaya bernubuat tentang Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu yang ditentukan bagi Mesias (Yes 40:3-5; bd. Mat 3:1-3). Berikut ini adalah sebagian dari nubuat-nubuat Yesaya tentang Mesias serta penerapan PB-nya dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus:

1. Penjelmaan dan ke-Tuhanan-Nya (Yes 7:14; lih. Mat 1:22-23; Luk 1:34-35; Yes 9:5-6; lih. Luk 1:32-33; Luk 2:11);
2. Masa remaja-Nya (Yes 7:15-16 dan Yes 11:1; lih. Luk 3:23,32 dan Kis 13:22-23);
3. Isi-Nya (Yes 11:2-5; Yes 42:1-4; Yes 60:1-3; Yes 61:1; lih. Luk 4:17-19,21);
4. Ketaatan-Nya (Yes 50:5; lih. Ibr 5:8);
5. Berita dan pengurapan-Nya oleh Roh Kudus (Yes 11:2; Yes 42:1 dan Yes 61:1
6. Mukjizat-mukjizat-Nya (Yes 35:5-6; lih. Mat 11:2-5);
7. Penderitaan-Nya (Yes 50:6; lih. Mat 26:67; Mat 27:26,30; Yes 53:4-5,11; lih. Kis 8:28-33);
8. Penolakan-Nya (Yes 53:1-3; lih. Luk 23:18; Yoh 1:11; Yoh 7:5);
9. Rasa malu-Nya (Yes 52:14; lih. Fili 2:7-8);
10. Kematian-Nya yang mendamaikan (Yes 53:4-12; lih. Rom 5:6);
11. Kenaikan-Nya (Yes 52:13; lih. Fili 2:9-11); dan
12. Kedatangan-Nya yang kedua (Yes 26:20-21; lih. Yud 1:14; Yes 61:2-3; lih. 2Tes 1:5-12; Yes 65:17-25; lih. 2Pet 3:13).

Tema-Tema Utama Yang Kita Akan Bahas Selanjutnya

a. Hari Tuhan Psl 1-12
b. Sabda-sabda Yesaya terhadap Bangsa-bangsa 13-23
c. Yerusalem, Mesir dan seorang nabi diantara keduanya. 28-33
d. Rangkuman Eskatologi 34-35
e. Lampiran Sejarah (36-39)
f. Yesaya 40-66.
 Psl 40-48 Pembebasan dari Pembuangan
 Berita tentang penaklukan Koresy atas Babel dan berita tentang Hamba Tuhan 49-57
 Psl 58-66 Pemulihan Sion

A. Hari Tuhan (fasal 1-12)

Pengantar

Susunan kitab Yesaya sebenarnya gampang diingat. Sebagaimana Alkitab kita terdiri dari 66 kitab, demikian juga dengan kitab Yesaya yang terdiri dari 66 fasal. Dan sebagaimana 66 kitab Alkitab terdiri dari 39 kitab PL dan 27 kitab PB, demikian pula kitab Yesaya dapat dibagi menjadi dua bagian, yang pertama 39 fasal dan 27 fasal. Dan jika kitab PL atau yang 39 kitab menceritakan tentang hukum Taurat dan penghukumnan atas orang-orang yang melanggarnya, demikian pula isi 39 Yesaya terutama tentang penghukuman Umat Pilihan itu karena ketidak setiaannya kepada hukum Taurat. Dan sebagaimana 27 kitab PB memberitakan tentang anugerah Allah dan keselamatan yang datang karena anugerah Allah dan penghiburan, serta keselamatan yang akan datang. Dengan demikian kitab Yesaya sendiri semacam Alkitab.

Demikianlah susunan utamannya; tapi tidaklah ada pembagian lain? Bila Yesaya dibaca hanya satu dua kali, akan disangka bahwa ps-ps yang sekian banyak itu tidak mungkin digolong-golongkan menurut ukuran yang teratur. Tapi metode dan perkembangannya ada. Marilah kita menjelajahi dan mencatat apa yang kita dapat dari dalamnya.

Sebenarnya pasal 1-6, adalah pendahuluan yang dihiasi dengan kata-kat dan gaya bahasa yang indah. Secara khusus pasal 1 merupakan teguran kepada Yehuda dan Yerusalem (ayat 1, 8,21,26,27). Kemudian pasal 2-5 memberitahukan tentang hari Tuhan (2:11,12,17,20;3:7,18;4:1,2;5:30) dan perlu diingat bahwa semuanya itu cesara langsung berbicara tentang Yehuda dan Yerusalem (2:1, 3,6;3:18,16;4:3-5; 5:3). Dan satu hal yang perlu dicatat disini adalah bahwa bagian ini ditutup dengan seruan celakalah sampai enam kali (5:8,11,18,21,22)

Pasal 6 berisi pokok lain, yaitu sekilas tentang otobiografi yang mengesankan sekali. Nabi Yesaya melihat wahyu baru bukan tentang bangsanya, melainkan tentang Tuhan sendiri tujuan wahyu itu mempersiapkan dia bagi tugas kenabian yang lebih luas lagi. Pasal ini menceritakan wahyu baru (6:1-5), pengurapan baru (6:6,7) dan perintah baru (6:9-10). Tetapi perkara paling besar dalam pasal ini ialah: Nabi Yesaya melihat Tuhan selaku RAJA. Puncaknya ialah seruan ketakutan, celakalah aku!…namun mataku telah melihat sang Raja, yakni Tuhan semesta alam (6:5)

Dalam pasal-pasal berikutnya kita lihat, bahwa nubuat Yesaya makin bertambah luas, maka haruslah ia dahulu melihat Tuhan selaku Raja atas segala bangsa. Jadi ia dapat mengerti seterang-terangnya dan dapat mengatakan sejelas-jelasnya, bahwa dibelakang, diatas dan dibalik segala kegoncangan yang dinubuatkan itu, berdiri kekuasaan dan kehendak Tuhan, Raja semesta alam. Tetapi secara langsung pasal 6 berbicara tentang Yehuda dan Yerusalem (6:5,5-13). Dari itu kita tahu, bahwa pasal 1-6 merupakan satu kelompok, karena semuanya berbicara langsung tentang Yehuda, dan yang menjadi pokok pembicaraan utamanya adalah hari Tuhan.

Secara khusus Yesaya 7:1-17 memberikan penjelasan tentang tanda kelahiran Immanuel. Serbuan atas Yehuda oleh Efraim tidak akan berhasil (ay 1-9). Ini digenapi dalam peristiwa berikutnya. Yesaya mencatat bahwa, TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu yang dari tempat tertinggi yang diatas” (ayat 10, 11). Allah berjanji bahwa kepada Israel akan diberikan suatu tanda: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu sesuatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda – yakni raja Asyur dan kehancuran tanah itu (ay 18 – 25). Nubuat yang berkenaan dengan seorang perawan dan seorang anak itu telah diperhatikan secara bervariasi oleh pakar yang konservatif. Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu berkenaan dengan situasi dimana seorang perempuan muda yang masih perawan, yang akan segera menikah, dan akan melahirkan seorang anak, menggenapi nubuat itu. sebuah pandangan lain ialah bahwa nubuat itu khusus berbicara tentang Mesias, dan merujuk pada kenyataan bahwa Maria, sementara masih gadis, akan menjadi ibu Kristus (Matius 1:18,25), yang sesuai dengan Matius 1:21-23, adalah penggenapan nubuat Yesaya.

Kemudian secara singkat jika kita melihat pasal 7-12 maka kita akan melihat kesinambungan apa yang telah diutarakan sebelumnya, kali ini isi keseluruhannya menitik beratkan tentang Israel. Orang Aram dan orang Israel datang menyerang orang Yehuda (7:1-2) orang Israellah yang akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi (7:8). Raja Ahas di negeri Yehuda yang dikepung oleh orang Aram dan Israel, diberi tahu bahwa negeri yang kedua rajannya engkau takuti itu (Aram dan Israel) akan ditinggalkan kosong (7:16). Segenap firman itu berisi penghiburan bagi Raja Ahas (7:3-16). Maka 7:17 yang berisi kesusasahan besar tidaklah ditujukan kepada raja Yehuda yang sedang diberi penghiburan, melainkan berita malapetaka yang akan mencam itu adalah bagi kerajaan utara , yaitu Israel. Itu jelas dri kata-kata yang dipakainya, Tuhan akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda – yakni raja Asyur. Dengan kata lain kelak akan datang kepada orang Israel hari-hari yang demikian penuh kesusahan yang belum pernah dialiminya sejak 10 suku bangsa itu memisahkn diri dan mendirikn satu kerajaan sendiri dan kesusahan besar itu akan datang dari orang Asyur. Kita sekalian tahu bahwa orang Israel itulah yang dibinasakan oleh Raja Asyur. Walaupun Tuhan membiarkan raja Asyur menyusahkan orang Yehuda, nmun Tuhan kemudin dtang menolongny; orang Asyur menderita kesusahan dn orang Yehuda diselamatkan.

Pasal 8 melanjutkan pokok yang sama. Bahkan menekankan lebih jelas lagi, bahwa yang dikatakan itu ialah perihal orang Israel, bukn orang Yehuda (8:4), Jarahan Samaria akan diangkut di depan raja Asyur. (8:6); bangsa yang diceritakan telah tawar hati terhadap Rezin dn anak Remalnya, tentulah orang ini bukan orang Yehuda. Coba kita lihat 8:7; dan perhatikanlah 8:8 yang memberitahukan bahwa orang Asyur akan menererobos masuk masuk ke Yehuda, ibarat banjir yang meluap-luap hingga hingga sampai ke leher, seperti tersebut dalam Mika 1:9. ayat 8 ini menyatakan bahwa ayat-ayat sebelumnya tidaklah diperuntukkan bagi orang Yehuda! Ayat-ayat selanjutnya berbicara tentang perskutuan orang Aram dengan orang Israel yang bermaksud menyerang Raja Yehuda, memaksa Yehuda ikut dalam perserikatannya. Kemudian diceritakan tentang orang Israel lagi pada akhir pasal 8, dan dalam pasal 9.

Hubungan pasal 8 dengan pasal 9 menandaskan lebih jelas lagi, bahwa yang diceritakan ialah tentang orang Israel. Pasal 8:21-23 mengantarkan kita kepada pasal 9. lihatlah ada sebutan Zebulon dan Naftali dan Galilea (wilayah bangsa-bangsa lain)! Suatu bukti bahwa yang dimaksud Ialah tanah Israel, bukan Yehuda. Hal itu dijelaskan pula oleh ayat-ayat berikutnya (lihat ayat 7,8,9,11,13,20).

Pasal 10 masih melanjutkan nubuat ini juga. Antara lain dinyatakan berulang-ulang dengan keras, sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung (9:11, 16,20; 10:4). Dalam ayat 5 sampai 34, perkataan itu dialihkan kepada orang Asyur, ialah orang yang harus membinasakan kerajaan Israel, dan disuruh juga mendukacitakan orang Yehuda (10:11, 12). Dan akhirnya, kerajaan Asyur sendiri akan dibinasakan. Hal ini lalu disambungkan dengan pasal 11 dan 12, yang memberitakan tentang kedatangan kerajaan Almasih, dalam kerajaan itulah kelak: Ia akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi (Yesaya 11:12).

Pada penghabisan pasal 12 kita harus berhenti sebentar. Pasal 13 telah beralih kepada pokok lain. Oleh karena itu kita harus meninjau kembali pasal 7-12. kelompok pasal-pasal itu ada keselarasannya dengan kelompok sebelumnya; sebagaimana pasal 1-6, terutama memberitakan tentang keadaan orang Yehuda, ditutup dengan satu Wahyu yang indah tentang Tuhan selaku Raja yang memerintah di Sorga; demikian pula pasal 7-12 terutama memberitakan tentang orang Israel dan ditutup dengan sebuah Wahyu yang menyatakan kemuliaan Tuhan selaku Raja yang memerintah diatas bumi dalam kerajaan Almasih yang datang kelak. Sementara itu jangan dilupakan pula bahwa baik dalam pasal 1-6, maupun dalam pasal 7-12 terdapat keterangan yang berulang kali menyatakan tentang hari Tuhan (7:18,20,21,23; !0:20,27; 11:10,11; 12:1,4. jadi boleh dikatakan bahwa enam pasal pertama menyatakan tentang hari Tuhan terutama dalam hubungannya dengan Yehuda dan enam pasal berikutnya menyatakan tentang hari Tuhan dalam hubungannya dengan Israel.

Ringkasan Nubuat Tentang Mesias Dalam Kitab Yesaya

Nubuat yang berkenaan dengan kelahiran Kristus dari seorang gadis harus dipandang dalam konteks nubuat-nubuat lain tentang Mesias dalam Kitab yesaya. Nubuat tentang Mesias yang utama meliputi pemerintahan Kristus dalam kerajaan (2:3-5). Kelahiran Kristus dari seorang perawan (7:14), pemerintahan Kristus atas seluruh dunia (ayat 4), Kristus sebagai keturunan Isai dan Daud (11:1,10), Kristus akan penuh Roh (ay 2; 42:1), Kristus akan menghakimi dengan adil (11:3-5; 42:1,4), Kristus akan memerintah bangsa-bangsa (11:10), Kristus akan bersikap lembut pada yang lemah (42:3), Kristus memungkinkan adanya PB (ay 6; 49:8), Kristus menjadi terang bagi orang Yahudi dan akan disembah mereka (42:6; 49:6, 7; 52:15), Kristus ditolak oleh Israel (49:7; 53:1-3), Kristus menaati Allah dan akan mengalami penderitaan (50:6; 53:8), Kristus akan dimuliakan (52:13; 53:12), Kristus akan memulihkan Israel dan menghukum orang Jahat (61:1-3).

Datangnya Mesias anak Daud dibandingkan dengan suatu saat ketika terang yang besar akan bersinar (9:2), dan suatu saat sukacita serta kegembiraan (9:3). Waktu itu digambarkan sebagai suatu kemenangan besar bagi Israel (ayat 3, 4).

Nubuat besar tentang kedatangan Kristus itu dicatat dalam ayat 5 dan 6, “sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada diatas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, Raja Damai. Besar kekuasaan-Nya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan dalam kerajaan-Nya, karena ia mendasarkan dan mengokohkanya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” Bagian ini merupakan salah satu dari nubuat besar tentang Mesias dalam Perjanjian Lama , yang akan menggambarkan Kristus berada dalam lambang-lambang Allah. Ia akan menjadi “Bapa yang kekal” (ayat 5), bukan dalam arti menjadi Allah Bapa, pribadi pertama dalam Tritunggal, tetapi dalam pengertian bahwa Ia akan menjadi seperti seorang Bapa dalam pemerintahan-Nya atas Israel dan kerajaan seribu tahun. Damai sejahtera dalam masa itu ditandai dengan sebutan “Raja Damai” (ayat 5)

Seperti yang dijanjikan Allah kepada Daud, kerajaannya akan kekal untuk selama-lamanya. Allah akan tetap memerintah atas ciptaan-Nya sampai kekal. Nubuat itu mengatakan bahwa takhtanya adalah Tahta Daud (ayat 6). Dalam penggenapan Perjanjian Daud; dan ini menyatakan takhta itu seperti halnya dalam kerajaan Daud, akan berada di dunia, bukan di surga. Kerajaan ini ditandai dengan keadilan dan kebenaran (band 11:3-5). Kerajaan itu akan didirikan oleh kuasa Allah – “Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini” (9:6).

Nubuat-nubuat ini, jika ditafsirkan dalam makna harafiah yang biasa, menubuatkan penggenapan pengharapan akan adanya suatu kerajaan di dunia sesudah kedatangan Kristus yang kedua kalinya, sesuai dengan penafsiran premilillenialisme terhadap kitab suci. Dalam bagian ini tidak ada yang berkaitan dengan pemerintahan Kristus di dunia saat ini, seperti penafsiran amillenialisme. Dalam bagian ini seperti halnya bagian PL yang lain, kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua kalinya tidak dibedakan, dan anak yang lahir di Betlehem (ay, 5) dalam kedatangan-Nya yang pertama itu adalah pribadi yang sama yang digambarkan sebagai Raja yang kekal yang akan memerintah untuk selama-lamanya (ayat 6). Tema kerajaan Kristus yang akan datang di dunia adalah suatu pokok yang sudah dikenal dalam nubuat-nubuat Yesaya (11:4; 16:5; 28:5, 6, 17; 32:16; 42:1,3,4; 51:5).

Kerajaan Israel Masa Mendatang Yang Mulia

Yesaya 11:1-12:6. Yesaya menubuatkan bahwa Israel akan menikmati kerajaan yang mulia kelak. Sesudah memotong dahan-dahan Asyur (10:33,34), sekarang Allah akan membangkitkan “suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai” (11:1). Tunas ini yang akan tumbuh dari akar Isai, atau garis keturunan Daud “akan berbuah” (ayat 1). Ini digenapi dalam kelahiran Kristus pada waktu kedatangan-Nya yang pertama kali.

Bagaimanapun juga, bagian ini terutama sekali mengungkapkan posisi Kristus sebagai Raja dan Hakim pada saat kedatangan-Nya yang kedua kali kelak. Dinubuatkan bahwa Roh Kudus akan diam dalam Dia, dan Ia akan memiliki hikmat, kuasa dan pengetahuan (ayat 2). Penghakimannya akan dijalankan dengan adil (ayat 3, 4). Ia akan membunuh orang-orang fasik (ayat 4), dan pemerintahannya akan ditandai dengan “kebenaran dan kesetiaan” (ayat 5). Tentu saja bagian ini akan digenapi pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali dan tidak merujuk kepada pemerintahan Allah di dunia pada saat ini.

Pemerinthan Kristus sebagai Raja diatas kerajaan-Nya kelak akan ditandai dengan kedamaian dan kesejahteraan. Binatang-binatang tidak akan saling membunuh. “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring dismping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan mengiringnya (ayat 6). Kedamaian alam itu disimpulkan dalam ayat 9, tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk diseluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN seperti air laut yang menutupi dasarnya.” Jelaslah bahwa setiap penggenapan dari bagian ini menuntut satu adanya kerajaan seribu tahun sesudah kedatangan Kristus yang kefua kalinya bahkan secara tidak harafiahpun, hal ini tidak menggambarkan keadaan masa kini.

Pemulihan kembali bangsa Israel pada saat Kristus memerintah di dunia ini akan terjadi sesudah kedatangan-Nya yang kedua (ayat 10-16). “Taruk dan pangkal Isai,” yang merujuk kepada Kristus, adalah pribadi yng menjadi “kiblat” bagi bangsa-bangsa (ayat 10). Israel akan dikumpulkan kembali dari antara bangsa-bangsa tempat mereka tercerai berai (ayat 11,12). Permusuhan antara kerajaan Yehuda dengan kerajaan Israel akan hilang, dan antara Efraim dan Yehuda akan terjadi perdamaian. Mereka akan bersama-sama menghadapi musuh mereka yang lama (ayat 14). Untuk membantu penghimpunan kembli Israel itu, “TUHAN akan mengeringkan teluk Mesir” dan sungai Efrat tidak akan menjadi penghalang (ayat 15).

Karena kemenanganya yang luar biasa itu maka Israel akan memuji Tuhan (Yesaya 12:1-6) pemulihan yang mulia dari Israel dan sukacita mereka dalam kerajaan yang akan datang itu diantisipasi dalam Perjanjian Abraham (Kej 12:1-3; 15:18-21; 17:7, 8; 22:17, 18), dan Perjanjian Daud (2 Samuel 7:16) dan Perjanjian Yang Baru ( Yeremia 31:33, 34). Kemuliaan Kerajaan Seribu Tahun Israel yang akan datang itu bertolak belakang dengan nubuat mengenai kejatuhan babel dan Asyur (Yesaya 10:5-19; 13:1-22).

B. Sabda-sabda Yesaya terhadap Bangsa-bangsa 13-23

Mencantumkan sabda-sabda atau perkataan-perkataan Allah kepada bangsa-bangsa dalam kumpulan nubuat sering dilakukan. Kita dapat melihat contoh lain dalam Alkiab kita seperti dalam Amos 1-2, Yeremia 46-51, dan Yehezkiel 25-35. kita tidak memiliki banyak informasi dari Yesaya tentang bagaimana informasi mereka disampaikan kepada bangsa-bangsa yang bersangkutan.

Akan tetapi, suatu fakta telah pasti, Yesaya terlibat dalam penyampaian sabda-sabda ini, dan ia tidak memandang bangsa-bangsa itu dengan sikap yang dingin. Ratapan dan ketakutan mencengkeram dia, ketika dia merenungkan penghukuman yang ia sampaikan (15:5; 16:9;21:3-4;22:4). Diperkirakan bahwa sabda-sabda ini terbentang dari tahun 734 ke tahun 701 SM. Akan tetpi sabda-sabda ini berlaku untuk spektrum yang lebih luas, meluas sampai kemasa yang berkenaan dengan Mesias, kadangkala nabi berbicara untuk waktu atau masa yang masih jauh dan juga yang akan segera dan bahkan yang juga sedang terjadi. Jadi nubuatan tidak selalu digenapi secara seketika atau dengan cepat.

Berikut ini kita dapat melihat bagaimana sabda-sabda Yesaya terhadap bangsa-bangsa, antara lain:

Yesaya 13-14:27 Sabda Allah Terhadap Babel
Yesaya 14:28-32 Sabda Allah Terhadap Filistin
Yesaya 15-16 Sabda Allah Terhadap Moab
Yesaya 17-18 Sabda Allah Terhadap Damsyik dan Efraim/Etiopia
Yesaya 19-20 Sabda Allah Terhadap Gurun di Tepi Laut (Babel)
Yesaya 21:11-12 Sabda Allah Terhadap Edom
Yesaya 21:13-17 Sabda Allah Terhadap Arabia
Yesaya 22:1-14 Sabda Allah Terhadap Yerusalem
Yesaya 22:15-25 Sabda Allah Terhadap Sebna (lembah penglihatan)
Yesaya 23 Sabda Allah Terhadap Tirus dan Sidon

Berikut ini secara sekilas pandang kita akan melihat tentang sabda-sabda tersebut diatas, antara lain:

Hukuman terhadap Babel (Yesaya 13-14:23)

Dalam nats ini (13-14) Babel sangat menonjol. Meskipun untuk sebagian besar waktu negeri di Mesopotamia selatan ini berada dibawah kekuasaan Asyur selama masa hidup Yesaya, orang Kasdim di bawah pimpinan Marduk appal iddin (Merodak – baladan), memperoleh kekuatan di Babel selama tahun 721-710 dan secara singkat dalam tahun 703. Selama periode terakhir penguasaan tersebut, utusan-utusan mengunjungi Hizkia (Yesaya 39; II Raja-raja 20:12-21). Meskipun Babel pada masa Yesaya nyaris tidak dapat memenuhi syarat sebagai “keindahan permai diantara kerajaan,” tetapi politis Yesaya yang dikuasai oleh Roh Kudus dapat memahami kelangsungan hidup raksasa yang tidur ini. Ironisnya I menubuatkan kehancuran Babel oleh sekutunya Media (13:17-22). Mikha menyampaikan ironi yang sama ketika ia mengisyaratkan bahwa Yehuda akan pergi ke Babel dan ia akan diselamatkan dari sana, meskipun Asyur bukan Babel yang akan ditawan dalam abad kedelapan itu (Mika 4:10). Namun Media dan Persia di bawah Koresy Agung mrebut babel pada tahun 539 SM. Pentinglah bahwa Yahweh memerintahkan pasukan Babel (13:3), sama seperti ia telah memerintahkan Asyur untuk bertindak (7:18-20; 10:5-6). Nama-nama itu telah berubah, tetapi Allah Israel tidak berubah.

Raja Babel dalam fasal 14 dapat merupakan penjelmaan monarkhi itu. dalam bahasa yang menawan sang nabi melukiskan raja tiran itu turun ke Sheol sama seprti tirn yang lain (14:9-11), bahkan par penguasa Yerusalem (5:14) seorang raja yang berambisi untuk menentang Allah dibawa ketempat yang rendah di Sheol (14:13-20). Hal itu menimbulkan ketakjuban diantara para penghuni Sheol bahwa tiran di bumi akan begitu direndahkan derajtnya sampai kedunia orang mati. Ayat 12, tidak seperti Lukas 10:18 tidak menunjuk kepada kejatuhan iblis tetapi kepada kejtuhan raja babel.
Hukuman Terhadap Asyur (Yesaya 14:24-27)
Sama seperti Babel masa depan akan runtuh, demikian pula musuh Asyur yang sekarang ini akan jatuh. Orang Asyur tidak pernah sangat jauh dari pikiran Yesaya.

Hukuman Terhadap Filistin (Yesaya 14:28-32)
Mungkin sabda ilahi ini disampaikan pada awal pemerintahan Sargon, ketika raja Hamat dan Hanno, raja Filistin, bersatu dengan Damsyik dan apa yang tersisa dari Samaria serta membangkitkan perlawanan terhadap asyur. Tahun 716/715 mengantisipasi pemberontakan Asdod, sebuah kota di Filistin pada tahun 713 tanpak masuk akal, meskipun ada perbedaan-perbedaan pendapat tentng thun kematian Ahas.

Hukuman Terhadap Moab (Yesaya 15:1-16:14)
Dengan menggunakan bentuk waktu silam yang sempurna, untuk menggambarkan kejatuhan Moab, hati Yesaya terharu atas keadaan mereka (15:5; 16:11). Pasl-pasal ini sulit. Pertanyaannya adalah apakah sabda ilahi ini merupakan suatu ratapan sehingga diucapkan setelah kejadian tersebut atau suatu nubuat. Unsur nubuatan dapat diketahui dalam 15:9;16:2,12, yang menunjukkan prediksi sebenarnya.

Hukuman Terhadap Damsyik dan Efraim (Yesaya 17:1-14)
Sabda ilahi ini memberitahukan bahwa baik Damsyik mupun Efraim adalah korban dari penyerbuan Asyur.

Hukuman Terhadap Etiopia (Yesaya 18:1-7)
Meskipun disebut sebagai negeri yang …yang kedudukannya pada tepi sungai Kusy. Pada umumnya disetujui bahwa negeri itu adalah Kusy atau Etiopia sendiri. terletk disebelah selatan Mesir, utusan-utusannya telah datang ke Yerusalem untuk mengundang Yehuda bergabung dalam persekongkolan anti Asyur. Sapaan yang langsung “Pergilah hai utusan-utusan yang tangkas” ay 2, memberikan kesan bahwa sabda tersebut telah langsung diucapkan kepada utusan-utusan tersebut ketika mereka berkunjung.

Hukuman Kepada Mesir (Yesaya 19:1-25)
Bagian ini menggambarkan lain kunjungan Tuhan yang menakjubkan ke Mesir, kali ini dengan mengenderai awan, sehingga membuat negeri ini ketakutan. Sabd ilahi itu dibagi dalam empat bagian, ayat 1-4, 5-10, 11-15, dan 16-25. bagian kedua (ay, 5-10) menggambarkan dampak kunjungan YHWH dalam bentuk mengeringnya sungi Nill, suatu keadaan yang secara total menghancurkan Mesir.

Hukuman Kepada Etiopia dan Mesir (Yesaya 20:1-6)
Asdod mmberontak terhadap Asyur, serta mengundang tetangga-tetangganya untuk bergabung, dan pada tahun 711 Sargon mengirim Panglima tertingginya untuk memadamkan api pmberontakan. Yesaya melawan gbungan tersebut.

Hukuman Kepada Babel (Yesaya 21:1-10)
Sabda ini ditujukan kepada padang gurun di tepi laut. Mungkin diarahkan melawan Babel yang kejatuhannya diumumkan pada ayat 9. mungkin diucapkan pada saat ketika Yehuda mencari dukungan kepada Babel. Sabda ini brkenaan dengan kejatuhan kota itu pada tahun 539. perhatikan kegelisahan Yesaya (ayat 3-4), meskipun ia berbicara tentang suatu bangsa asing.
Hukuman terhadap Edom (Yesaya 21:11-12)
Dalam bahasa Ibrani kata Dumah dan Edom adalah memiliki arti yng sama dan kata ini menunjukkan kepada kesuyian. Pesan Yesaya kepada Edom adalah adalah berhubungan dengan kejatuhan Babel.

Hukuman terhadap Arabia (Yesaya 21:13-17)
Bangsa Dedan adalah tetangga Edom (bdk Yeh 25:13; Yer 49:8). Inti dri ucapan ilahi ini tampaknya merupakan peringatan agar rombongan kafila mnjauhi jalur-jalur padang gurun karena jalur-jalur tersebut menjadi tidak aman krena gerombolan musuh yng mermpok.

Hukuman Terhadap Yerusalem (Yesaya 22:1-25)
Kedu nubuat ini harus disusun secara bersma-sama karena sebna memegang posisi penting sebagai seorang panitra negara Yerusalem (2Raj 18:18; Yes 36:3) disebut “lembh penglihatan” kesembronon memenuhi kota ini membentuk suatu kontras dengan hati Yesaya yang gelisah (bandingkan ay 4 dan ay 12-13; bdk 15:5; 16:9; 21:2-3). Ucapan ilahi terhadap Sebna adalah satu-satunya caci maki yang disampikan Yesaya terhadap perorangan. Bahwa Sebna akan digulingkan dan kan digantikan oleh Elyakim.

Hukuman Terhadap Tirus (Yesaya 23:1-18)
Kota ini adalah kota yang terkenal dalam PL dan juga memiliki konotasi yang buruk, karena aktifitas komersialnya. Kota ini terletak di pantai fenesia. Kota ini memperdagangkan baran-barang pecah belah, khususnya keramik. Yesaya menamakan kota ini sebagai perempuan sundal (ay, 15-18), yang memiliki hubungan tidak halal dengan semua bangsa di dunia.

C. Yerusalem, Mesir dan seorang nabi diantara keduanya. 28-33

Menurut C. Hassell Bullock dalam buku Karangannya Kitab Nabi-Nabi Perjanjian Lama mengatakan bahwa fokus geografisdri nubuat-nubuat ini adalah Yerusalem dan Mesir. Mesir yang diperintah oleh seorang raja yang perkasa, Shabako (sekitar tahun 710/9 – 696/ 5), tanpaknya merupakan sumber pertolongan yang mungkin untuk melwn Asyur di sebelah Timur. Hubungan-hubungan diplomatis yang berkembang selama masa bagian ini dari pemerintahan Hzkia menolak untuk memberikan penghormatan ketaatan yang diminta oleh Raja yang baru (II Raja-raja 18:7), dn saluran diplomatis antara Yerusalem dan Mesir dibuka (30:1-7; 31:1-3). Yesaya bersikeras melawan hal itu:

Garis besr yang luas ini membagi teks itu kedalam 5 bagian utama, masing-masing dimulai dengan celakalah:

28:1 Celakalah Pemabuk-pemabuk Efraim
29:1 Celakalah Ariel
30:1 Celakalah yang memasuki suatu persekutuan dengan Mesir
31:1 Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan
33:1 Celakalah penggarong yang tidk di garong sendiri (Asyur)

Supaya nubuat-nubuat ini mudah dipahami maka kita seharusnya mulai membandingkan antara dosa-dosa Yehuda dengan dosa-dosa Samaria (28:1; 13). Perubahan topik sangat jelas dalam teks Ibrani (ayat 7), yang beralih dari Israel ke Yehuda dengan “Orang-orang yang disinipun.” Yesaya telah mempertaruhkan reputasinya dengan mengatakan hal-hal ini dan itu telah menyebabkan dia diejek oleh orang-orang senegaranya (ayat 9-10). Bagi mereka ia seolah-olah seorang guru yang sedang mengajar abjad kepada anak-anak. Amanatnya Yesaya dalam hal ini adalah tentang penghukuman.

Yesaya menyapa Yerusalem sebagai Ariel dalam 29:1, Yesaya meramalkan bahwa kota itu akan hancur mnjadi debu. Tetapi musuhnya tidk perlu berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan karena mereka akan lenyap seperti sebuah mimpi dimalam hari (ayat 7-8).

Desakan Yesaya untuk bernubuat tidak terbatas pada penyampaian secara lisan. Ia diharuskan seperti dalam 8:16 untuk menuliskan perkataannya sebagai suatu kesaksian terhadap generasinya (30:8).

Setelah tuduhanya tentang diplomasi dengan Mesir dalam fasal 30 dan 31, Nabi Yesaya berbalik dari Masyarakat yang ia kasihi, tetapi yng mengakibatkan ia sakit hati dan menggambarkan sisi lain dari tatanan sosial, seorang dan para pemerintaha yang memerinth dengan keadilan (32:1-8). Hal ini telh diterapkan pada Hizkia, tetapi penerapan tersebut tidak secara keseluruhan. Ada nada yang bekenaan dengan Mesias disini, seperti dalam 11:1-5. interupsi tema dalam 32:9-14 yang menjatuhkan hukuman kepada kaum wanita melmbangkan hidup senang dan kepercayaan diri yang palsu bergerak dengan lancar kebagian ayat 15-20 yang melanjutkan tema keadilan dan kebenaran seperti yang dibagian pertama bab ini. Amos telah menggunkan bahasa yang sama untuk menuduh para pemimpin Samaria (Amos 6:1)

Penutup dalam bagian ini menjelaskan bagaimana Yahweh dimuliakan dihadapan musuh yang tidk disebutkan namanya (kemungkinan besar Asyur 33:1-13), menjelaskan orang benar yang dapat bertahan pada hari penghukuman (ayat 14-16) dan berakhir dengan sebuah sketsa tentang zaman baru ketika Kristus akan memerintah sebagai Raja (ayat 17-24)

D. Rangkuman Eskatologi 34-35

Fasal 34 ini dimulai dengan suatu tema tentang hari pembalasan, ini terlihat dalam Yesaya 34:1-15. dan selanjutnya dijelaskan bahwa mereka yang mengikuti Tuhan akan diberkati (ayat 16,17) hal ini akan digenapi dalam kedatangan kembali Kristus (Why 16:18-21).

Jadi fasal 34, Yesaya menggambarkan penghukuman dunia (ayat 1-4), kehancuran Edom (ayat 5-15) dan Firman Tuhan yang menyetujuinya (ayat 16-17), sementara fasal 35 menyajikan memberitahukan bahwa mereka yang telah ditebus dari musuh-musuh mereka diberkati Tuhan dalam kerajaan seribu tahun yang akan datang (ayat 1 dan 2).waktu itu akan menjadi suatu saat kesukaan besar, ketika padang gurun akan bersorak-sorak dan berbunga. Pada waktu itu Allah akan daang dan membawa pembalasan atas orang-orang jahat tetapi membawa pelepasan dari orang benar (ayat 4) berkat yang melimpah ruah dan kerajaan seribu tahun digambarkan dalam ayat 5-7. pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang tuli akan mendengar, orang lumpuh akan melompat dan mulut orang bisu akan bersorak sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air; ditempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan. Akan ada jalan raya intrnasional yang akan menembus ke Israel (ayat 8 – 10).

E. Lampiran Sejarah (36-39)

Tiga kejadian tercatat, yang memusatkan perhtian pada hubungan antara Raja Hizkia dan Yesaya: (1) usaha Sanherib yang gagal untuk merebut Yerusalem (pasal 36-37); (2) sakitnya dan membaiknya kembali Hizkia (pasal 380; (3) utusan Babel dari Merodak Baladan dan perkiraan tentang pembuangan di Babel (psl 39). II Raja-raja 18:13-20:19 adalah catatan yang paralel. Secara kronologis kejadian-kejadian ini tercatat dalam susunan yang terbalik, karena invasi Sanherib terjadi pda tahun 701 dn sakitnya Hizkia sekitar 704, dengan utusan diplomatik Babel kembali selama sembilan bulan.

Hubungan dengan II Raja-raja 18:13-20:19. pendapat umum para ahli saat ini adalah bhwa kitab II Raja-raja priopritas kepengarangan. Diyakini bahwa Yesaya tidak hidup ketika Sanherib di bunuh pada tahun 681 (37:37-38). John Walton mengatakan bahwa kitab Raja-raja mengambil materi dari Yesaya, dan urutan yang terbalik merupakan rancangan nabi untuk mendahului bagian tentang Babel sebelum fasal 40-66, yang menutup dengan nubuatan tentng pembuangan di Babel (39:5-8) dengan demikian nabi dengan tepat menghubungkan periode Asyur dan Babel yang menyita pehatiannya.

F. Yesaya 40-66.

I. Psl 40-48 Pembebasan dari Pembuangan

Inti utama Yesaya fasal 40-48, adalah berbicara tentang pembebasan dari pembuangan. Yesaya 40: 1-31 nabi berbicara tentang penghiburan untuk umat Allah. Nabi mengatakan bahwa waktu cobaan merek kan segera berakhir, dan mereka telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya (ayat 2) yang menyiratkan adanya pengampunan. Satu nubuat yang berkenaan dengan suara yang mendahului kedatangan Mesias diungkapkan, ada suara yang bersru-seru: “persiapkanlah di padang gurun jalan untuk Tuhan, luruskanlah dipadang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit dirtakan; tanah yang berbukit-bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjdi dataran; maka kemulian Tuhan akan dinytakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh Tuhan sendiri mengatakannya” (ayat 3-5).

Keempat Injil mengutip bagian dengan menerapkannya kepada Yohanes pembaptis yang mendahului kedatangan Kristus (Matius 3:1-4; Markus 1:1-4; Lukas 1:76-79; Yohanes 1:23). Dalam bagian ini seluruh bangsa Israel digambarkan sebagai sedang berada di padang gurun (Yesaya 40:3), namun mengantisipasi kelepasan yang datang dari Allah yang mulia itu. Meratakan tanah adalah adalah suatu cara untuk mempersiapkan jalan untuk kedatangan raja, dan bagian ini mengantisipasi kerajaan seribu tahun . “maka kemuliaan Tuhan akan dinyatakan” (ayat 5).

Sebuah suara lain memperingatkan Israel, “Berserulah!” Jawabku, “Apakah yang harus kuserukan?” (ayat 6). Jawaban atas pertanyaan ini adalah kenyataan bahwa sifat manusia sekarang ini adalah seperti rumput di padang (ayat 6-8). Sebagai kebalikan dari karakter Allah, “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu.” Sebaliknya “Firman Allah tetap untuk selama-lamanya” (ayat 8)

Mereka yang membawa berita ke Sion diperintahkan untuk mengeraskan suaranya dan menyatakan tujuan Allah untuk pemulihan kembali itu (ayat 9-11). Tuhan akan datang dengan pahala-Nya, yang akan digenapi dalam kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Kuasa Allah dalam penciptaan digambarkan dalam ayat 12-14. sebaliknya secara pribadi manusia tidak memadai bila dibandingkan dengan kuasa Allah. Allah digambarkan sebagai bertahta, dan manusia digambarkan sebagai belalang (ayat 21-24). Kebesaran Allah dibandingkan dengan langit yang bertaburan bintang (ayat 2, 26). Allah tidak pernah letih dan Ia memberikan kekuatan kepada mereka yang menaruh percayanya di dalam Dia (ayat 28-31).

Kemudian setelah dalam fasal 40 nabi telah memberikan penghiburan kepada umat itu, selanjutnya dia memberitahukan kuasa Tuhan Allah dalam membebaskan umat itu. Hal itu dapat kita lihat dalam fasal 41. dalam fasal ini kita dapat melihat bagaimana kuasa Allah dibandingkan dengan keterbatasan manusia dan alam. Secara khusus hal tersebut dapat kita lihat dalam ayat 1-4 dan kemudian dalam ayat 5-7 kita melihat bahwa berhala tidak dapat menyelamatkan seperti Allah yang Maha Kuasa. Allah mampu menuntun Israel dan memandang mereka sebagai hamba-hamba-Nya (ayat 8-10). Akhir penghancuran dari musuh-musuh Allah itu digambarkan (ayat 11-16). Allah dapat memuaskan kehausan orang-orang yang sengsara dan miskin (ayat 17-20). Dibicarakan juga keterbatasan untuk manusia (ayat 21-24) dan ketidak memadaian manusia dibandingkan dengan kemahakuasaan Allah (ayat 25-29).

Kemudian Yesaya 42 secara khusus ayat 1-13 Yesaya mengutarakan Wahyu mengenai Hamba Tuhan. Bagian ini menggambarkan Kristus sendiri. “Lihat, itu hamba-Ku yang kupegang, orang pilihanku yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku keatas-Nya supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa, Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya dijalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan dipatahkannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dabn tidak akan patah terkulai, sampai Ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya” (ayat 1-4; bandingkan dengan sebagian kutipan dari bagian ini dalam di dalam Matius 12:18-21). Inilah pengungkapan pertama dari Kristus sebagai “Hamba” dalam kontras dengan Israel sebagai hamba Allah (Yesaya 41:8;42:19; 43:10; 11:1, 2, 21; 45:2; 48:20). “Hamba” dalam bagian ini tidak lain adalah Kristus sendiri, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa ini adalah referensi mengenai Israel. Ini adalah nyanyian pertama dari empat nyanyian yang menyajikan Hamba itu sebagai Kristus (42:1-9; 49:1-13; 50:4-11; 52:13-53:12).

Israel adalah hamba yang buta, kebalikan dari Kristus sebagai pribadi yang akan membawa keadilan dan pemulihan kepada dunia (42:29). Allah sebagai pencipta adalah Dia yang memberi hidup kepada umat-Nya (ayat 5). Allah berjanji akan memegang tangan Israel, dan membuat mereka menjadi terang untuk bangsa-bangsa (ayat 6). Kenyataan bahwa Kristus akan menjadi terang bagi orang bukan Yahudi (ayat 16) disinggung dalam Lukas 1:79. Allah tidak hanya menyelamatkan bangsa itu sebagai satu keseluruhan, tetapi akan memelekkan mata orang yang buta secara pribadi dan membebaskan tawanan-tawanan dosa. Dalam memenuhi hal ini, dalam Yesaya dicatat suara pujian kepada Tuhan dan digambarkan kemenangan akhir dari Tuhan (ayat 10-13). Hal ini akan digenapi pada kedatangan Kristus yang kedua kali.

Yesaya 42:14-25 menubuatkan hukuman Allah kepada dunia atas dosa-dosanya (ayat 14-17). Mereka yang menyembah berhala akan dipermalukan (ayat 17), dan mereka yang tuli dan buta terhadap Firman Allah harus membayar untuk dosa-dosa mereka karena mereka tidak menaruh perhatian kepada Firman Allah (ayat 23). Tuhan menyatakan bahwa ia sendiri akan menyerahkan Yakub (Israel) kepada musuh-musuhnya untuk dirampas (ayat 23-25). Meskipun ia telah didisiplin oleh Allah namun mereka tidak akan mengerti dan tidak berbalik kepada Tuhan. Untuk membawa Israel kembali kepada Tuhan, Allah mengutus hamba-Nya (ayat 1-4) dan Allah akan memperlakukannya dengan belas kasihan. Ini akan digenapi dalam kerajaan seribu tahun. (Yehezkiel 20:33-38)

Baru setelah fasal 43 semakin jelas bahwa Allah akan memulihkan Israel. Ayat 1-28 fasal ini memberitahukan bahwa Allah yang telah menciptakan Israel akan menyertainya dengan kaih, baik wktu berjalan berjalan melalui sungai maupun api (ay 1, 2). Tujuan akhir Allah ialah untuk membawa Israel kembali ketanah suci dari keterserakannya di seluruh bumi (ayat 3-7). Ini sebagian digenapi dengan kembalinya para tawanan dan menunggu digenapi secara tuntas pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya (Yeh 39:26-28). Dalam memulihkan Israel menjadi kesaksian atas keilahian dn kuasa-Nya (Yesaya 43:8-13)

Dalam waktu dekat Allah akan membebaskan mereka dari Babel (ayat 14-21). Walaupun Allah begitu baik kepada mereka, namun mereka tidak menanggapinya (ayat 22-24). Allah mengingatkannya atau menghukumnya atas dosa-dosanya (ayat 25-28). Nubuat ini akan digenapi dalam kerajaan seribu tahun.

Selanjutnya dalam fasal 44: 1-23. sekali lagi Allah menyatakan maksud-Nya untuk menbus Israel, untuk memulihkannya seperti “mencurahkan air ke atas tanah yang haus” (ayat 3). Allah akan mencurahkan Roh-Nya kepadanya sehingga Israel akan mengakui bahwa Ia adalah milik Tuhan (ayat 5). Israel diingatkan bahwa berhala tidak dapat menyelamatkan mereka dan hanya Allahlah yang dapat menolongnya (ayat 6-23). Nubuat ini akan digenapi pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Lebih lanjut kita melihat Yesaya 44:24-28, Yesaya menubuatkan tentang Yerusalem yang akan dihuni lagi, reruntuhannya akan dibangun kembali, dn bahwa Koresy akan di beri wewenang untuk membngun kembali Bait Allah sesudah penawanan. Nubuat Yesaya ini ditulis 150 tahun sebelum penggenapannya Koresh raja Media Persia yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun 539 SM, pada tahun-tahun berikutnya memberi izin kepada orang Yahudi untuk kembali ketanah air mereka dan membangun Bait Allah.

Yesaya 45:1-13, sekali lagi Koresh disebut-sebut sebagai orang yang akan mengalahkan segala sesuatu yang ada dihadapanya. Dalam melakukan hal itu Tuhan akan mengumumkannya keseluruh dunia. Referensi selanjutnya untuk Koresh adalah, “Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kota-Ku dan yang akan melepaskan orang-orang-Ku yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap, “Firman Tuhan semesta alam” (ayat 13).

Kemudian Yesaya 45:14-25. Adalah nubuat yang tidak mungkin mengacu kepada Koresh. Ayat-ayat ini merupakan nubuatan tentang kedatangan Tuhan dalam kerajaan seribu tahun. Sesuai dengan hal itu secara keseluruhan hal itu, nubuat dalam bagian ini secara keseluruhan menunggu penggenapanya kelak.

Yesaya 46:1-13. Memberitahukan bahwa Bel, salah satu dewa Babel, digambarkan sudah ditundukkan, dan Nebo, dewa yang lain, “sudah rebah” (ayat 1). Penduduk Babel mengarak dewa-dewa ini dalam festival kemenangan mereka, tetapi sebaliknya, Allah menggendong Israel (ayat 3,4). Israel didesak untuk mengingt kembali Allah sebagai Dia “yang memberitahukan dri mulanya hal yang demikian dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana” (ayat 8-10), yang tujuan-Nya akan digenapi (ayat 10). Allah akan membawa keselamatan kepada Israel (ayat 11-13).

Lebih lanjut dalam Yesaya 47:1-15. Penghancuran Babel, “anak dara, Putri babel” dinubuatkan (ayat 1). Babel dibandingkan dengan seorang perempuan, diperbudak, dan menggiling tepung dengan batu kilangan (ayat 2-4). Penghakiman Allah atas babel digambarkan dengan jelas (ayat 5-15). Para ahli bintang mereka tidk mampu menyelamatkannya (ayat 11-13).

Yesaya 48:1-22. Israel tidak mengakui Allah dan akan membtalkan sumpah yang sudah diberikan kepada Dia (ay 1-6). Allah berjanji akan memulihkan Israel (ay 7-11). Sekali lagi Allah meminta Israel untuk mengingat betapa lebih besarnya Dia daripada semua berhala dan menubuatkan bahwa Allah akan menggenapi maksudnya ( ay 12-15). Ketika menasehati dia untuk meninggalkan Babel dan kembali ketanah Perjanjian, Allah mengingatkannya tentang segala sesuatu yang telah dilakukan-Nya, tetapi menubuatkan bahwa jika Israel tidak mengikuti Dia, mereka tidak akan menemukan damai sejahtera (ayat 16-22). Nubuat ini digenapi dalam sejarah.

II. Berita tentang Hamba Tuhan dan tentang penaklukan Koresy atas Babel (fasal 49-57)

Sebenarnya secara umum tema dari Yesaya 49-57 Ialah Hamba Tuhan yang menjadi pembela dan penyelamat Israel. Dalam fasal-fasal ini dalam beberapa kasus hamba itu merujuk kepada Israel sendiri, tetapi dalam beberapa kasus yang lin merujuk kepada Kristus Yesus sebagai Hamba Tuhan yang akan menjdi pembebas Israel.

Yesaya 49:1-7. Hamba itu digambarkan dipanggil oleh Tuhan sebelum ia dilahirkn (ayat 1). Pelayanan hamba itu ialah untuk membawa kembali bangsa Israel kepada Allah (ayat 5, 6) dalam nubuat mengenai keselamatan yang nanti akan dibawa oleh Hamba itu, Ia juga dinyatakan, “Menjadi terang bagi bangsa-bangsa” (ayat 6), yang dirujuk dalam Lukas 1:79; 2:32; bandingkan dengan Yesaya 42:6. meskipun Dia “dihinakan orang” dan “dijijikkan bangsa-bangsa” dalam kedatangan-Nya yang pertama (49:7), Israel akan dibawa kembali kepada Allah dalam masa seribu tahun.

Yesaya 49:8-13. Ada juga nubuat bahwa hamba itu akan menang dalam menggenapi Perjanjian Allah dengan umat-Nya (ayat 8; Yer 31:31-34). Israel akan datang dari segala penjuru untuk dipulihkan dalam tanah Perjanjian (Yesaya 4:12)

Yesaya 49:14-26. walaupun ada nubuat-nubuat ini Israel masih merasa bahwa ia ditinggalkan (ay 14). Tetapi Allah memberi jaminan bahwa mereka tidak dilupakan oleh-Nya (ay 15-18). Meskipun Israel kembali dari pembuangan sebagai bangsa yang kecil, namun pada waktu dikumpulkan kembali oleh Kristus dalam kedatangannya yang kedua kalinya Israel akan menjadi suatu bangsa yang besar (ay 19-21). Kemudian tanahnya akan menjadi terlalu sempit untuk mereka (ayat 20). Bagaimanapun juga kembalinya anak-anak Israel dari pembuangan itu menggambarkan pengumpulan terakhir bangsa itu secara menyeluruh, sebagai peristiwa yang akan terjadi kelak (ayat 20). Kemenangan Israel akan diakui oleh bangsa-bangsa bukan Yahudi (ayat 22-24). Dalam proses pembebasannya dan hukuman Allah atas para penindasnya, Allah akan menyatakan diri-Nya sebagai “penebusmu, Yang Maha Kuat, Allah Yakub” (ayat 26).

Kemudian Yesaya 50:1-11 adalah menggambarkan ketaatan hamba itu dan kerendahhatian-Nya. dalam fasal ini, Allah menggambarkan diri-Nya sendiri sebagai seorang suami yang untuk sementara waktu menceraikan istrinya karena dosa (ayat 1). Israel dikatakan sebagai orang yang terjual dan diperbudak. Yang berbicara itu adalah Hamba Tuhan. Kuasa Allah begitu besar sehingga ia dapat menebus mereka dari setiap situasi (ayat 2). Penyerahan diri Hamba itu kepada kehendak Allah akan membuat Dia ditolak dan diolok-olok oleh Israel (ayat 6; band Mat 27:28-30; Mark 14:65; 15:19, 20; Luk 22:63). Mereka yang ingin mengikuti Hamba Tuhan dalam menaati Allah haruslah percaya kepada Tuhan dan bukanlah kepada terangnya sendiri (Yesaya 50:10-11). Nubuat ini digenapi dalam kedatangan Kristus yang pertama kalinya.

Yesaya 51:1-23. Israel di dorong untuk memandang kepada Abraham dan Sarah, dan kepada Tuhan sebagai pribadi yang menggenapi janji-janji berkat-Nya. gambaran situasi itu berkaitan dengan kerajaan seribu tahun, dimana akan terjadi sukacita dan kebenaran secara universal (ayat 3-5). Keselamatan Allah itu akan kekal (ayat 6). Allah ditinggikan sebagai Dia yang akan mampu membawa tawanan-tawanan itu kembali ke Sion (ayat 11). Allah yang adalah penciptannya akan menghiburkan Israel (ayat 12-15). Cawan murka Allah yang diminum oleh Israel akan diberikan kepada para penindasnya (ayat 17-23).

Lebih lanjut Yesaya 52:1-6 memberitahukan bahwa sekalipun Allah telah menyelesaikn persoalan ini dengan cara ini, Israel didorong untuk mengharapkan pemulihan dari Allah. Pada saat dipulihkan Israel akan mengetahui bahw Tuhanlah yang mengerjakan hal itu. Ini akan digenapi dalam masa seribu tahun.

Yesaya 52:7-12 adalah gambaran yang sangat jelas mengenai masa pemulihan Israel sesudah penawanan dan bayangan bumi dalam masa seribu tahun dengan Yerusalem sebagai ibukotanya (ayat 8-10). Hal ini dilakukan agar dilihat oleh semua bangsa.

Yesaya 52:13 – 53:12. Dalam pelayananya Hamba Tuhan itu akan menderita (52:13), suatu nubuat tentang penderitaan Kristus dalam hubunganya dengan penyaliban-Nya. bagaimanapun juga akibatnya ialah bahwa berkat-berkatnya itu akan dilimpahkan kepada banyak bangsa (ayat 15 bandingkan dengan Roma 15:21).

Nubuat besar dalam Yesaya 53 adalah menggambarkan kematian Kristus. Bagian dari Yesaya ini dikutip dalam Perjanjian Baru. Penolakan Israel atas Dia digambarkan (ay; 1; band Yohanes 12:38 dan Roma 10:16). Ia tidak mempunyai keelokan diluar dan Dia tidak tanpan dan tidak diingini orang (Yes 53:2,3). Mereka di Israel yang memahami bahwa Kristus telah mati untuk mereka akan mengetahui bahwa Dia menanggung penyakit dan kelemahan mereka (ayat 4-6, bandingkan dengan Matius 8:17). Hamba itu menanggung pelanggaran-pelanggaran Israel. Kebenaran ini disimpulkan dalam Yesaya 53:6, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalanya sendiri-sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian.” Hamba itu dibandingkan dengan seekor anak domba yang dibawa ke pembantaian. Kuburnya berada bersama-sama orang berdosa bersama-sama orang berdosa, tetapi juga dengan orang kaya (Yesaya 53:9; 1Petrus 2:22). Hamba itu mati dalam kehendak Allah karena hidupnya digunakan sebagai persembahan korban karena dosa (Yesaya 53:10). Nubuat ini digenapi dalam kematian Kristus dengan berkat yang akan digenapi dalam masa seribu tahun (Markus 15:5, 4, 27, 28; Lukas 23:1-25; Yoh 1:29; 11:49-52; Kis 8:28-35; 10:43; 13:38,39) ; 1Kor 15:35; Ef 1:7; 1Pet 2:21-25; 1 Yoh 1:7-9).

Keturunan rohaninya akan timbul dari kematian dan kebangkitan-Nya (Yesaya 53:10). Kemenangan akhirnya atas orang-orang fasik digambarkan dalam ayat 11, 12 (band Lukas 22:30).

Kemudian Yesaya 54:1-17, dalam bahasa yang jelas, kemuliaan Israel dan Yerusalem yang akan datang digambarkan disini. Ia dibandingkan dengan seorang perempuan yang mandul, yang bagaimanapun mempunyai banyak anak (ayat 1). Ia disuruh untuk berkembang dan menetap di berbagai kota karena keturunanya akan bertambah banyak. Alah menggambarkan dirinya sendiri sebagai Suami (ayat 5). Meskipun Israel ditinggalkan untuk sementra waktu, Alah berjanji untuk menggenapi perjanjian-Nya yang kekal, dan melimpahi Dia dengan kebaikan dan belas kasihan yang kekal (ayat 7, 8). Perlakuannya atas Israel akan seperti perlakuannya atas Nuh, dan kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang” (ayat 9, 10). Kenyataan bahwa Allah tidak perlu menghukum Israel lagi (ayat 9) menggambarkan Dia dalam Kerajaan seribu tahun.

Yerusalem akan dibangun kembali dengan batu-batu yang berharga (ay 11, 12), yang serupa dengan gambaran Yerusalem bru dalam wahyu 21-22. akan tetapi referensinya ialah pada kota Yerusalem dalam masa kerajaan seribu tahun, dan bukanya dalam masa kekekalan (Yes 54:11, 12). Dalam ayat-ayat penutup fasal ini Israel dinyatakan merdeka dari tirani dan teror, dan Allah sendiri akan menjadi pembelanya melwan setiap serangan (ayat 14-17).

Kemudian Yesaya 55: 1-13. disini diungkapkan undangan bagi semua orang yang haus dan tidak punya uang untuk datang dan menikmati anggur serta susu tanpa harus membayar (ayat 1, 2). Allah akan membuat satu perjanjian kekal dengan Israel seperti yang dilakukan-Nya dengan Daud (ayat 3). Dalam penekanan undangan ini Allah mengingatkan Israel bahwa ia harus mendengarkan dan mencari Tuhan sementara dapat ditemukan. Ayat-ayat penutup dari fasal ini terus menggambarkan kemuliaan pemeliharaan Allah dalam alam, demikian juga pernyataan dari firman-Nya yang tidak akan kembali dengan sia-sia (ayat 8-11). Nubuat ini menjanjikan bahwa Israel akan memiliki sukacita besar dalam kerajaan yang akan datang. Segenap alam akan ikut serta bersukacita atas berkat Allah (ayat 12, 13).

Semua berkat yang digambarkan dalam fasal ini berkaitan dengan ayat 3, “yang hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang kujanjikan kepada Daud.” Seperti janji-janji Daud dan janji-janji tentang kerajaan-Nya yang kekal dan pasti digenapi, demikian pula disini dinubuatkan pengharapan Israel atas pemulihannya dan sukacita dalam masa seribu tahun yang akan datang.

Yesaya 56: 1-8. Allah berjanji untuk memasukkan orang-orang bukan Yahudi kedalam golongan yang diberkati, yaitu memelihara hari sabat-Nya dan mengasihi serta melayani Tuhan korban-korban persembahan mereka akan diterima dan mereka akan memiliki sukacita dalam rumah doa (ayat 7). Pernyataan yang mengatakan bahwa “rumahKu akan disebut rumah doa” (ayat 7) dikutip oleh Kristus sebagai teguran atas pelecehan Israel atas Bait Allah (Mat 21:13). Ini akan digenapi dalam kerajaan seribu tahun. Yesaya 56 ditutup dengan satu tuduhan yang keras kepada orang-orang fasik dalam kontras dengan berkat-berkat yang diungkapkan bagi mereka yng melayani Tuhan.

Yesaya 57 merupakan janji yang menghibur bagi mereka yang kembali kepada Tuhan. Tetapi harus diingat bahwa sekalipun Tuhan akan mendatang damai sejahtera kepada orang-orang yang benar itu, tetapi orang fasik tidak akan mengalami damai sejahtera (ayat 14-21).

III. Psl 58-66 Pemulihan Sion

Dimulai dengan Yesaya 58, dimana Yesaya menyerukan pertobatan atau perubahan hati supaya umat itu diberkati dan dipulihkan. Tuhan menasihatkan mereka untuk melakukan puasa dengan benar, dan untuk melakukan kebajikan, misalnya membuka belenggu-belenggu kelaliman (ayat 6), membagi makanan bagi orang yang lapar (ayat 7), dan pakaian bagi yang telanjang. Apabila mereka berseru kepada Tuhan dan melayani Dia dengn cara yang benar maka Allah akan mendengar dan menolong mereka (ay 7-10). Janji ini dibaharui bahwa Allah akan memimpin mereka (ay 11) dan bahwa mereka akan dibangun kembali dari reruntuhan-reruntuhan pada zaman dulu (ayat 12). Berkat khusus diungkapkan atas mereka yang tidak melanggar hari sabat dan yng mencari sukacita mereka dalam Tuhan (ayat 13, 14). Ini akan digenapi dalam Kerajaan seribu tahun.

Lebih lanjut kita melihat Yesaya 59:1-21 adalah merupakan penggambaran yang jelas atas dosa-dosa Israel dan dalam nats ini Yesaya menyerukan pertobatan dan pemulihan. Allah menyatakan bahwa dosa-dosanya telah memisahkan Dia dari Allah (ayat 1-4). Pemberontakannya (ayat 6), dan ketidak adilannya (8-14) menuntut jawaban ilahi kepada Israel sebagaimana halnya kepada musih-musuh-Nya (ayat 18). Penebus itu akan datang untuk Sion kepada mereka yang bertobat dari dosa-dosa mereka (ayat 20). Allah berjanji bahwa Roh-Nya akan berbicara melalui mereka selama-lamanya (ayat 21). Ini sudah digenapi dalam kedatangan Kristus yang pertama.

Yesaya 60:1-22 berbicara mengenai penebusan Allah yang akan datang atas Israel akan membawa satu masa depan yang mulia. Kemuliaan itu akan datang dari Allah sendiri dan bangsa-bangsa akan menanggapi dan akan datang kepada terang itu (ayat 1-3). Kekayaan dunia akan mengalir kepada mereka (ayat 4-7). Kawanan unta akan menutupi tanah itu (ayat 6), dan persembahan yang brlimpah-limpah akan dipersembahkan diatas Mezbah (ayat 7). Nubuat-nubuat ini akan digenapi dalam kerajaan seribu tahun yang akan datang. Pada waktu itu kapal-kapal dari Tarsis akan datang membawa emas untuk memuliakan Tuhan.

Kemuliaan Yerusalem akan melebihi segala sesuatu yang sudah berlalu (ayat 10-12). “orang-orang asing akan membangun tembokmu, dan raja-raja mereka akan melayani engkau” (ayat 10). Kekayaan bangsa-bangsa akan datang kepada mereka (ayat 11). Kemuliaan Israel akan datang dan harta kekayaannya akan meliputi musuh-musuhnya yang akan tunduk kepada mereka (ayat 13, 14).

Berkat-berkat akhir mereka dan pemeliharaan Allah yang begitu indah kepada mereka digambarkan secara rinci (ayat 15-22). Mereka akan mempunyai emas, dan bukan tembaga (ayat 17). Tidak akan ada lagi kabar tentang perbuatan kekerasan di negerimu, tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerahmu (ayat 18). Nubuat ini mengantisipasi keadaan kekal ketika dinubuatkan: “bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi Tuhan akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu” (ayat 19, band Wahyu 21:23; 22:25)

Yesaya 61: 1-11. Hamba Allah yaitu Kristus sendiri, akan memiliki pengurapan Roh Kudus. “Roh Tuhan Allah ada padaku oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang yang sengsara dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pmbebasan kepada tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat TUHAN” (ayat 1, 2). Pengurapannya seperti pengurapan Saul dan Daud, akan memisahkan Dia sebagai Raja, karena sebutan Kristus mempunyai arti “diurapi” (band Matius 3:16,17). Dalam Lukas 4:18,19 Kristus mengutip Yesaya 61:1, dan sebagian dari ayat 2 dalam hubungannya dengan diri-Nya sendiri, secara signifikan ia berhenti mengutip sebelum menyebutkan, “hari pembalasan Allah kita !” (ayat 2). Ayat-ayat sebelumnya akan selaras dengan kedatangan-Nya yang pertama, tetapi hari-hari pembalasan itu mengacu kepada kedatangan-Nya yang kedua. Dengan ini Kristus menekankan perbedaan antra kedua peristiwa itu dan penggenapan nubuat mreka.

Seperti halnya dengan bagian-bagian kerajaan seribu tahun yang lain, pembangunan kembali kota-kota di Israel dinubuatkan (ayat 4-6). Tidak hanya tempat-tempat secara fisik yang akan dipulihkan sebgai suatu bangsa, dan orang-orang asing akan melayani sebagai hamba-hamba mereka. Israel sendiri akan hidup sebagai “imam Tuhan” (ay 6)

Kekayaan ini mencakup kenyataan bahwa Israel akan diampuni dari dosa-dosanya dan akan mendapat bagian ganda dari warisan dan sukacita yang kekal. Kepada bangsa-bangsa kemakmuranya akan menjadi tanda dari berkat Tuhan. nabi itu sendiri menggambarkan sukacitanya dalam Tuhan, dan luar biasanya berkat yang akan dicurahkan Allah atas mereka (ayat 10, 11). Terutama sekali nubuat-nubuat ini akan digenapi dalam masa seribu tahun.

Selanjutnya dalam Yesaya 62:1-12 adalah gambaran nubuat indah yang lain mengenai kerajaan yang akan datang diungkapkan sebagai sesuatu yang mengikuti kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Pada saat itu keselamatannya akan nyata kepada semua orang (ayat 1). Bangsa-bangsa di sekeliling Israel akan mengamati kebenaran dan kemuliannya (ayat 2). Israel dibandingkan dengan Mahkota atau serban (ayat 3). Meskipun ia pernah digmbarkan sebagai yang tersingkir, sekarang ia dipanggil “Hephzibah” yang berarti “yang berkenan kepada-Ku” dan negerinya, “Beulah” yang berarti, “yang bersuami,” “sebab Tuhan telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami” (ay 4). Pemulihannya digambarkan sebagai suatu pernikahan yang penuh sukacita.

Israel tidak akan pernah menyerahkan anggur baru atau hasil panenya kepada orang asing (ayat 6-9). Israel ditantang untuk menyiapkan jalan bagi Raja (ayat 10, 11). Bangsa Israel sendiri akan digambarkan sebagai bangsa kudus (ayat 12).

Yesaya 63:1-64:12. Tuhan akan datang sebagai pemenang yang berkemenangan yang datang dari Edom dengan baju yang berwarna merah. Ini menubuatkan akan datangnya hari penghukuman atas Edom (63:1), satu bangsa yang sering memusuhi Israel dan terletak disebelah tenggara Israel. Bagian ini menggambarkan Kristus sedang mengirik di pemerasan anggur dari hukuman Allah dengan darah yang memercik di jubah-Nya (ayat 2, 3). Hal itu akan menjadi hari pembalasan (ayat 4). Kedatangan Kristus akan terjadi hari penyelamatan dan pemulihan bagi Israel, tetapi hal itu akan menjadi penghukuman bagi mereka yang tidak benar di hadapan Tuhan (ayat 3-6). Berkat-berkat Israel pada waktu yang lalu dikontraskn dengan kemuliaannya yang akan datang. Lalu Israel akan mengingat bagaimana Tuhan memberkatinya pada masa Musa (ayat 7-14) walaupun Israel memberontak melawan Allah. Israel memohon Allah untuk menghakimi orang fasik yang melawan dia, walaupun ia sendiri menyadari dosa-dosanya (64:1-7). Israel menyesalkan penghancurannya oleh musuh-musuhnya, penghancuran Yerusalem, dan penghancuran Bait Allah dengan api (ayt 8-11).

Yesaya 65:1-16. sesudah dosa-dosa Israel disebutkan satu demi satu (ayat 1-7), Allah menubuatkan berkat-berkatNya yang akan datang (ayat 10). Sebaliknya orang jhat akan dihukum (ayat 11, 12). Dalam penanganan Allah kepada Israel yang akan datang, Ia akan mencukupkan semua kebutuhan hamba-hamba-Nya, tetapi akan menghukum mereka yang menolak Dia (ayat 13-16).

Yesaya 65: 17-25. adalah gambaran agung dari langit baru dan bumi yang baru (ayat 17-19). Kemudian nabi itu kembali kepada tema Yerusalem dalam kerajaan seribu tahun dimana akan ada umur yang panjang, tetapi juga kematian. mereka yang hidup seratus tahun akan dianggap masih muda. Dunia pada masa kerajaan seribu tahun akan menyediakan keamanan bagi Israel, “mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminy juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakn buahnya juga” (ayat 21). Sebaliknya, orang jahat tidak akan mengambil harta dari orang Israel. Ketenteraman alam juga akan terjadi “serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus” (ayat 25; bandingkan dengan 11:6,7). Nubuat-nubuat ini tidak pas dengan Yerusalem baru yang kekal, tetapi berkaitan dengan masa seribu tahun.

Dalam mengungkapkan pengharapan Israel yang akan datang, PL sering mencampuradukkan nubuat-nubuat mengenai kerajaan seribu tahun dengan Yerusalem baru dalam kekekalan. Perbedaan-prbedaannya akan jelas, ketika kita mengamati dengan jeli. Jelaslah disini bahwa kerajaan seribu tahunlah yang digambarkan karena dalam Yerusalem baru tidak akan ada kematian, tidak akan ada dosa, tidak akan ada hukuman. Dalam kerajaan seribu tahun akan ada hukuman. Dalam kerajaan seribu tahun akan ada wktu sukacita yang besar, dan sukacita serta pembebasan umat Allah, tetapi kematian dan dosa masih akan ada.

Kemudian Yesaya 66:1-24 adalah fasal yang menggambarkan kerajaan seribu tahun yang mengikuti kedatangan Kristus yang kedua kalinya. Karena langit adalah takhta Allah, sedangkan bumi adalah “Tumpuan kaki-Ku” (ayat 1). Sesuai dengan hal itu, tidak akan ada rumah yang benar-benar berisi Allah. Alah berkata bahwa korban-korbanya tidak akan berguna, kecuali hatinya beserta dengan Dia. Allah berjanji untuk menghakimi dengan adil, mereka yang tidak hidup dalam hubungan yang benar dengan Dia (ayat 4-6)

Pemulihan kembali israel akan seperti kelahiran anak-anak yang sebelum waktunya. Israel akan dibebaskan dan dipulihkan dengan cepat (ayat 8, 9). Allah memerintahkan dia untuk bersukacita (ayat 10). Dimasa seribu tahun yang akan datang, Allah juga berjanji untuk memelihara umat-Nya seperti seorang ibu yang memelihara bayinya (ayat 11-13). Israel “akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan hebat” (ayat 14), tetapi orang-orang jahat akan melihat Allah mendatangi mereka dalam hukuman (ayat 15-17), bahkan bangsa-bangsa akan datang untuk melihat kemuliaan Allah, dan mereka yang bukan dari bangsa Israel akan dibawa ke Yerusalem untuk menyembah Allah (ayat 19-21).

Dalam ayat-ayat penutup kitab Yesaya, diulangi janji bahwa Allah akan memelihara milik-Nya selama-lamanya dalam kontras dengan mereka yang mengalami hukuman kekal (ayat 22-24). Penutup kitab Yesaya adalah satu peringatan yang tegas bagi mereka yang menolak Allah dan satu jaminan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Nubuat-nubuat ini akan digenapi dalammasa seribu tahun.

KITAB YEREMIA

I. Pendahuluan

a. Latar Belakang Historis

Pelayanan Yeremia sebagai nabi diarahkan kepada kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM). Ia masih hidup untuk menyaksikan serbuan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan Bait Suci. Karena tugas Yeremia ialah bernubuat kepada bangsa itu selama tahun-tahun akhir dari kemunduran dan kejatuhannya, dapatlah dimengerti bahwa, kitabnya penuh dengan kesuraman dan firasat buruk.
Yeremia, putra seorang imam, lahir dan dibesarkan di Anatot, desa para imam (6 km di timur laut dari Yerusalem) selama pemerintahan Raja Manasye yang jahat. Yeremia memulai pelayanan sebagai nabi pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia yang baik, dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati bangsa itu; Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan pemusnahan akan datang dengan tiba-tiba.
Pada tahun 612 SM, Asyur dikalahkan oleh suatu koalisi Babel. Sekitar empat tahun setelah kematian Raja Yosia, Mesir dikalahkan oleh Babel pada pertempuran di Karkemis (605 SM; lih. Yer 46:2). Pada tahun yang sama pasukan Babel di bawah pimpinan Nebukadnezar menyerang Palestina, merebut Yerusalem dan membawa sebagian pemuda pilihan dari Yerusalem ke Babel, diantara mereka terdapat Daniel dan ketiga sahabatnya. Penyerbuan kedua ke Yerusalem terjadi tahun 597 SM; ketika itu dibawa 10.000 orang tawanan ke Babel, di antaranya terdapat Yehezkiel. Selama ini nubuat Yeremia yang memperingatkan tentang hukuman Allah yang mendatang tidak diperhatikan. Kehancuran terakhir menimpa Yerusalem, Bait Suci, dan seluruh kerajaan Yehuda dalam tahun 586 SM.
Kitab nubuat ini menunjukkan bahwa Yeremia, sering kali disebut “nabi peratap,” merupakan seorang yang membawa amanat keras namun berhati lembut dan hancur (mis. Yer 8:21–9:1). Sifatnya yang lembut itu menjadikan penderitaannya makin mendalam ketika firman nubuat Allah ditolak dengan angkuh oleh kerabat dan sahabat, imam dan raja, dan sebagian besar bangsa Yehuda. Walaupun sepi dan ditolak seumur hidupnya, Yeremia termasuk nabi yang paling tegas dan berani. Kendatipun berhadapan dengan perlawanan yang berat, dengan setia ia melaksanakan panggilannya sebagai nabi untuk memperingatkan sesama warga Yehuda bahwa hukuman Allah makin dekat. Ketika merangkum kehidupan Yeremia, seorang penulis mengatakan: “Tidak pernah manusia fana memperoleh beban yang begitu meremukkan. Sepanjang sejarah bangsa Yahudi tidak pernah ada teladan kesungguhan yang begitu mendalam, penderitaan tak henti-hentinya, pemberitaan amanat Allah tanpa takut, dan syafaat tanpa kenal lelah dari seorang nabi seperti halnya Yeremia. Tetapi tragedi kehidupannya ialah: bahwa ia berkhotbah kepada telinga yang tuli dan menuai hanya kebencian sebagai balasan kasihnya kepada orang-orang senegerinya” (Farley).
Penulis kitab ini jelas disebut yaitu Yeremia (Yer 1:1). Setelah bernubuat selama 20 tahun di Yehuda, Yeremia diperintahkan Allah untuk menuangkan amanatnya dalam bentuk tertulis; hal ini dilakukannya dengan mendiktekan nubuat-nubuatnya kepada Barukh, juru tulisnya yang setia (Yer 36:1-4). Karena Yeremia dilarang menghadap raja, Barukh diutus untuk membacakan nubuat-nubuat itu di rumah Tuhan, dan setelah itu Yehudi membacakannya kepada Raja Yoyakim. Raja itu menunjukkan sikap menghina kepada Yeremia dan firman Allah dengan menyobek-nyobek kitab gulungan itu dengan pisau lalu melemparkannya ke dalam api (Yer 36:22-23). Yeremia kemudian mendiktekan kembali nubuat-nubuatnya kepada Barukh, kali ini ia mencantumkan lebih banyak daripada di gulungan pertama. Kemungkinan besar, Barukh menyusun kitab Yeremia dalam bentuk terakhirnya segera sesudah wafatnya Yeremia (+585 — 580 SM).

b. Penulis Kitab : Yeremia

c. Tanggal Penulisan : + 585 — 580 SM

f. Tujuan

Kitab ini ditulis,

1. Untuk menyediakan suatu catatan abadi dari pelayanan dan berita nubuat Yeremia,
2. Untuk menyatakan hukuman Allah yang pasti jadi dan tidak terelakkan ketika umat-Nya melanggar perjanjian dan bersikeras dalam pemberontakan terhadap Allah dan firman-Nya, dan
3. Untuk menunjukkan keaslian dan kekuasaan firman nubuat. Banyak nubuat Yeremia tergenapi pada zamannya sendiri (mis. Yer 16:9; Yer 20:4; Yer 25:1-14; Yer 27:19-22; Yer 28:15-17; Yer 32:10-13; Yer 34:1-5); nubuat lainnya yang meliputi masa depan yang amat jauh digenapi kemudian atau masih belum digenapi (mis. Yer 23:5-6; Yer 30:8-9; Yer 31:31-34; Yer 33:14-16).

g. Isi Ringkas kitab Yeremia

Kitab ini pada dasarnya merupakan kumpulan nubuat-nubuat Yeremia, yang terutama dialamatkan kepada Yehuda (pasal 2-29; Yer 2:1–29:32), tetapi juga kepada sembilan bangsa asing lainnya (pasal 46-51; Yer 46:1–51:64); nubuat-nubuat ini terutama dipusatkan pada hukuman, walaupun ada beberapa yang membahas pemulihan (lih. Khususnya pasal 30-33; Yer 30:1–33:26). Nubuat-nubuat ini tidak secara teliti disusun menurut kronologi atau tema, sekalipun kitab ini menyajikan susunan menyeluruh sebagaimana yang tampak dalam Garis Besar di atas. Sebagian kitab ini ditulis dalam bentuk syair, sedangkan bagian lainnya dalam bentuk prosa atau cerita. Berita nubuatnnya terjalin dengan aneka kilasan sejarah dari:
1. Kehidupan pribadi dan pelayanan sang nabi (mis. pasal 1; Yer 1:1-19; Yer 34:1–38:28; Yer 40:1–45:5),
2. Sejarah Yehuda terutama selama masa Raja Yosia (pasal 1-6; Yer 1:1–6:30), Yoyakim (pasal 7-20; Yer 7:1–20:18), dan Zedekia (pasal 21-25, 34; Yer 21:1–25:38; Yer 34:1-22), termasuk runtuhnya Yerusalem (pasal 39; Yer 39:1-18), dan
3. Aneka peristiwa internasional yang melibatkan Babel dan bangsa-bangsa lainnya (pasal 25-29, 46-52; Yer 25:1–29:32; Yer 46:1–52:34).

Seperti Yehezkiel, Yeremia memakai berbagai tindakan yang bersifat perumpamaan dan lambang untuk mengilustrasikan berita nubuatnya dengan lebih jelas: mis. ikat pinggang yang lapuk (Yer 13:1-14), musim kering (Yer 14:1-9), larangan oleh Allah untuk menikah dan mempunyai anak (Yer 16:1-9), penjunan dan tanah liat (Yer 18:1-11), buli-buli yang dihancurkan penjunan (Yer 19:1-13), dua keranjang buah ara (Yer 24:1-10), kuk di pundaknya (Yer 27:1-11), pembelian ladang di kota kelahirannya (Yer 32:6-15), dan batu-batu besar yang disembunyikan dalam pelataran istana Firaun (Yer 43:8-13). Pemahaman Yeremia yang jelas akan panggilannya sebagai nabi (Yer 1:17), seiring dengan penegasan Allah yang berulang-ulang (mis. Yer 3:12; Yer 7:2,27-28; Yer 11:2,6; Yer 13:12-13; Yer 17:19-20*), memungkinkan dia untuk memberitakan nubuatnya dengan tegas dan setia kepada Yehuda kendatipun tanggapan yang terus diterimanya adalah permusuhan, penolakan, dan penganiayaan (mis.Yer 15:20-21). Setelah kebinasaan Yerusalem, Yeremia dipaksa pergi ke Mesir di mana ia tetap bernubuat sampai kematiannya (pasal 43-44; Yer 43:1–44:30).

h. Ciri-ciri Khas

Tujuh ciri utama menandai kitab Yeremia.

1. Kitab ini menjadi kitab terpanjang kedua dalam Alkitab, berisi lebih banyak kata (bukan pasal) daripada kitab lainnya selain Mazmur.
2. Kehidupan dan pergumulan pribadi Yeremia selaku nabi diungkapkan dengan lebih mendalam dan terinci dibandingkan nabi PL lainnya.
3. Kitab ini sarat dengan kesedihan, sakit hati, dan ratapan dari “nabi peratap” itu karena pemberontakan Yehuda. Kendatipun berita Yeremia itu keras, ia menderita kesedihan dan hancur hati yang mendalam karena umat Allah; namun kesetiaannya adalah terutama kepada Allah, dan ia merasa kesedihan yang paling dalam karena hati Allah terluka.
4. Salah satu kata kunci ialah “murtad,” (dipergunakan 8 kali) dan “tidak setia” (dipakai 9 kali), dan tema yang muncul terus ialah hukuman Allah yang tidak terelakkan lagi atas pemberontakan dan kemurtadan.
5. Satu-satunya penyataan teologis yang terbesar di kitab ini ialah konsep “perjanjian baru” yang akan ditetapkan Allah dengan umat-Nya yang setia pada saat pemulihan kelak (Yer 31:31-34).
6. Syairnya mengesankan dan penuh perasaan seperti syair Alkitab lainnya, dengan kelimpahan metafora, ungkapan-ungkapan yang hidup dan bagian-bagian patut diingat.
7. Rujukan terhadap Babel di dalam nubuat Yeremia (164) lebih banyak daripada di semua bagian lain di Alkitab

i. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Yeremia terutama di kutip dalam PB berkenaan dengan nubuatnya tentang”perjanjian baru” (Yer 31:31-34). Sekalipun Israel dan Yehuda berkali-kali melanggar perjanjian-perjanjian Allah dan kemudian dihancurkan dalam hukuman akibat kemurtadan mereka, Yeremia menubuatkan suatu saat ketika Allah akan mengikat perjanjian yang baru dengan mereka (Yer 31:31). PB menjelaskan bahwa perjanjian yang baru ini ditetapkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Luk 22:20; bd. Mat 26:26-29; Mr 14:22-25), dan kini digenapi di dalam gereja selaku umat perjanjian baru Allah (Ibr 8:8-13) dan akan mencapai puncak kesempurnaan dalam penyelamatan Israel yang luar biasa (Rom 11:27).
Bagian-bagian lain tentang Mesias di Yeremia yang diterapkan kepada Yesus Kristus dalam PB adalah:

1. Mesias sebagai gembala yang baik dan tunas Daud yang adil (Yer 23:1-8; lih. Mat 21:8-9; Yoh 10:1-18; 1Kor 1:30; 2Kor 5:21);
2. Ratapan yang hebat di Rama (Yer 31:15) digenapi saat Herodes berusaha membunuh bayi Yesus (lih. Mat 2:17-18); dan
3. Semangat Mesias akan kesucian rumah Allah (Yer 7:11) ditunjukkan ketika Yesus menyucikan Bait Allah. (lih. Mat 21:13; Mr 11:17; Luk 19:4).

II. Tafsiran dari Beberapa Tema Utama Kitab Yeremia

a. Panggilan dan Pelayanan Nabi Yeremia

Yeremia hidup dan melihat kehancuran Yerusalem yang dahsyat, kota yang berdiri hampir tanpa diganggu-ganggu sepanjang hari-hari para pendahulunya dalam nubuat. Asyur pada masa Yesaya sudah hampir mati ketika Yeremia menerima panggilanya. Kekaisaran Asyurbanipal yang lama (668-631 SM), raja terakhir yang penting dari kerajaan Neo-Asyur telah berakhir, dan pertanda suatu zaman yang baru telah muncul di ufuk internasional. Di Babel, orang Kasdim yang pengaruh budayannya telah meninggalkan kesan yang mendalam di negeri itu, sudah siap untuk mengisi kekosongan yang sedang berkembang dalam politik empiris. Hampir satu abad sebelumnya kegagalan politik mereka telah dirasakan, ketika Merodakh –Baladan , seorang Kasdim telah merebut tahta Babel, dan kemerosotan kekuasaan Asyur pada parohan kedua dari abad ketujuh membuka jalan untuk muncul kembali. Hal itu terjadi ketika Nabopolosar merebut Babel pada tahun 626. Pada masa itu Yeremia merupakan orang baru dalam profesinya, karena ia menerima panggilanya sekitar tahun ke 13 dari pemerintahan Yosi (627/26 SM; 1:2; 25:3).
Di Yehuda, Yosi telh mengalami perubhan religius pada tahun kedelapan dari pemerintahannya dan dalam tahun kedua belas, tahun sebelum panggilan Yeremia, ia telah memuli reformasi keagamaan (II Tawarikh 34:3). Dasar untuk pelayanan nabi ini telah dipersiapkan meskipun hanya lapisan atas yang tipis dri lapisan humus itu yang telah dibalik.

Sebuah panggilan dari kekekalan

Tidak saja ia dipanggil oleh keadaan darurat masa-masa itu, tetapi panggilannya muncul dari kekekalan. Tuhan mengenal dia bahkan sebelum Ia membentukny dari rahim ibunya, dan ia telah menetapkan Yeremia sebgai seorang nabi kepada bangsa-bangsa diluar kerangka waktu dimana ia harus melaksanakan peran tersebut. Keberatannya terhadap panggilan Yahweh muncul dari perasaan ketidakmmpuan dan mungkin terhadap kehebatan tugas yang telah ia nilai:

Maka aku menjawab, Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda!
(Yeremia 1:6)

Tetapi seorang nabi yng dipanggil dari kekekalan tidak boleh merasa kewalahan oleh keadaan darurat dari zamannya:

Tetapi Tuhan berfirman kepadaku: “janganlah katakan aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.” Demikianlah Firman Tuhan.
(Yeremia 1:7-8)

dan jmahan Tuhan yang santun atas bibir Yeremia sama dramatis dengan sentuhan serafim yang menyucikan bibir Yesaya. Firman yang ditaruh Yahweh dalam mulutnya (1:9) membekar kedalam hatiny dan menjadikannya bagian yang sangat diperlukan dan tidak dapat ditahan dari keberadaan nabi tersebut (20:9).

Metode-Metode Komunikasi

Disini kita akan mempertimbangkan secara singkat berbagai metode komunikasi yang digunakan oleh nabi ini untuk menunaikan panggilannya. Metode-metode itu tidak berbeda dari metode yang telah ditetapkan dan dipakai oleh para nabi yang terdahulu. Cara yang utama adalah berbicara.

Para penyidik bentuk sastra bersikeras bahwa para nabi menggunakan bentuk-bentuk sastra tertentu dri struktur sosial zaman mereka seperti perkataan dari pembawa pesan diplomasi internasional, ratapan dari liturgi keagamaan, dan perkara hukum dari lembaga hukum. Dengan penukaran normal di antara bentuk-bentuk budaya dan fungsi sosial dalam masyarakat manapun, dan dengan kebutuhan literatur untuk mengambil struktur yang menyampaikan gagasan konkrit serta emosi dan gambaran tertentu, maka asumsi tersebut masuk akal. Tetapi sebuah pertanyaan timbul, apakah bentuk sosial dan budaya itu dibubuh pada pesan lisan itu sesudah penyampaiannya. Mungkin kedua pilihan tersebut dilakukan. Para nabi termasuk tokoh-tokoh sastra yang paling mahir pada zamannya dan sebuah amanat dalam bentuk ucapan pembawa pesan atau bentuk sastra lain yang mencerminkan struktur dan pola sosial dapat dipahami, bahkan tanpa menulis sebelumnya. Jadi kemungkinan besar amanat nabi ini diucapkan dahulu baru ditulis kembali.

Cara komunikasi kedua yang digunakan oleh Yeremia adalah tulisan. Perintah berasal dari Yahweh, pada tahun keempat pemerintahan Yoyakim (605), “Ambillah kitab gulungan dan tulislah didalamnya segala perkataan yang telah kufirmankan kepadamu mengenai Israel, Yehuda dan segala bangsa, dari sejak aku berbicara kepadamu, yakni dari sejak zaman Yosia, sampai waktu ini.” (36:2)

Ketika Yoyakim merobek-robek gulungan kitab itu dan membakarnya dalam api, Tuhan memerintahkan nabi Yeremia untuk mengambil gulungan kitab yang lain dan menuliskan diatasnya segala perkataan dari gulungan yang pertama (36:27-28). Dengan didikte oleh Yeremia, Barukh menyelesaikan gulungan kitab yang kedua yang mencantumkan isi gulungan yang pertama ditambah banyak perkataan seperti itu (36:32). Fakta bahwa Yeremia tampaknya telah dilarang masuk Bait Allah pada waktu itu, dengan demikian menjelaskan penggunaan Barukh sebagai pembawa pesannya, hendaknya tidak menunjukkan bahwa penulisan pesannya, hendaknya tidak menunjukkan bahwa penulisan pesannya merupakan sarana, yang tidak lazim untuk mengkomunikasikannya. Sebenarnya gulungan kitab yang pertama adalah himpunan nubuat dalam periode sekitar dua puluh tiga tahun (dari tahun ketiga belas pemerintahan yosia – 627 SM – hingga tahun kelima pemerintahan Yoyakim – tahun 604). Dengan bantuan juru tulis ia mungkin telah menuliskan dalam banyak hal, jika bukan sebagian besar, dari ucapan ilahinya dalam tahun-tahun tersebut. Pada kesempatan yang lain setelah pembuangan Yoyakim pada tahun 597, Yeremia menulis surat kepada para orang buangan di Babel, serta menguatkan mereka untuk menetap dan menjalankan kehidupan seperti biasa, karena penawanan tersebut akan berlangsung tujuh puluh tahun (pasal 29). Korespondensinya dengan Babel termasuk kata-kata kepada Raja Babel yang memberi tahu nasib negerinya yang akan menderita dimasa yang akan datang (51:59-64a). dalam nada yang lebih menghibur; ia menghibur Yehuda dan menjanjika pemulihan dalam serangkaian nubuat yang tidak bertanggal yang telah ditulisnya (30:2).

Meode ketiga dalam menyampaikan amanatnya melalui isyarat yang dilakonkan. Simbolisme kenabian, seperti yang disebutkan telah dikenal sejak masa Hosea dan Yesaya, tetapi Yeremia membuatnya populer. Di antara isyarat- isyaratan yang dilakonkan Yeremia terdapat ikat pinggang lenan (psal 13), tukang priuk (ps 18), buli-buli yang pecah (ps 19), tali pengikat dan kuk yang ia pakai (ps 27-28), pembelian ladang kerabatnya di anatot (ps 32). Beberapa isyarat ini dilakukan dan diamati sendiri dan beberapa di depan umum, selalu disertai penasiran.

Tempat-tempat Komunikasi (Tempat-Tempat Dimana Pelayanan Yeremia)

Pelayanan Yeremia yang paling awal terjadi di kota asalnya, Anatot (11:21), tetapi sebagian besar aktivitasnya terjadi di Yerusalem, meskipun 11:6 menunjukkan bahwa ia bernubuat dikota-kota lain di Yehuda. Lokasi-lokasi spesifik dimana ia menyampaikan pesannya tergantung pada dua faktor: mengumpulkan kerumunan orang banyak dan keadaan pribadinya sendiri. meskipun semua nubuat Yeremia tidak dimaksudkan untuk konsumsi umum, ia ingin semua yang dimaksudkan untuk umum itu di dengar oleh sebanyak mungkin orang. Misalnya Bait Allah merupakan tempat dimana orang banyak berkumpul, maka ia berkhotbah disna (7:2; 26:2). Dan ketika ia dilarang masuk rumah Tuhan, ia mengutus Brukh untuk membaca gulungan kitab itu pada sebuah perayaan ketik kerumunan orang banyak berkumpul. (Yeremia 36:5 band juga 7:2; 26:2; 28:1). Tempt lain dimana ia dapat menemukan pendengar dengan mudah adalah pintu gerbang kota tempat orang berkumpul secara sosial (11:6; 17:19). Dalam kesempatan lain ia mendapati orang banyak di istana raja (22:1; 37:17). Tetapi ketika keadaan kehidupannya tidak mengijinkan dia untuk pergi kemana ia hendak pergi, ia mengucapkan pesannya dari tempat manapun ia berada, bahkan dari penjara (32:2). Ketika ia berunding secara pribadi dengan kaum Rekhab, ia menggunakan sebuah kamar di Bait Allah (35:2,4).

Dimensi Sosiologis Pelayanan Yeremia

Nabi Yeremia adalah nabi yang berterus terang dan tnpa kompromi berbicara tentang dosa-dosa Yehuda, ditambahkan pada pesan yang tidak populer perihal tunduk kepada orang Babel yang disampaikannya kemudian, menimbulkan banyak musuh bagi Yeremia. Diantara musuh-musuhnya itu adalah kumpulan nabi-nabi yang tidak berasal dari Tuhan yang merasa optimis tentang masa depan dan bergabung dengan imam-imam (27:16-18). Pengaruh nabi-nabi tersebut kepda para imam diperkuat dalam (28:1-4, dimana Hananiah menunjukkan lakonya dihadapan imam-imam di Bait Allah, nyata-nyata untuk mempengaruhi mereka kepada pendiriannya. Kelompok nabi-nabi tersebut telah sangat dekat dengan Bait Allah, suatu gagasan yang diteguhkan oleh surat dari Semaya yang dalam pembuangan kepada imam Zefanya di Yerusalem yang bertanya mengapa ia tidak menegur Yeremia karena menjanjikan pembuangan yang lama (29:24-28). Implikasi bagian tersebut adalah bahwa imam-imam semata-mata bersifat hipotesis. Meskipun sulit menetapkan tanggal nubuatnya yang disampaikan selama pemerintahan Yosia, tampaknya ia diam selama periode waktu yang lama. Selanjutnya dinilai berdasarkan perlawanan pribadinya terhadap penyembahan berhala, kita menyimpulkan bahwa ia sangat mendukung usaha-usaha Yosia untuk menghancurkan penyembahan kafir dan memulihkan rumah ibadah di Yerusalem. Dimulai pada tahun 628/27, reformasi itu mula-mula diarahkan terhadap penyembahan berhala umum, yang bukti-buktinya dapat dilihat. Yosia memperluas pemurnian agama bahkan sampai ke Israel dengan membunuh nabi kafir (II Tawarikh 34:3-8), dan memberikan perhatian khusus untuk menguduskan Betel, lokasi kuno dari anak lembu emas Yerobeam (II Raja-raja 23:15). Dengan memusatkan penyembahan ini di Yerusalem, ia tidak memecat para imam di tempat-tempat suci pedusunan Yehuda, tetapi mereka bergabung dengan saudara-saudara di Yerusalem, meskipun mereka tidak diijinkan melayani di Mezbah (II Raja-Raja 23:9). Simpati Yeremia terhadap Reformasi tersebut dapat dilihat dalam 11:1-12. selanjutnya orang-orang reformasi dan anak-anak mereka membela Yeremia dan menyelamatkan hidupnya (26:24,36). Tambahan pula, ia sangat mengagumi Yosia (22:15-16), dan penulis Tawarikh mengakui bahwa dia yang menggubah sebuah ratapan untuk Yosia (II Tawarikh 35:25). Dengan tekanan baru atas penyembahan berhala, mungkin reformasi tersebut mengakibatkan pegangan yang kuat pada keimaman dan aliran penyembahan ini dari kehidupan. Hal itu menyebabkan Yeremia berbicara dengan tegas melawan penyalahgunaan sistem persembahan kurban (6:20; 7:21-26; 11:15). Pukulan fatal terhadap kerajaan Neo – Asyur dilakukan oleh bangsa Media dan Babel, pertama-tama kepada kota Asyur tahun 614, dan dua tahun kemudian terhadap Niniwe pada tahun 612. Ketika raja Asyur, Asyur-ubalit mengundurkan diri ke Haran untuk mempertahankan sisa kerajaannya, para sekutu yang membentuk poros Babel ini merebut Haran. Sementara itu orang-orang Mesir, melihat adanya keuntungan politik untuk menjaga kekuatan Kerajaan Asyur, mengadakan Ekspedisi penyelamatan ke Efrat. Ketika Yosia berusaha untuk mengalahkan Firaun Nekho II (609-593) di Megido, raja Yehuda itu dibunuh (609), dan dengan demikian mengakhiri masa yang sangat penuh harapan dalam sejarah Yehuda.

b. Hubungan Yang Tidak Wajar antara Yehuda dan Yerusalem Terhadap Allah dan Hukuman Allah (Yeremia 2-23:5-8)

Gambaran Kemurtadan Yehuda

Dalam perumpamaan yang hidup yang dapat dipahami oleh Yehuda, Yeremia membentangkan sebuah dilemma:

Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat,
Mereka meninggalkan Aku,
Sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri
Yakni kolam yang bocor,
Yang tidak dapat menahan air.
(Yeremia 2:13)

di negeri dimana air sangat penting, kondisi rohani Yehuda adalah seperti orang yang meninggalkan aliran air yang hidup hanya untuk menggali sebuah waduk yang berlubang (bocor) ini adalah duia tindakan yang tidak logis. Meninggalkan air yang sangat diperlukannya untuk membuat waduk yang tidak berguna untuk menampung air yang telah ditinggalkannya – betapa tak masuk kal! Tetapi hal itu menjelaskan dilemma yang dialami oleh bangsa itu.

jika seorang menyelidiki diantara bangsa-bangsa di dunia tak ada bangsa lain yang menyamai kemurtadan Yehuda:

Pernahkan suatu bangsa menukarkan allahnya
Meskipun itu sebenarnya bukan allah?
Tetapi umat-Ku menukarkan kemuliaannya
Dengan apa yang tidak berguna
(Yeremia 2:11)

sebab itu beginilah Firman Tuhan,
“Cobalah tanyakan di kalangan bangsa-bangsa
siapakah yang telah mendengar hal seperti ini?
Anak dra Israel telah melakukan hal-hal yang sangat ngeri!”

Tetapi umat-Ku telah melupakan Aku
Mereka telah membakar kurban kepada kesiasiaan,
Mereka telah tersandung jatuh di jalan-jalan mereka, yakni jalan-jalan dari
Dahulu kala.
Dan telah mengambil jalan simpangan,
Yakni jalan yang tidk diratakan.
(Yeremia 18:13,15)

dalam istilah yang sentimental, Yehuda telah melakukan sesuatu yang tidak akan dilakukan seorang mempelai wanita.

Dapatkah seorang dara melupakan perhiasannya,
Atau seorang pengantin perempuan melupakan ikat pinggangnya?
Tetapi umat-Ku melupakan Aku,
Sejak waktu yang tidak terbilang lamanya.
(Yeremia 2: 32)

Yehuda telah menjadikan perilaku yang tidak wajar sebgai suatu norma. Tetapi ia telah mewarisi tradisi kemurtadan dari nenek moyangnya . bentuk yang paling menyolok dari kemurtadan di Yehuda kuno adalah penyembahan berhala dalam bentuknya yang paling buruk. Yeremia, seperti Hosea menggunakan istilah sundal untuk menjelaskan penyembahan berhala kafir Yehuda (Mis 2:20), karena bangsa itu bahkan telah mempersembahkan anak mereka sebgai korban (17:30-31; 19:5; 32:35). Yahweisme pada zaman Yeremia adalah campuran unsure Baal dan Musa, kadang-kadang dilakukan secara terbuka di Bait Suci (7:30-31;32:35). Seperti yesaya Yeremia mencemoh para pembuat berhala dan hasil karya mereka:

Orang memperindahnya dengan emas dan perak;
Orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang
Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun,
Tidak dapat berbicara; orang harus harus mengangkatnya,
Sebab tidak dapat melangkah.
Janganlah takut kepadanya,
Sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat,
Dan berbuat baik pun tidak dapat.

(Yeremia 10:4-5)

Sebaliknya Allah Yehuda adalah pencipta langit dan bumi (10:12; 32:17; 33:2; 51:15). Ia telah menyebut bangsa Israel anak-anak-Nya, tetapi mereka tidak memanggil-Nya Bapa mereka (3:19). Umat itu malah berbalik kepada lambang-lambang Baalisme dan menyebut sebuah pohon bapa mereka, dan kepada batu mereka berkata, “Engkaulah yang telah melahirkan aku” (2:27). Tetapi gabungan dari dua agama ini sedemikian lihay, sehingga kadang-kadang mereka tidak dapat mengetahui bahwa mereka telah menganut Baalisme (2:23).

Ikat Pinggang Yeremia dan Buyung Anggur

Yeremia 13:1-11, Yeremia disuruh Tuhan untuk membeli sebuah ikat pinggang dan menyembunyikannya di celah-celah batu. Kemudian ternyata ikat pinggang itu lapuk. Sama seperti itu Allah “akan menghapuskan kecongkakan Yehuda dan Yerusalem” (ayat 9). Mereka yang tidak mau menyembah Allah dan mengikuti kejahatan akan tidak berguna sama sekali seperti ikat pinggang Yeremia (ayat 10, 11)

Yeremia 13:12-14. sama seperti sebuah buyung anggur berisi anggur, demikian pula Tuhan akan menyebabkan bangsa Israel mabuk anggur dan akan menghancurkan mereka. Nubuat-nubuat ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Penawanan Yang Akan Datang

Yeremia 13:15-27. kalau mereka bertanya mengapa hal ini terjadi pada mereka, Allah akan menyatakan, “Segenap Yehuda sudah diangkut ke dalam pembuangan, diangkut ke dalam pembuangan seluruhnya.” (ayat 19). “Dan apabila engkau bertanya dalam hatimu, mengapakah semuanya ini menimpa aku? Karena banyaknya kesalahanmulah, maka disingkapkan ujung kainmu dan engkau diperkosa.” (ayat 22). Ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Isarael Akan Mengalami Kekeringan, Kelaparan, dan Pedang

Yeremia 14:1-6. kota-kota Yehuda akan berkabung dan tangisnya akan mendengar sampai ke Yerusalem (ayat 1,2). Kendi-kendi mereka akan kosong (ayat 3). Tidak akan ada hujan (ayat 5, 6).

Yeremia 14:10-12. meskipun Allah mengasihi bangsa Yehuda, tetapi Ia akan menghukum mereka karena dosa-dosanya (ayat 10). Allah tidak akan memperhatikan puasa mereka atau menerima korban persembahan mereka, tetapi mereka akan dihabiskan dengan perang, dengan kelaparan, dan dengan penyakit sampar.” (ayat 12).

Yeremia 14:13-16. nabi-nabi menubuatkan bahwa hukuman Allah tidak akan datang, “Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh perang dan kelaparan! Dan bangsa yang kepadanya mereka bernubuat akan tercampak mati di jalan-jalan Yerusalem, disebabkan oleh kelaparan dan perang, dan tidak ada orang yang akan menguburkan mereka: mereka sendiri, isteri-isteri mereka, anak-anak mereka yang laki-laki dan yang perempuan. Demikianlah akan kutumpahkan kejahatan mereka keatas mereka” (ayat 15, 16). Nubuat-nubuat ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Hukuman Itu Tidak Terelakkan, Tetapi Pertobatan Yang Benar Akan Membawa Pemulihan

Yeremia 15:1-4. meskipun Musa dan Samuel akan memanjatkan doa syafaat, namun Allah akan menghukum umat-Nya. Mereka akan diserahkan kepada kematian dengan pedang, yang lain dengan kelaparan, dan yang lain lagi dengan penawanan (ayat 2). Empat penghancur yang akan menyerang mereka, yaitu: pedang, anjing, burung, dan binatang di bumi (ayat 3). Bangsa-bangsa lain akan membenci mereka karena mereka mengikuti dosa-dosa Manasye (ayat 4). Ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Yeremia 15:5-21. tidak seorangpun yang akan merasa kasihan terhadap Yerusalem pada saat kota itu berada dalam kesukaran karena telah menolak Tuhan (ayat 5, 6). Disana akan banyak janda, lebih banyak ketimbang pasir di laut (ayat 8). Orang-orang yang tersisa akan diserahkan kepada pedang (ayat 9). Allah berjanji akan melepaskan yeremia dalam masa kesukaran itu. kekayaan mereka akan dijarah dan mereka akan diperbudak oleh musuh-musuh mereka. Yeremia dijanjikan bahwa jika ia menjadi juru bicara Allah yang berharga, ia akan menjadi seperti “tembok berkubu dari tembaga” (ayat 20). Allah berjanji akan menyelamatkan dia dari tangan orang jahat (ayat 21). Nubuat-nubuat ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Malapetaka Yang Akan Datang

Yeremia 16:1-13. Yeremia dilarang mempunyai istri atau mempunyai isteri atau mempunyai anak laki-laki atau perempuan karena mereka akan mati oleh pedang dan oleh kelaparan.

Yeremia juga diberi tahu agar tidak ikut dalam perjamuan perkabungan atau menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang berduka cita karena Allah telah menarik belas kasihan-Nya atas bangsa ini, dan mereka telah ditentukan untuk mengalami kesusahan pada akhirnya. Tidak ada lagi pengantin laki-laki atau pengantin perempuan yang dirayakan dengan sukacita.

Yeremia diperintahkan untuk memberi tahu orang-orang bahwa malapetaka besar akan datang karena bukan hanya mereka tetapi juga bapak-bapak mereka telah meninggalkan tanah asing dan disana mereka akan melayani dewa-dewa asing (ayat 10-12). Mereka akan dibawa ke pembuangan ke tanah asing dan disana mereka akan melayani dewa-dewa asing (ayat 13). Nubuat-nubuat ini digenapi dalam penawanan oleh Babel dan dalam pengalaman Yeremia.

Tujuan Akhir Allah Untuk Memulihkan Israel

Yeremia 16:14, 15. meskipun prospek yang dekat dari Israel adalah malapetaka dan dipindahkan dari tanah itu, Allah menegaskan bahwa ia akan memulihkan mereka kembali ketanah milik mereka. “Sebab itu demikianlah Firman Tuhan, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa tidak dikatakan orang lagi: demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri kemana Ia telah menceraiberaikan mereka! Sebab Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka.”

Mengenai nubuat ini ada dua hal yang dapat dicatat:
1. itu adalah pemulihan dari kemurtadan pada Israel tidak layak memperoleh janji ini.
2. Janji mengenai tanah itu masih tetap dipahami sebagai satu janji harafiah seperti diseluruh Lama. Sama seperti Israel secara harafiah ditawan dari tanahnya ketanah asing, demikian pula secara harafiah ia akan dikembalikan dari tanah asing itu ke tanahnya sendiri. saat penggenapan itu adalah pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, ketika Israel akan kembali “dari segala negeri dimana Ia telah menceraiberaikan mereka” (ayat 15) pengumpulan kembali itu memungkinkan dia untuk berpartisipasi dalam kerajaan seibu tahun, sesudah kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Penawanan Mendahului Pemulihan

Yeremia 16:16-18. dalam kebalikan dari pengumpulan kembali yang penuh belas kasihan seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya, nubuat ini menggambarkan pencarian orang-orang Israel yang akan dibawa kepada pembuangan. Ini adalah saat dimana orang Israel yang bersembunyi akan dicari-cari dan mereka akan menderita karena dosa-dosa mereka dan dosa-dosa leluhur mereka. Ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.

Orang Bukan-Yahudi Juga Akan Diselamatkan

Yeremia 16:19-21. Allah yang telah menjadi tempat pelarian bagi mereka yang akan kembali kepada-Nya, pada akhirnya akan membawa orang-orang dari semua bangsa percaya kepada Tuhan kepada diri-Nya sendiri (ayat 19). Ketika mereka kembali kepada Tuhan, Ia akan mengajar mereka tentang “kekuasaan-Ku dan keperkasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku TUHAN” (ayat 21). Ini akan digenapi dalam program keselamatan Allah.

Orang Yang Jahat Di Kontraskan Dengan Orang Yang Benar

Yeremia 17:1-18. Dosa Yehuda terpatri dalam hatinya, yang menyebabkan Allah menghukum dia (ayat 1,2). Kekayaannya akan diambil dari dia (ayat 3), ia akan kehilangan warisannya (ayat 4), dan akan diperbudak (ayat 4). Allah menyatakan kutukan bagi mereka yang menaruh kepercayaan kepada manusia dan menggambarkan sebagai semak-semak di padang pasir (ayat 5,6)

Sebaliknya orang yang sudah diberkati “akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambat akar-akarnya ketepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunya tetap hijau, yang tidak kwatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (ayat 8) akan tetapi pada saat itu Israel sama seperti semak-semak di padang gurun, bukan sebagai pribadi yang benar dari sumber air yang melimpah. Masalah dengan Israel dan Yehuda ialah bahwa hati mereka licik (ayat 9), dan hal ini menyebabkan Allah meninggalkannya dan mempermalukannya (ayat 13). Karena para penganyiaya Yeremia tidak mau percaya kepadanya, maka Yeremia memohon kepada Allah untuk menimpakan hukuman seperti yang dinubuatkan-Nya kepada mereka (ayat 14-18).

Tanda Dari Tukang Priuk

Yeremia 18:1-10. Dengan menggunakan ilustrasi tentang sebuah bejana yang sedang dibentuk yang rusak di tangan si penjunan, Allah menyatakan kepada Yeremia bahwa ia dapat melakukan seperti apa yang dapat dilakukan oleh tukang priuk di tangannya. Allah menyatakan bahwa apabila suatu bangsa yang ada dibawah kutuk hukuman-Nya bertobat dari kejahatannya, maka Allah akan membebaskannya dari malapetaka (ayat 8).

Malapetaka Dinubuatkan
Yeremia 18:11-23. atas dasar itu, Allah menyatakan, “Sesungguhnya, Aku ini sedang menyiapkan malapetaka terhadap kamu dan merancangkan rencana terhadap kamu. Baiklah kamu masing-masing bertobat dari tingkah lakumu dan perbuatanmu! Tetapi mereka berkata, tidak ada gunanya! Sebab kami hendak berkelakuan mengikuti rencana kami sendiri dan masing-masing hendak bertindak mengikuti kedegilan hatinya yang jahat” (ayat 11,12). Allah menuntut Israel dengan “hal-hal yang sangat ngeri” (ayat 13). Israel telah melupakan Allah dan membakar kemeyan bagi berhala-berhala yang tidak berharga (ayat 15). Sebagai akibatnya, “Negerinya menjadi kengerian menjadi sasaran suitan untuk selamanya. Setiap orang yang melewatinya akan merasa ngeri, dan akan menggeleng-gelengkan kepalanya” (ayat 16). Yeremia memohon agar Allah menggenapi rencana-rencanan-Nya untuk menghukum Israel karena ia telah merencenakan kejahatan atas Yeremia sendiri.

Tanda Dari Bejana Yang Pecah

Yeremia 19:1-15. Yeremia disuruh untuk membeli sebuah bejana tanah liat dari seorang pejunan, kemudian mengumumkan hukuman atas Israel karena dosa-dosa mereka (ayat 1-5). Tempat itu tidak lagi dinamakan “Tofet dan lembah Ben – Hinom, melainkan lembah pembunuhan “ (ayat 6). Allah menggambarkan suatu hukuman yang mengerikan atas Israel yang akan menghancurkan kota-kotanya dan membuat mereka makan daging anak-anak mereka sendiri (ayat 7-9). Kemudian Yeremia memecahkan bejana itu dan menyatakan bahwa Allah menghancurkan “bangsa ini dan kota ini, seperti orang memecahkan tembikar tukang priuk, sehingga tidak dapat diperbaiki lagi. Dan Tofet akan menjadi tempat penguburan karena tidak ada tempat lain untuk menguburkan” (ayat 10, 11). Allah akan merusak Yerusalem sama seperti Ia merusakkan Tofet (ayat 12, 13).

Yeremia mengulangi hukumannya bahwa Allah akan membawa malapetaka atas Yerusalem dan desa-desa di sekitarnya karena “mereka berkeras kepala dan tidak mendengarkan perkataan-perkataan-Ku’ (ayat 15). Hukuman ini digenapi dalam penawanan oleh Babel.
Yeremia 20:1-6. sesudah Yeremia dipukuli oleh Imam Pasyhur (ayat 1, 2) Yeremia mengulangi nubuat mengenai penghancuran Yerusalem (ayat 4). Ia menyatakan bahwa mereka akan melihat teman-teman mereka terbunuh oleh pedang dan melihat harta kekayaan Yerusalem diangkut ke Babel (ayat 4, 5). Ia menubuatkan bahwa Pasyhur sendiri akan dibuang ke Babel dan akan mati dan serta dikuburkan disana (ayat 6). Ini digenapi dalam penawanan oleh Babel (2Tawarikh 36:15-21).

Raja-Raja Yehuda Diperingatkan

Yeremia 21:1-7. Sesudah Yeremia mengeluh bahwa Tuhan membiarkanya ditolak (20:7-18), Yeremia menerima saru undangan dari raja Zedekia untuk bertanya kepada Tuhan mengenai Nebukadnezar dan serangannya ke Babel (ayat 1, 2). Akan tetapi, Yeremia menjawab bahwa Yerusalem akan dikalahkan (ayat 3,4), Allah melawan mereka (ayat 5), dan baik manusia maupun binatang akan mati “oleh penyakit sampar yang hebat” (ayat 6). Zedekia sendiri dan pegawai-pegawainya beserta penduduk kota itu akan diserahkan kepada Nebukadnezar yang akan membunuh banyak diantara mereka dengan pedang dan tidak menunjukkan belas kasihan atau ampun (ayat 7). Ini digenapi dalam penawanan oleh Babel (2Tawarikh 36:15-21).

Yerusalem Akan Dihancurkan

Yeremia 21:8-14. Yeremia menyampaikan pesan Allah bahwa mereka yang tinggal di kota akan “Mati karena pedang karena kelaparan dan karena penyakit sampar” (ayat 9). Sebaliknya “Siapa yang keluar dari sini dan menyerahkan diri kepada orang-orang Kasdim yang mengepung kamu, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya” (ayat 9). Kota Yerusalem akan dihancurkan dengan api (ayat 10). Sekali lagi penghancuran Yerusalem itu dinubuatkan, dan mereka yang berpikir akan dapat melarikan diri akan dihukum karena perbuatan mereka yang jahat (ayat 11-14). Ini digenapi dalam penawanan Babel (2Tawarikh 36:15-21).

Raja-Raja Yehuda Akan Dihancurkan

Yeremia 22:1-30. Yeremia disuruh pergi ke istana raja dan mendesak para pejabat untuk memerintah dengan benar (ayat 2, 3). Yeremia berjanji bahwa jika mereka menaati Tuhan mereka akan terus memerintah di tahta Daud (ayat 4). Jika tidak maka istana itu akan dihancurkan (ayat 5).

Yeremia menggambarkan penghancuran Bait Allah dalam istilah-istilah yang jelas (ayat 6, 7). Ia menubuatkan bahwa orang-orang dari bangsa-bangsa lain akan bertanya mengapa Yerusalem di hancurkan, dan jawabannya adalah karena mereka telah meninggalkan perjanjian Allah (ayat 8, 9). Yeremia menytakan bahwa mereka tidak boleh menangisi orang yang mati, tetapi lebih karena kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang buangan dan tidak akan kembali ke tanah air mereka (ayat 10), Apa yang terjadi bagi banyak orang buangan benar-benar terjadi pada Salum, anak Yosia, yang menggantikan Ayahnya sebagai raja Yehuda. Salum adalah sebuah nama lain dari Yoahas yang dibawa sebagai tawanan.

Yeremia menggambarkan hukuman Allah bagi mereka yang membangun istana, tetapi tidak membayar upah tukang-tukangnya (ayat 13, 14). Yeremia menunjukkan bahwa ayahanda raja telah melakukan lebih baik ketimbang dia dalam membela orang-orang miskin. Allah menuduh Salum karena licik dan menumpahkan darah orang yang tidak bersalah (ayat 17). Sama seperti Salum atau Yoahas meninggalkan teladan ayahnya, Yosia dan mengakibatkan ia ditawan ke Babel demikian pula Yoyakim, anak Yosia yang lain yang menggantikannya berlaku jahat dalam mencoba mendirikan istana yang besar dengan memamfaatkan para pekerja (ayat 13, 14). Yeremia mencatat hukuman Allah atas dia, “orang tidak akan meratapi dia: aduhai abangku! Aduhai kakakku! Orang tidak akan menangisi dia: aduhai tuan!, aduhai seri paduka! Ia akan dikubur secara penguburan keledai, diseret dan dilemparkan ke luar pintu-pintu gerbang Yerusalem (ayat 18, 19). Hukuman Allah itu tidak hanya jatuh ke atas Yoyakim, tetapi juga atas rakyatnya (ayat 20-23).

Allah juga mengumumkan hukuman atas Yoyakim (juga disebut Konya, atau Yekhonya). Nubuat bahwa Israel akan diserahkan kepada Nebukadnesar dari Babel dan akan mati di negara asing (ayat 25-27) digenapi (bandingkan dengan Yeremia 24:1;29:2). Ia akan dipandang tidak mempunyai keturunan dan anak-anaknya tidak duduk di tahta (ayat 29,30).

Pertanyaan muncul mengapa Yoyakin dibuang dari tanah itu. Allah menyatakan, “Catatlah orang ini sebagai orang yang tidak punya anak, sebagai laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorang pun dari keturunanya tidak akan berhasil duduk diatas takhta Daud dan memerintah kembali di Yehuda” (ayat 30). Sebetulnya Yoyakin mempunyai banyak anak (bandingkan dengan 1 Tawarikh 3:17,18), tetapi tidak ada yang tetap menduduki takhta Daud. Anaknya Yerubabel (1Taw 3:17-19; Mat 1:12) menjadi gubernur Yehuda, tetapi bukan Raja. Dengan demikian Yoyakin adalah orang yang terakhir menduduki takhta Daud sebagai Raja sampai Kristus. Sebetulnya, Zedekia, anak lain dari Yosia duduk di takhta itu untuk beberapa waktu sesudah Yoyakhin, karena ia bukanlah anak Yoyakhin. Kitab suci yang menegaskan bahwa tidak ada keturunannya yang duduk di takhta Daud digenapi. Zedekia, karena pemberontkannya melawan Nebukadnezar, akhirnya menyaksikan kedua anak laki-lakinya di bunuh, kemudian ia sendiri dibutakan dan dibawa ke Babel (Yeremia 52:9-11).

Hukuman Atas Gembala-Gembala Israel

Yeremia 23:1-4. Allah mengumumkan hukuman atas para gembala, yaitu pemimpin-pemimpin rohani Israel, karena mereka telah membuat umatnya berserakan dan telah menceraiberaikan umat itu (ayat 1, 2). Akan tetapi Allah menyatakan, “Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri kemana Aku menceraiberaikannya dan aku akan kembali membawa mereka ke padang mereka; mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak” (ayat 3). Allah menyatakan bahwa kemudian Ia akan memiliki gembala-gembala untuk memelihara mereka yang akan mengurus domba-domba itu dengan benar (ayat 4). Nubuat-nubuat ini berkaitan dengan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Janji Untuk Raja Yang Benar

Yeremia 25:5-8. dalam bagian ini Allah mengungkapkan program jangka panjang-Nya untuk memulihkan Israel atau Kerajaan Daud (ayat 5,6). Allah berjanji bahwa pada hari itu baik Yehuda, kedua suku, dan Israel, kesepuluh suku, akan hidup dengan tentram (ayat 6). Rujukan hal ini kepada Kristus terbukti oleh kenyataan bahwa Dia akan disebut “TUHAN keadilan kita” (ayat 6). Tidak ada peristiwa seperti itu yang telah digenapi dalam sejarah, dan hal itu pastilah berhubungn dengan banyak bagian lain mengenai kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Pengumpulan Kembali Israel Kelak

Yeremia 23: 7-8. Pada saat nubuat ini akan digenapi, Allah menubuatkan, “Sebab itu, demikianlah Firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan, demi Tuhan yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir, melainkan: demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri kemana Ia telah menceraiberaikan mereka akan tinggal ditanahnya sendiri (ayat 7,8).

Dalam menepati banyak nubuat lain, Allah menubuatkan pemulihan dan pengumpulan kembali Israel dari seluruh muka bumi ke tanah mereka yang lama, suatu gerakan yang sudah mulai digenapi dalam abad keduapuluh dan akan digenapi secara penuh sesudah kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Meskipun Israel telah dipulihkan ke tanah mereka sesudah bertahun-tahun di Mesir dan kembali kepada pembuangan Babel dan Asyur, dan meskipun sebagian dari mereka telah kembali ketanahnya dalam abad kedua puluh, nunuat ini belum digenapi dan akan menjadi subyek penggenapan dalam kaitannya dengan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Bagin yang penting ini adalah satu pendukung yang jelas untuk penafsiran nubuat secara premillenial.

Nubuat Atas Nabi-Nabi Yang Berdusta

Yeremia 23:9-40. Sesudah menyatakan nubuat yang pasti tentang pemulihan Israel dengan pasti, Allah yang tidak berdusta untuk melanjutkan hukum-Nya tas nabi-nabi yang berdusta. Kejahatan dari mereka yang ada ditanah itu diungkapkan dengan fakta bahwa, “Negeri telah penuh dengan orang-orang berzinah” (ayat 10); sungguh, baik nabi maupun imam berlaku fasik; di rumah-Ku pun juga Aku mendapati kejahatan mereka, demikianlah Firman Tuhan” (ayat 11). Di bagin ini diungkapkan secara rinci gambaran mengenai kejahatan mereka, penyembahan mereka kepada Baal, perzinahan mereka, dan kebohongan diantara mereka seperti Sodom, dan membuat Yerusalem seperti Gomorah (ayat 12-14). Allah menubuatkan bahwa hukuman mereka akan menyebabkan mereka akan meminum air beracun (ayat 15). Nubuat-nubuat palsu (ayat 25-32). Mereka adalah nabi-nabi palsu yang mengatakan nubuat-nubuat palsu (33-37). Allah tidak memenuhi janji-janji mereka, melainkan akan membuat mereka terus menerus dipermalukan (ayat 39, 40). Nubuat-nubuat ini akan digenapi dalam pembuangan di Babel (2Tawarikh 36:11-15).

Dua Kernjang Buah Ara

Yeremia 24:1-10. Allah menunjukkan dua keranjang buah ara kepada Yeremia, yang sekeranjang sangat bagus, dan yang lain sangat buruk (ayat 1, 2). Ini digunakan sebagai ilustrasi. Buah ara yang baik itu melambangkan mereka yang dibawa kepengasingan di Babel. Allah berjanji akan memperhatikan mereka, melindungi mereka, bahkan mengembalikan mereka ketanah airnya (5-7).
Sebaliknya, buah ara yang sangat buruk itu melambangkan mereka yang tinggal ditanah airnya dengan Zedekia sebagai rajanya. Entah mereka tingal di tanah itu atau melarikan diri ke Mesir, Allah berjanji untuk menghancurkan mereka (ayat 8-10).

Tujuh Puluh Tahun Masa Pembuangan

Yeremia 25:1-14. Yeremia mengingatkan mereka bahwa mereka telah berpaling dari para nabi, walaupun Allah berjanji bahwa ia akan memberkati mereka jika mereka berpaling dari jalanya yang jahat (ayat 5). Allah menyatakan bahwa mereka tidak mendengarkan Dia (ayat 7). Karena mereka tidakj mendengarkan Allah, maka Nebukadnezar, raja Babel, akan menghancurkan mereka habis-habisan, sehingga tidak akan terdengar lagi nyanyian-nyanyian kesenangan (ayat 9, 10). Akibatnya ialah bahwa seluruh negeri akan sunyi sepi, dan mereka akan tunduk kepada Raja Babel selama tujuh puluh tahun.

Nubuat tujuh puluh tahun penawanan ini sangatlah penting karena hal itu memberikan kronologi penawanan itu. 67 tahun kemudian Daniel membaca bagian dari kitab Yeremia ini dan didorong untuk berdoa bagi bangsa Israel (Daniel 9). Hal ini sungguh menjelaskan bahwa Daniel mengambil nubuat itu secara harafiah dan janji untuk kembali ketanah air itu sebagai janji yang harafiah pula.

Allah berjanji bahwa sesudah tujuh puluh tahun, Ia akan menghakimi Babel dan akan menjadikannya “tempat yang tandus untuk selama-lamanya” (Yeremia 25:12). Nubuat ini belum pernah digenapi. Ketika bangsa Media dan Persia mengambil alih Babel, mereka tidak menghancurkan kota itu. bahkan kenyataan Babel tetap ada selama beratus-ratus tahun, bahkan sesudah Kristus datang, dan pada masa kini sedikit-demi sedikit menjadi tandus. Beberpa pakar percaya bahwa Babel akan dibangun kembali pada hari-hari akhir dan akhirnya akan dihancurkan oleh Yesus Kristus pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya seperti yang diungkapkan dalam Wahyu 18. beberapa pembangunan Babel sedang berlangsung dan menjadi objek wisata, meskipun Allah menggunakan Babel sebagai alat untuk mendisiplin bangsa Israel, tetapi pada suatu saat Allah akan menghakimi orang Babel karena kejahatan mereka dan memperbudak mereka sama seperti mereka memperbudak Israel (Yeremia 25:13,14).

Cawan Murka Allah

Yeremia 25:15-29. Allah menyuruh Yeremia untuk mengambil “piala berisi anggur kehangatan amarah ini dan minumkanlah isinya kepada segala bangsa yang kepadanya Aku mengutus engkau” (ayat 15). Ketika mereka meminumnya, maka mereka kan terhuyung-huyung dan bingung karena pedang yang hendak kukirimkan ke antaranya” (ayat 16). Meskipun jelas bahwa Yeremia tidak dapat membuat bangsa-bangsa itu meminum piala simbolis itu, hal itu menggambarkan kenyataan bahwa Yerusalemlah yang akan pertama-tama dihakimi (ayat 17,18). Sesufah Yerusalem dihakimi, bangsa-bangsa lain juga akan dihakimi, demikian juga mereka yang disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya (ayat 19-26). Ini adalah bangsa-bangsa yang telah diduduki oleh Babel, tetapi penghakiman mereka akan terus berlangsung sesudah Babel dihancurkan. Raja Sesakh dipakai oleh beberapa orang sebagai rujukan kepada Babel. Penghakiman Allah pertama-tama akan mendatangkan malapetaka ke Yerusalem, kemudian juga kepada bangsa yang hidup dengan jahat (ayat 29).

Gambaran Puitis Tentang Hukuman Yang Akan datang

Yeremia 25:30-38. bagian yang puitis ini menggambarkan Allah datang dari Surga dengan suara auman yang hebat dan membawa penghakiman yang tidsak akan terjadi sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Satu gambaran jelas juga diberikan tentang mereka yang terbunuh dalam penghakiman Allah. Mereka yang jahat akan “disembelih…rebah” (ayat 34). Tuhan akan menghancurkan para gembala demikian pula padang penggembalaan (ayat 35-37). Kedatangan Allah akan seperti singa yang meninggalkan semak belukar persembunyian-Nya” (ayat 38).

Yeremia Diancam

Yeremia 26:1-24. Yeremia disuruh Allah untuk berdiri di pelataran rumah Tuhan dn menympaikan pesan Allah mengenai hukumn yang akan datang, kecuali jika mereka bertobat (ayat 2-6). Meskipun demikian, penduduk tidak memperhatikan peringatan Yeremia. Bukanya mengikuti nubuat Yeremia, mereka justru menyatakan bahwa Yeremia sendiri harus matri (ayat 7,8). Masalah ini disampaikan secara resmi kepada para pejabat Yehuda (ayat 10,11).

Yeremia menyatakan bahwa nubuat-nubuat yang diberikannya memang diperintahkan oleh Allah. Jika mereka membunuh dia, maka mereka akan bersalah karena menumpahkan darah orang yng tidak bersalah (ayat 12-15). Sesudah Yeremia menjawab itu, kata-katanya dipandang sebagai datang dari Tuhan (ayat 16).

Nubuat Tuhan, yang diberikan pada masa Hizkia yang menyatakan bahwa Yerusalem akan dihancurkan, di dengar dan dipercayai oleh Hizkia (Yes 37:1-7), sehingga malapetaka itu tidak jatuh atasnya (Yer 26:17-19). Ketika Uria memberikan nubuat yang sama seperti Yeremia, meskipun ia telah melarikn diri ke Mesir, ia diambil kembali dan dibunuh (ayat 20-23). Tetapi Yeremia diselamatkan melalui pengaruh Ahikam dan tidak dibunuh (ayat 24). Nubuat-nubuatnya digenapi dalam pembuangan di Babel.

Yeremia Menyuruh Raja Zedekia Menyerah kepada Babel

Yeremia 27:1-22. Dengan menggunakan lambang kuk dan gandar seperti yang digunakan untuk lembu, Yeremia memberi tahu Raja-raja Edom, Moab, amon, Tirus, dan Sidon, bahwa Allah akan “menyerahkan segala negeri ini kedalam tangan hamba-Ku, yakni Nebukadesar, raja Babel; juga binatang di padang juga telah kuserahkan supaya tunduk kepadanya dan kepada anknya dan kepada cucunya, sampai saatnya juga tiba bagi negerinya sendiri, maka banyak bangsa dan raja-raja yang besar akan menaklukkannya” (ayat 6,7).

Allah menubuatkan bahwa setiap bangsa yang tidak mau takluk kepada Nebukadnezar akan dihukum “dengan pedang, kelaparan dan penyakit sampar” (ayat 8). Sesuai dengan hal itu Yeremia memperingatkan mereka agar tidak mendengarkan nabi-nabi atau juru tenung mereka atau tukang-tukang mimpi mereka yang mengatakan agar mereka tidak takluk kepada Babel (ayat 9). Bangsa-bangsa yang tidak takluk kepada Babel akan dibiarkan tinggal ditanah mereka sendiri, tetapi mereka yang menolak Nebukadnezar akan dibawa keluar (ayat 10,11).

Sebelumnya, pesan sama yang diberikan kepada bangsa-bangsa itu disampaikan kepada Zedekia, Raja Yehuda. Yeremia memperingatkannya agar tunduk kepada Babel, kalau tidak ia akan dimakan oleh pedang, kelaparan dan penyakit sampar (ayat 12,13). Sesuai dengan hal itu, seharusnya Zedekia tidak mendengarkan nabi-nbi yang memberi tahu dia agar tidak tunduk kepada Babel (ayat 14,15).

Yeremia memberi tahu para nabi bahw mereka menubuatkan kebohongan jika mereka mendesak raja agar menolak Nebukadnezar. Sebaliknya, Nebukadnezar akan merampas harta kekayaan yang tersisa di istana dn dirumah Allah dan akan membawanya ke Babel (ayat 16-22). Nubuat-nubuat Yeremia ini digenapi dalam pembuangan Babel.

Nubuat-Nubuat Nabi Palsu Hanaya

Yeremia 28:1-17. nabi Hanaya menubuatkan bahwa kuk Babel akan dipatahkan (ayat 1, 2), dan bahwa dalam dua tahun benda-benda yang dibawa oleh Nebukadnezar, raja Babel akan dikembalikan ke Yerusalem, dan kekuasaan Babel atas Yerusalem akan dipatahkan (ayat 3, 4). Hanaya melanjutkan nubuatnya, bahwa kuk Babel akan dipatahkan, tetapi Yeremia menjawab bahwa batu ujinya ialah apakah nubuat itu akan menjadi kenyataan atau tidak (ayat 9-11).

Allah memberi tahu Yeremia bahwa bukanya kuk Babel akan patah, melainkan ia justru akan “membuat gandar besi sebagai gantinya…kuk besi akan kutaruh diatas tengkuk segala bangsa ini, sehingga mereka takluk kepada Nebukadnezar, raja Babel; sungguh mereka akan takluk kepadanya! Malahan binatang-binatang di padang telah kuserahkan kepadanya” (ayat 13, 14).

Yeremia menuduh Hanaya sebagai seorang nabi palsu dan menubuatkan bahwa Hanaya akan mati pada tahun itu juga (ayat 15,16). Pada bulan ketujuh tahun itu Hanaya mati (ayat 17). Nubuat-nubuat Yeremi digenapi dalam kaitan dengan pembuangan Babel.

Surat Yeremia Yang Pertama Kepada Orang-orang Buangan: Penawanan itu berlangsung selama tujuh puluh tahun

Yeremia 29;1-23. Yeremia mengirimkan pesan kepada para tua-tua, para imam, dan para nabi yang selamat, yang telah di bawa ke Babel sebagai buangan, agar memamfaatkan rumah baru mereka, membangun rumah, menikah dan memperbanyak jumlah mereka (ayat 4-7). Mereka jangan mendengarkan nabi-nabi yang menubuatkan sebaliknya (ayat 9).

Tuhan mengungkapkan kepada Yeremia satu nubuat yang penting bahwa sesudah tujuh puluh tahun pembuangan di Babel, bangsa Israel akan diijinkn kembali (ayat 10). Kemudian Allah berjanji untuk memberkati mereka dan mendengar doa-doa mereka (ayat 11, 12). Allah akan membawa mereka kembali dari pembuangan mereka, mengumpulkan mereka dari berbagai bangsa kemana mereka pergi dan membawanya kembali ketempat darimana mereka dibawa untuk dibuang (ayat 14). Tujuh puluh tahun pembuangan ini adalah satu nubuat penting dari masa depan Israel.

Berkenanaan dengan mereka yng masih tetap di tanah air dntidak dibawa ke Babel, Allah menubuatkan bahwa mereka akan menderita karena “pedang, kelaparan dan penyakit sampar” (ayat 17), dan bahwa Ia akan membuat mereka seperti buah ara yang buruk (ayat 17). Allah idak akan memberkati mereka yang tetap tinggal di tanah itu selama masa pembuangan. Allah menubuatkan bahwa mereka yang bernubuat bertentangan dengan kebenaran Allah akan dibunuh karena kejahatan dan dusta mereka (ayat 21-23). Nubuat ini digenapi dalam masa pembuangan.

Semaya, Nabi Palsu itu, Akan Dihukum

Yeremia 29:24-32. semay mengadu kepada Zedekia dn kepada bebrapa orang imam mengenai apa yang dikatakan Yeremia kepada orang buangan di Babel bahwa mereka akan berada disana untuk waktu yang lama (ayat 24-28). Akan tetapi imam Zefanya membacakn surat Semaya itu kepada Yeremia (ayat 29). Yeremia menjawab bahwa Allah, “akan menghukum Semaya, orang Nehelam itu, dan keturunannya.” Keturunannya akan dihapuskan dan tidak akan mempunyai anak cucu karena ia telah memberitakan nubuat yang palsu (ayat 31, 32). Nubuat ini digenapi (2 Taw 36:11-15)

c. Tentang Almasih Dan Pemulihan

Sebelum kita masuk fasal 30 dan 31, perlu sedikit kita kembali melihat kedepan, dimana nabi Yeremia diutus kepada suatu bangsa, yang menutup telinga dan mata sehingga menjadi tuli dan buta terhadap Firman Tuhan Tau nubuat. Dosa-dosa mereka membuat mereka menjadi buta dan tuli (bukan dalam pengertian jasmani). Mereka tidak menyadari bahwa betapa bobroknya moral dan rohani mereka, sehingga sampai mereka harus dihukum atau kena murka Allah barulah mereka akan bertobat dan mau mendengar (22:21); sekarang mereka tidak dapat mendengar (6:10). Mereka sudah tidak ada gunanya didoakan lagi; tiga kali Tuhan berfirman, “Tetapi engkau, janganlah berdoa untuk bangsa ini” (7:16; 11:14; 14:11). Ada firman yang dahsyat terdapat dalam 15:1, “sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Ku, biarlah mereka pergi.”

Putusan Hakim sudah dijatuhkan, tak boleh diubah lagi! Sebagaimana terjadi di Kadesi Barnea dahulu (Bilangan 14), demikian pulalah terjadi pada zaman Yeremia – bangsa itu dijatuhi hukuman! Oleh sebab inilah, maka berita yang dibawakan oleh Nabi Yeremia, sebagian besar berupa berita tentang penghukuman.

Tapi pelayanan yang pahit getir itu mengandung janji yang gilang-gemilang. Kasih yang kekal, walaupun tertutup oleh tirai kegelapan penghukuman-penghukuman, namun senantiasa bercahaya dan berulang-ulang memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang dalam janji-janji yang menakjubkan. Tidak ada firman lainya, sekalipun diantara segala firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya sendiri, yang terlebih indah daripada janji pemulihan dan penyempurnaan yang terdapat dalam Yeremia ini. Janji itu berkali-kali dikatakan di dalam Yeremia, laksana sinar matahari yang memancar dari celah-celah awan. Lihatlah firman-firman ini: dalam 23:3-8; 30:1-11; 30:17-22; 31:1-14, 31-40; 32:37-44; 33:14-26; 3:16-18; 12:14, 15; 16:14,15.

Tepat pada jantung atau pusat kitab ini terdapat suatu gambaran Injil – kabar baik tentang hari mulia yang akan datang kelak! “Sebab, sesungguhnya, waktunya akan datang…bahwa aku akan mengembalikan mereka ke negeri yang telah Ku berikan kepada nenek moyang mereka, dan mereka akan memilikinya … mereka akan mengabdi kepada Tuhan, Allah mereka” (30:3-9). Inilah suatu penglihatan akan akan hal kerajaan seribu tahun yang akan datang kelak. Bangsa Israel akan dihimpun kembali; negerim akan dimiliki kembali ; Almasih- Raja akan memerintah, dan kemuliaan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Terang, bahwa nubuat tentang Almasih dan kerajaan seribu tahun bukanlah hanya bentuk kata berlebih-lebihan yang menggambarkan pemulihan bangsa Israel dari pembuangan. Dan jelas pula bahwa belum terjadi sesuatu yang boleh dianggap cukup mulia untuk menggenapi nubuat ini. Nubuat ini berbicra tentang kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, dan hal Ia menjadi Raja di Yerusalem, memerintah atas segenap dunia. Janji-janji Tuhan yang indah baiklah dipelajari dan diingat serta diterima dengan sukacita oleh semua umat Tuhan.

Dan lagi, dalam janji hal pemulihan ini, disitulah pertama kalinya pengumuman akan pengikatan suatu Perjanjian Baru yang akan dibuat Tuhan dengan Yehuda dan Israel. Bacalah mulai 31:31 – salah satu pasal yang paling menarik dalam nubuat PL. nabi Yeremia merasa bahwa keselamatan bagi bangsanya tidak mungkin tercapai dengan hanya berbalik kepada tata lama yang berdasarkan Perjanjian Musa. Tuhan akan memperlihatkan kepadanya bahwa Dia akan mengadakan suatu Perjanjian Baru, berdasarkan anugerah ; bukan Taurat. Taurat Musa menuntut ketaatan lahiriah, tapi Perjanjian Baru akan merupakan pembaruan batiniah dan menimbulkan keinginan dari kehendak yang suci. Perubahan besar itu akan diakibatkan oleh keampunan dosa. Perjanjian Baru akan berpusat dalam Raja sempurna, yang akan datang kelak – yaitu anak daud.

Janji tentang datangnya Almasih sudah digenapi dan tentang pemulihan kerajaan masih akan datang. Perjanjian Baru sudah diikatkan dengan darah penebusan. Tapi segala kasih karunia yang tersedia dalamnya barulah akan dikenakan kepada bangsa Israel, apabila mereka memandang kepada Dia yang telah mereka tikam (Zak 12:10), dan mengakui Dia sebagai juruselamat dan Raja mereka. Nabi Yeremia tidak beroleh karunia melihat zaman Gereja, yaitu zaman yang disisipkan sebelum kedatangan kembali Raja dan juruselamat itu. ia hanya diperkenankan melihat dari jauh kerajaan yang mulia itu, yang akan ditetapkan sesudah zaman gereja.

d. Perjanjian Lama Dan Perjanjian Baru

Yeremia 31:31-40. Allah menyatakan bahwa ia akan membuat satu Perjanjian yang Baru dengan Israel (ayat 31). Ini akan kontras dengan Perjanjian Musa yang diberikan-Nya kepada mereka di Mesir (ayat 32). Dalam Perjanjian Baru itu Allah menyatakan: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka kan menjdi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang menhgajar sesamannya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan kenallah TUHAN! sebab mereka semua, besar kecil akan mengenal Aku, demikianlah Firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka” (ayat 33, 34).

Ini adalah satu nubuat besar Perjanjian Lama yang menggambarkan Perjanjian Baru yang akan dibuat Allah, yaitu satu Perjanjian Baru yang akan dibuat Allah, yaitu suatu Perjanjian yang timbul dari kematian Kristus, yang memungkinkan Allah mengampuni Israel dan orang-orang bukan Yahudi yang datang kepada-Nya. Meskipun Allah, dalam Kasih Karunia, telah menyelamatkan dan memberkati Israel di masa lalu, penggenapan yang luar biasa untuk Israel akan terjadi sesudah kedatangan Kristus untuk kedua kalinya, pada waktu bangsa Israel dikumpulkan kembali di tanah airnya.

Kepastian yang mutlak dari Perjanjian yang baru itu adalah digambarkanya dalam ayat 35 dan 36. Perjanjian Baru itu akan sepasti hukum-hukum alam yang menggerakkan bulan dan bintang-bintang, dan yang mengaduk-aduk laut. Selama hukum-hukum alam ini ada, Allah akan meneruskn janji-janji-Nya kepada Israel. Perjanjian ini merupakan janji tanpa syarat.

Sama seperti Israel oleh kemurahan Allah diampuni di bawah Perjanjian Baru, demikian juga gereja pada masa kini menerima kasih karunia. Semua sistem kasih karunia bercikal bakal dari kematian Kristus, apakah diterapkan kepada Israel atau kepada bangsa lain. Gereja masa kini juga berperan serta dalam Perjanjian Baru itu. hal ini dapat dijelaskan dengan baik karena Perjanjian Baru mengenai kasih karunia itu dimungkinkan noleh kematian Kristus, apakah hal itu dapat diterapkan kepada Israel pada zaman Yeremia, atau gereja dalam masa PB ini. Semua kasih karunia berasal dari janji yang baru mengenai kasih karunia yang mempunyi pelbagai penerapan. Penerapan Yeremia kepada Israel secara luas digenapi dalam kaitanya dengan kedatangan kerajaan di bumi sesudah kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Janji jaminan yang kedua dari Tuhan dinyatakan hanya jika langit dapat diukur dn dasar-dasar bumi dapat diselidiki, maka ia akan menolak keturunan-keturunan israel. Kenyataannya bahkan manusia modern dengan teleskop raksasanya, tidak dapat menemukan ujung akhir dari alam semesta. Kesinambungan matahari dan bintang adalah peringatan yang konstan bahwa Allah masih akan terus menepati janji-janji-Nya kepada Israel dan mempertahankannya sebagai bangsa. Perjanjian Baru adalah satu wahyu nubuat yang besar, yang memberi pelayanan lebih lanjut dalam Perjanjian Baru, dan janji-janji-Nya yang penuh kasih karunia itu akan tetap untuk selama-lamanya.

Pada waktu yang dikaitkan dengan kerajaan masa depan, Allah mengungkapkan, “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah Firman TUHAN, bahwa kota itu akan dibangun kembali bagi TUHAN, dari menara Hanameel sampai pintu gerbang sudut; kemudian tali pengukur itu akan merentang terus sampai le bukit Gareb, lalu membelok ke Goa, dan segenap lembah itu, dengan mayat-mayat dan abu korbannya, dan segenap tanah di tepi sungai Kidron sampai ke sudut pintu gerbang Kuda ke arah Timur, akan menjadi kudus bagi TUHAN. orang tidak akan meruntuhkan dan merobohkan lagi disana untuk selama-lamanya” (ayat 38-40).

Nubuat yang luar biasa ini diberikan Yeremia kira-kira 2500 tahun yang lalu, dan kita telah melihat penggenapan modern, dalam munculnya kembali ke kota Yerusalem. Yerusalem modern telah dibangun diatas daerah yang tepat, dan sekarang ini ada gedung-gedung apartemen yang mewah, dan jalan-jalan di lokasi yang tadinya digunakan sebagai tempat timbunan sampah dan mayat. Disamping kenyataan bahwa Yerusalem sering dihancurkan, Allah mengungkapkan bahwa bagian ini tidak akan diruntuhkan, tetapi akan terus menjadi kudus bagi Tuhan sampai kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Nubuat ini adalah salah satu tanda bahwa kedatangan Tuhan mungkin sudah dekat.
e. Pengharapan

Yeremia 32:1-41. Yeremia di tahan di pelataran penjagaan istana raja, karena zedekia, Raja Yehuda, mendengar nubuat Yeremia bahwa kota itu akan ditaklukkan oleh orang Babel (ayat 3). Ia juga telah mendengar bahwa Tuhan telah memaklumkan bahwa Zedekia raja Yehuda, tidak akan luput dari tangan orang Kasdim, melainkan pasti akan diserahkan kedalam tangan Raja Babel, sehingga ia berbicara dengan dia mulut sama mulut dan melihat dia mata sama mata” (ayat 4). Nubuat Yeremia selanjutnya menyatakan bahwa Zedekia akan dibawa ke Babel, dan jika Israel berperang melawan Babel, mereka tidak akan berhasil (ayat 5).

Sebagai tanda janji Allah bahwa Israel akan kembali ketanah itu, Yeremia disuruh membeli sebidang tanah dari Hanameel, saudara sepupunnya (ayat 6-7). Dalam ketaatanya kepada Allah, Yeremia membeli tanah itu dan didaftarkan sebagaimana mestinya (ayat 8-12). Kemudian menyuruh Barukh untuk mengmbil dokumen-dokumen itu dan menyimpannya di bejana tanah liat supaya awet. Yeremia bernubuat, “Sebab beginilah Firman Tuhan semesta alam, Allah Israel: Rumah, Ladang dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini” (ayat 15).

Sesudah transaksi itu, Yeremia berdoa berkenaan dengan penanganan Allah terhadap Israel dimasa lalu, penyerangannya oleh orang Babel, dan menubuatkan bahwa kota itu akan diserahkan kepada mereka (ayat 17-25).

Allah mengulangi nubuat bahwa ia akan menyerahkan kota Yerusalem kepada orang Babel (ayat 26-28). Orang Babel akan merebut kota itu karena orang Yehuda telah menimbulkan amarah Allah dengan membakar kemenyan untuk Baal (ayat 29).

Alasan untuk penghukuman Allah atas Israel dirinci pada saat Israel membuat Allah murka, membuat berhala-berhala dan menyembah dewa-dewa kafir (ayat 30-35). Disamping dosa-dosa Israel dan hukuman Allah ke atasnya, Ia berjanji, “Sesungguhnya, Aku mengumpulkan mereka dari segala neger, kemana aku menceraiberaikan mereka karena murka-Ku, kehangatan amarah-Ku dan gusar-Ku yang besar, dan Aku akan mengembalikan mereka ketempat ini dan akan membuat mereka diam tentram. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka” (ayat 37, 38). Allah menjajikan suatu perjanjian kasih karunia yang kekal dan Allah akan terus memperlakukan mereka dengan baik (ayat 39, 40).

Allah mengulangi pernyataan dan rencana-Nya untuk membawa kembali Israel ke tanah airnya dimana ladang-ladang akan dijual dan perjanjian-perjanjian akan ditandatangani. Allah berjanji untuk memulihkan harta bendanya (ayat 42-44). Hal ini digenapi sesudah pembuangan di Babel.

f. Masa Depan Yehuda

Yeremia 33:1-26. Allah menubuatkan bahwa Babel akan mengalahkan Yerusalem dan bahwa rumah-rumahnya akan dipenuhi dengan mayat (ayat 4, 5).

Sama seperti Allah memberi hukuman kepada Israel atas dosa-dosanya, demikian juga Allah akan merentangkan kasih karunia-Nya dalam pelayanan penyembuhan untuk umat-Nya di masa depan. Baik Israel maupun Yehuda akan pulang kembali dari pembuangan (ayat 6, 7). Allah akan membersihkan mereka dari dosa dan mengampuni pemberontakan mereka (ayat 8). Sekali lagi mereka akan dikenal kembali, memiliki sukacita, kehormatan dan kelimpahan yang berlimpah ruah (ayat 8, 9). Janji-janji mengenai berkat-berkat dimasa depan ini akan membuahkan penyembahan pujian mereka kepada Allah (ayat 10, 11). Allah mengulang janji-Nya untuk memulihkan Israel. Padang-padang penggembalaannya akan dipenuhi dengan gembala dan kawanan ternaknya (ayat 12, 13).

Dalam pemulihan kembali Israel dimasa mendatang, dalam masa seribu tahun, Allah akan membangkitkan keturunan Daud (ayat 15). Pada saatmnya nanti, Yerusalem dan Yehuda akan diselamatkan dan namanya akan disebut “Tuhan keadilan kita” (ayat 16). Allah berjanji bahwa rumah Daud tidak akan pernah tidak ada orang yang layak duduk di takhta dan hal yang sama akan terjadi bagi para imam lewi (ayat 17, 18). Hal ini akan digenapi oleh Kristus. Disini Allah menegaskan perjanjian-Nya dengan Israel sebagai sesuatu yang tidak dapat diingkari. Allah berjanji bahwa umat-Nya tidak akan dapat dihitung, sama seperti bintang-bintang, dan tidak dapat ditakar sama seperti pasir (ayat 19-22, bandingkan dengan Kejadian 15:5; 26:4; 28:14).

Laporan bahwa Allah telah menolak seluruhnya kerajaan Israel dan kerajaan Yehuda tidklah benar. Allah menyatakan bahwa Ia telah membuat perjanjian-Nya dengan mereka sama seperti hukum-hukum yang mengatur siang malam.

g. Penghukuman Allah Atas Babel

Nubuat terakhir dari kitab Yeremia adalah tentang hukuman bagi Babel. Panjangnya 110 ayat, dan inilah nubuat terpanjang dalam kitab ini dan yang telah digenapi dengan lengkap. Kelengkapan penggenapan nubuat ini menjadi bukti bahwa kitab ini berasal dari pengilhaman Tuhan. dan tidak mengherankan kenapa nyanyian tentang penghukuman Babel ini begitu penting bagi para kritikus modern. Mereka berusaha melenyapkan faktor ilham, dengan mengatakan bahwa pasal ini berasal dari zaman sesudah pembuangan. Menurut mereka tidak mungkin pasal ini ditulis oleh nabi Yeremia, karena pendiriannya lain dari pada pendirian zaman nabi itu, seperti dikatakan oleh Dr. Driver, nubuat itu menubuatkan kota Babel yang telah binasa, bangsa Yahudi telah ada di tanah pembuangan, menanggung sengsara karena dosanya.’

Tapi ada tiga fakta yang merobohkan alasan itu:
1. Mereka sendiri percaya bahwa gaya bahasa dari fasal 50-51:64 adalah merupakan gaya bahasa dan ciri khas dari penulisan Yeremia (Graf seorang kritikus Biblika modern mengatakan hal yang senada dengan hal tersebut)
2. Tidak ada nubuat lainnya yang lebih dapat dipercaya daripada nubuat ini. Permulaannya berbunyi, ‘Firman yang disampaikan Tuhan dengan perantaraan Yeremia…’ sedang bagian akhirnya berbunyi ‘sampai disinlah perkataan-perkataan Yeremia’ (50:1; 51:64). Jadi penulisan nubuat ini diteguhkan dengan dua macam jaminan. Dan selanjutnya masa nubuat ini dinyatakan dengan terang sekali, yaitu pada tahun yang ke-4 dri kerajaan Zedekia, raja Yehuda (51:59-63), yaitu 7 tahun sebelum kejatuhan Yerusalem.
3. Dalam nubuat ini ada bagian-bagian yang melihat lebih jauh lagi kepada masa sehabis zaman pembuangan di Babel. Lihatlah 50:14-16, Firman ini mnubuatkan hal kebinasaan tembok-tembok dan alas negeri Babel. Pengrusakan seperti itu dn banyak lagi yang lain terjadi pada waktu negeri Babel dikalahkan oleh raja Koresy pada penghabisan zaman pembuangan, tetapi terjadi 500 tahun kemudian. Apakah para kritikus itu mengatakan sekarang, bhwa Firman ini tidak ditulis oleh Yeremia dan mempunyai ‘penderin’ lain karena pada zaman Yeremia tembok-tembok kota Babel belum dibinasakan? Menurut keterangan mereka (Keterangan Dr. driver) – nubuat ini barulah ditulis 500 tahun sesudah zaman pembuangan, yaitu menjelang masa Tuhan Yesus! Teori ini sungguh tidak masuk akal, dalam kitab nubuat lainpun ada banyak nubuatan tentang hal-hal yang akan terjadi yang mungkin masih sangat jauh didepan baru akan digenapi. Bahkan ada banyak nubuat yang baru akan digenapi pada kerajaan seribu tahun nanti. Jadi dengan demikian kita tidak perlu mergukan penulis dan waktu penulisan kitab, sebab yang jelas author dari kitab ini adalah Tuhan yaitu Dia yang Maha Tahu yang tahu tentang hari yang akan datang.

h. Arti Yeremia Selaku Bayang-Bayang Kristus

sebelum kita mengakhiri kitab Yeremia, maka kita kembali mengingat dan mempelajari sedikit tentang Yeremia sebagai bayang-bayang Kristus. Yeremia adalah orang yang lemah lembut, berani, setiawan dan senantiasa abar menanggung sengsara yang hebat. Pengalaman-pengalamannya semasa hidupnya, tekanan-tekanan perasaannya di dalam hatinya, semuanya itu menunjukkan bahwa tokoh Yeremia adalah tokoh luar biasa. Lihat 9:1; 11:19; 13:17; 15:16-21; 20:10; 26:11-15; 37:15,16; 38:6; Rat 3:14. dalam Aslkitab kita melihat betapa kasih Yeremia, kesabarannya, dan sengsarannya karena orang berdosa. Jika Yeremia bukan lambang Kristus maka tentulah ia sebgai bayang-bayang Kristus.

Dr. G.C. Morgan berkata, “Nubuat ini pastilah belum kita hayati benar-benar, seandainya kesan yang kita peroleh melulu tentang kesan tentang penderitaan seorang manusia. Tersurat didalamnya, “Sekiranya kepalku penuh dengan air, dan mataku menjadi pancuran air mata, maka siang malam aku akan menangisi orang-orang putri bangsaku yang terbunuh!” (9:1).

Apakah kita dapat menjumpai orang yang dalam dirinya digenapi dengan sempurna kedudukan ayat diatas? Kita sudah berjumpa dengan Dia. masa berabad-abad lamanya sudah berlalu di lereng bukit Zaitun kita bertemu dengan seorang manusia yang lebih kesepian lagi daripada nabi Yeremia. Dia memandang kekota Yerusalem dan menghukum kota itu sambil menangis. Itulah penggenapan nubuat Yeremia. Artinya sengsara Yeremia tersingkap dalam sengsara Tuhan Yesus dan sengsara Tuhan Yesus tersingkap dalam sengsara Allah.

Sebab itu perhatikanlah baik-baik manusia istimewa yang bernama Yeremia ini. Dan marilah kita memohon kekuatan supaya kita juga dapt melayani Tuhan dengan semangat dan kesetiaan yang sama seperti nabi ini.
KITAB RATAPAN

I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Judul kitab ini diambil dari judul tambahannya dalam naskah PL terjemahan Yunani dan Latin — “Ratapan Yeremia.” PL Ibrani memasukkan kitab ini sebagai salah satu di antara lima kitab gulungan (bersama Rut, Ester, Pengkhotbah dan Kidung Agung) dari bagian ketiga Alkitab Ibrani, yaitu bagian Hagiographa (“Tulisan-tulisan Kudus”); masing-masing dari kelima kitab ini secara tradisional dibacakan pada saat tertentu dalam tahun liturgi Yahudi. Ratapan ini ditetapkan untuk dibaca pada hari kesembilan dari bulan Ab (sekitar pertengahan Juli), bilamana orang Yahudi memperingati penghancuran kota Yerusalem. Versi Septuaginta menempatkan Ratapan langsung setelah kitab Yeremia, tempatnya dalam kebanyakan Alkitab masa kini. Sudah lama para pakar Yahudi dan Kristen menyetujui bahwa Yeremia adalah penulis kitab ini. Di antara berbagai bukti yang mendukung kesimpulan ini terdapat yang berikut:

1. Dari 2Taw 35:25 kita mengetahui bahwa Yeremia biasa menggubah syair ratapan; apalagi, kitab nubuat Yeremia sering kali menyebut bagaimana ia meratapi kebinasaan Yerusalem yang akan datang. (lih. Yer 7:29; Yer 8:21; Yer 9:1,10,20).
2. Gambaran yang hidup dalam kitab Ratapan tentang peristiwa malapetaka itu memberikan kesan bahwa ini dikisahkan oleh seorang saksi mata; Yeremia adalah satu-satunya penulis kitab PL yang diketahui telah menyaksikan langsung musibah Yerusalem pada tahun 586 SM.
3. Terdapat beberapa persamaan tema dan gaya bahasa di antara kitab Yeremia dengan kitab ini. Misalnya, kedua kitab ini menghubungkan penderitaan Yehuda dan kebinasaan Yerusalem karena dosa dan pemberontakan yang terus-menerus terhadap Allah. Dalam kedua kitab ini Yeremia menyebut umat Allah sebagai “anak dara” -Nya (Yer 14:17; Yer 18:13; Rat 1:15; Rat 2:13). Fakta-fakta ini, bersama dengan kesamaan di antara kedua kitab ini dalam gaya penulisan syairnya, menunjuk kepada penulis yang sama.

Ketandusan Yerusalem digambarkan demikian jelas dan hidup dalam Ratapan sehingga menunjukkan bahwa peristiwa itu baru saja dialami penulisnya. Yeremia sendiri berusia 50-an ketika kota itu jatuh; dia mengalami sepenuhnya traumanya dan dipaksa ke Mesir pada tahun 585 SM (lih Yer 41:1–44:30), di mana dia wafat (mungkin sebagai orang syahid) dalam dasawarsa kemudian. Jadi, kitab ini mungkin sekali ditulis segera
setelah pembinasaan Yerusalem (586-585 SM).

b. Penulis : Yeremia

c. Tanggal Penulisan : 586 – 585 SM

d. Tema : Kesusahan yang Sekarang dan Harapan Masa Depan
e. Tujuan Penulisan

Yeremia menulis serangkaian lima ratapan untuk mengungkapkan kesedihan yang sangat dan penderitaan emosionalnya atas kerusakan Yerusalem yang tragis:

1. Keruntuhan yang memalukan dari kerajaan dan keturunan Daud,
2. Pembinasaan sama sekali dari tembok-tembok kota, Bait Suci, istana raja dan kota pada umumnya, dan
3. Pembuangan yang menyedihkan ke Babel dari kebanyakan orang yang tidak dibunuh.

Yeremia duduk sambil menangis dan meratap dengan ratapan ini atas Yerusalem, bunyi sebuah super skripsi pada kitab ini dalam versi Septuaginta dan Vulgata Latin. Dalam kitab ini, kesedihan sang nabi menyembur keluar bagaikan kesedihan seorang peratap pada saat penguburan kerabat dekat yang mati secara tragis. Semua ratapan ini mengakui bahwa tragedi tersebut merupakan hukuman Allah atas Yehuda karena pemberontakan berabad-abad para pemimpin dan penduduknya terhadap Dia; kini hari perhitungan telah tiba dan hari itu amat dahsyat. Dalam Ratapan, Yeremia bukan hanya mengakui bahwa Allah benar dan adil dalam segala jalan-Nya, tetapi juga bahwa Dia itu murah hati dan berbelas kasihan kepada mereka yang berharap kepada-Nya (Rat 3:22-23,32). Jadi, Kitab Ratapan memungkinkan umat itu memiliki pengharapan di tengah-tengah keputusasaan mereka dan memandang lebih jauh dari hukuman pada saat itu, kepada saat Allah
akan memulihkan umat-Nya kelak.

f. Isi Ringkas

Kitab ini merupakan serangkaian lima ratapan, tiap ratapan itu dalam sendirinya lengkap. Ratapan pertama (pasal 1; Rat 1:1-22) menggambarkan kerusakan Yerusalem dan ratapan sang nabi atas kota itu ketika ia berseru kepada Allah dalam penderitaan jiwanya; kadang-kadang ratapannya melambangkan ratapan Yerusalem (Rat 1:12-22). Dalam ratapan kedua (pasal 2; Rat 2:1-22), Yeremia melukiskan penyebab kerusakan ini sebagai murka Allah atas umat pemberontak yang menolak untuk bertobat. Musuh Yehuda menjadi sarana penghukuman Allah. Syair berikutnya (pasal 3; Rat 3:1-66) mendesak bangsa itu untuk ingat kembali bahwa Allah sungguh-sungguh pemurah dan setia, dan bahwa Dia itu baik kepada mereka yang mengandalkan diri-Nya. Yang keempat (pasal 4; Rat 4:1-22) mengulang kembali tema ketiga syair sebelumnya. Di dalam syair yang terakhir (pasal 5; Rat 5:1-22), setelah pengakuan dosa dan kebutuhan Yehuda untuk pengampunan, Yeremia berdoa kepada Allah untuk mengembalikan umat itu kepada perkenan-Nya lagi.
Kelima ratapan di dalam kitab ini, yang sama dengan jumlah pasalnya, masing-masing terdiri atas 22 ayat (kecuali pasal 3; Rat 3:1-66 yang memiliki 22 kali 3, yaitu 66 ayat); nomor 22 adalah jumlah huruf dalam abjad bahasa Ibrani. Empat syair pertama merupakan akrostik abjad, yaitu setiap ayat (atau dalam pasal 3; Rat 3:1-66 setiap perangkat dari tiga ayat) dimulai dengan huruf Ibrani yang berbeda dari Alef hingga Taw. Susunan menurut abjad ini, di samping mempermudah penghafalan, juga melaksanakan mencapai dua hal:

1. Susunan ini menyampaikan gagasan bahwa ratapan-ratapan ini lengkap, meliputi segala sesuatu dari A hingga Z (Ibr- Alef hingga Taw).
2. Dengan menyusun semua ratapan sedemikian, sang nabi dibatasi untuk terus-menerus meratap dan menangis; semua ratapan ada akhirnya, sebagaimana halnya suatu saat pembuangan akan berakhir dan Yerusalem akan dibangun kembali.

g. Ciri-ciri Khas

Lima ciri utama menandai kitab Ratapan.

1. Sekalipun di dalam Mazmur dan kitab para nabi ada ratapan pribadi dan ratapan umum, hanya kitab ini di Alkitab yang semata-mata terdiri atas syair-syair duka.
2. Susunan kesusastraan kitab ini sama sekali syair; dengan empat dari kelima syair itu bersifat akrostik (lihat alinea terakhir bagian “Survai”). Sesuai dengan susunan syair kitab ini, syair kelima juga terdiri atas 22 ayat.
3. Sedangkan 2Raj 25:1-30 dan Yer 52:1-34 melukiskan peristiwa sejarah pembinasaan Yerusalem, hanya kitab ini yang dengan hidup menggambarkan emosi dan perasaan orang-orang yang benar-benar mengalami musibah tersebut.
4. Pada inti kitab ini terdapat salah satu pernyataan paling kuat tentang kesetiaan dan keselamatan dari Allah di dalam Alkitab (Rat 3:21-26). Walaupun kitab Ratapan dimulai dengan sebuah ratapan (Rat 1:1-2), secara tepat kitab itu berakhir dengan nada pertobatan dan harapan untuk pemulihan (Rat 5:16-22).
5. Tidak ada kutipan dari kitab ini dalam PB selain beberapa ibarat (bd. Rat 1:15 dengan Wahy 14:19; Rat 2:1 dengan Mat 5:35; Rat 3:30 dengan Mat 5:39; Rat 3:45 dengan 1Kor 4:13).

h. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Sekalipun Ratapan tidak dikutip sama sekali dalam PB, kitab ini memiliki relevansi langsung bagi mereka yang percaya pada Kristus. Seperti halnya Rom 1:18–3:20, kelima pasal ini meminta orang percaya untuk merenungkan kehebatan dosa dan kepastian hukuman ilahi. Pada saat yang sama, kitab itu mengingatkan bahwa oleh karena belas kasihan dan kemurahan Tuhan, keselamatan tersedia bagi orang-orang yang bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada-Nya. Selanjutnya, air mata sang nabi mengingatkan kita tentang air mata Yesus Kristus, yang menangisi dosa-dosa Yerusalem karenamengetahui kebinasaannya yang akan datang oleh tentara Romawi (Mat 23:37-38; Luk 13:34-35; Luk 19:41-44).

II. Tafsiran Beberapa Tema Penting

a. Puisi I-V

Kitab Ratapan terdiri dari lima puisi yang sekarang kita sering sebut lima pasal. Kecenderungan kita mengatakan bahwa kitab ratapan adalah lima fasal karena kita tidak memiliki pengetahuan yang dalam tentang bahasa Ibrani. Seandainya kita memhami bahasa Ibrani dengan baik maka kita akan melihat bahwa kitab Ratapan adalah kitab yang penulisannya berupa puisi dan mungkin kta akan mengatakan bahwa kitab ratapan terdiri dari lima puisi.

Jadi kitab Ratapan adalah kitab yang ditulis dalam bentuk puisi. Empat puisi yang pertama adalah berupa sajak akrostik yang alfabetis dan terdiri dari dua puluh dua bait. Puisi terakhir bukan akrostik, walaupun sesuai dengan pola dua puluh dua bait. Puisi satu terdiri dari tiga baris dalam setiap bait, dan hanya kata pertama dari baris pertama sesuai dengan alfabet. Pola itu juga dikuti oleh puisi dua , sedangkan puisi IV menunjukkan bentuk Akrostik yang sama, tetapi setiap bait hanya terdiri dari dua dan bukan tiga baris. Sebagai perbandingan puisi tiga terdiri dari tiga baris seperti pada puisi satu dan dua, namun setiap huruf dari alfabet memulai tiga baris yang ditetapkan untuknya dan bukan hanya baris pertama. Perbedaan kecil lainnya terjadi pada puisi II, III, dan IV dibandingkan dengan puisi satu.

Puisi-puisi ini sepertinya indah sekali jika dibaca dengan pola berirama. Seorang analisi Biblika yang bernama Karl Budde mengatakan bahwa dia mengenali kitab ratapan dengan pola irama Qinah, karena ia memandangnya sebagai irama standar untuk perkabungan atau ratapan. Irama itu memiliki suatu pola menurun dengan tiga penekanan dalam parohan pertama baris dan dua dalam parohan kedua (3+2). Teori itu bersama teori-teori irama puisi Ibrani yang lebih lama, telah dikritik dalam tahun-tahun terakhir ini. Telah dikatakan bahwa pola Qinah tidak terbatas pada Ratapan atau nyanyian penguburan (band, Mis Yes 1:1:10-12; Kid 1:9-11). Lagi pula banyak baris dalam kitab Ratapan menunjukkan pola yang seimbang (3+3) dan bukannya jenis yang menurun.

Para peneliti bentuk sastra berusaha menawarkan wawasan tentang jenis sastra setiap puisi. Herman Gunkel mengajukan puisi I, II, IV sebagai contoh nyanyian pemakaman nasional. Puisi III adalah terutama sebuah ratapan pribadi, dan puisi V merupakan ratapan rakyat. Otto Eisfeldt menyetujui pendapat ini. Gottwald juga mencari dukungan dalam metode bentuk sastra dan mengajukan usulan bahwa ratapan nasional adalah jenis yang utama, walaupun ia mengakui bahwa pengarang menggabungkan jenis-jenis puisi. Sebaliknya Hillers mengajukan pendapatnya bahwa penelitian bentuk sastra tidak banyak membantu kit untuk untuk memahami puisi-puisi ini. Mungkin kata-kata peringatannya perlu diperhatikan, dan wawasan terbesar yang kita miliki dari penelitian bentuk sastra adalah bahwa puisi-puisi ini tertulis dalam bentuk ratapan.

Usulan Robert Gordis bahwa fsal 3 paling baik dipahami dalam rubrik kepribadian yang berubah-ubah, ragu-ragu antara ratapan rakyat dan pribadi, tampaknya suatu cara yang tepat untuk memandang puisi utama itu. selain pemahaman bahwa kitab itu adalah ratapan, kita juga bisa melihatnya sebagai suatu personifikasi sastra. Puisi I, II, IV, dan V pada dasarnya adalah ratapan dari mulut Yerusalem yang dipersonifikasikan, berbaur dengan komentar pengarang. Contohnya dalam pasal 1:12-16 kita mendengar kota Yerusalem berkata:

Acuh tak acuhkh kamu sekalian yang berlalu?
Pandanglah dan lihatlah, apakah ada kesedihan
Seperti kesedihan yng ditimpakan Tuhan kepadaku,
Untuk membuat aku merana tatkala murka-Nya menyala-nyala!
Tuhan membuang semu pahlawanku
Yang ada dilingkungnnku;
Ia menyelenggarakan pesta menentang aku
Untuk membinasakan teruna-terunaku;
Tuhan telah menginjak-injak putri Yehuda, dra itu,
Seperti orang mengirik memeras anggur.
(Ratapan 1:12,15)

Komentar pengarang dilanjutkan diayat 17 dengan menunjuk kepada Sion sebagai orang ketiga, dan ratapan kota yang dipersonifikasi itu diteruskan di ayat 18.

Puisi III bisa dipandang sebagai suatu Ratapan yang diucapkan oleh bangsa yang dipersonifikasi. Yerusalem dilihat sebagai suatu pribadi yng feminim dalam puisi-puisi itu. namun jika yang berbicara itu Yehuda di pasal 3, maka hal itu menjelaskan kata-kata pembuka, “Akulah yang melihat sengsara disebbkan cambuk murka-Nya” (3:1). Karena tema murka Yahweh begitu kuat dalam sebagian besar puisi dan Yerusalem merenungkan kenyataan dan murka Ilahi, maka wajarlah bagi bangsa itu untuk berbicara suatu saat dalam kitab ini dan menerima kenyataan yang menakutkan tentang kejatuhan dan pembuangan. Tentu saja hal itu juga bisa diharapkan pengarang kita untuk mengikuti bentuk seni yang sama seluruhny. Harus diakui bahwa pertanyaan ini sulit dan bisa dibenarkan dengan salah satu cara, pengarang/ kota yang dipersonifikasikan/ bngsa yang dipersonifikasikan.

Kehancuran Yerusalem dan Yehuda dan pembuangan ke Babel merupakan pokok bhsan kitab ini yang tak bisa di bantah,. Bencana utama menimpa Yerusalem dan bangsa itu pada tahun 586 SM, meskipun jumlah orang buangan yang dibawa ke Babel pada waktu itu lebih sedikit daripada jumlh pada tahun 597, peristiwa-peristiwa yang menakutkan pada tahun 586 mengakhiri sejarah Yehuda sebagi suatu bangsa dan menurunkan dinasti Daud yang telah memerintah selama empat abad. Dan lebih buruk lagi diantara puing-puing kehancuran itu hubungan rohani dengan Yahweh hancur berantakan.

Supaya kita lebih memahami kitab ini, maka kita akan melihat secara singkat bagaimana gambaran dan isi dari kelima puisi tersebut.

Puisi I

Adalah ratapan atas keadaan Yerusalem yang menyedihkan sesudah kehancuran oleh Babel. Tema pasal ini adalah keadaan kota yang sunyi dan tak menyenangkan.

Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai!
Laksana seorang jandalah ia,
Yang dahulu agung diantara bangsa-bangsa.
Yang dahulu rtu diantara kota-kota,
Sekarang menjadi jarahan.
Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis,
Air matanya bercucuran di pipi;
Dari semua kekasihnya,
Tak ada seorangpun yang menghibur dia.
Semua temanya menghianatinya,
Mereka menjadi seterunya.
(Ratapan 1:1-2)

disini tema pasal ini diperkenlkan. Tidak adanya penghibur diulangi do ayat 9, 16, 17 dan 21. arti yang lebih penting adalah pengakuan di ayat 18 bahwa Tuhan benar dalam apa yang diperbuat-Nya karena Yerusalem mendurhaka pada Firman-Nya. Puisi ini tidak menutup penyingkapan diri sendiri bahwa dosa-dosa bangsa itu yang mendatangkan bencana (1:5, 14, 20, 22). Gambaran ketandusan yang jelas, sebuah kota yang sedih dan merenungkan penghinaannya, menyediakan pentas untuk seluruh kitab ini.

Puisi II

Berbicara tentang murka Yahweh. Penyair atau bangsa itu menangis dan berseru kepada Yerusalem untuk menangis juga (2:11-19). Penulis menggunakan tiga kata benda Ibrani yang berbeda untuk murka Yahweh dan dua ungkapan verbal. Ia memandang bencna yang baru-baru ini sebagai “Hari kemurkaan Tuhan” (2:1, 22), suatu frase yang digunakan oleh Zefanya untuk menggambarkan Hari Tuhan yang akan datang (Zef 2:2-3). Yeremia juga seringkali menggunakan bahasa kemurkaan ilahi untuk menubutkan kehancuran yang akan dialami oleh Yehuda. Selanjutnya, lampiran sejarah pada kita Yeremia memberikan penjelasan yang sama atas kejatuhan Yerusalem dn pembuangan ke Babel (Yer 52:3). Kosa kata murka Yahweh itu lebih menonjol dalam tiga puisi yang ditengah-tengah (II, III, IV) di kitab ini. Seperti yang sudah kita lihat, tema pasal 1 memusatkan perhatian pada pengkuan diri, dan pad pasal 5 kembali berkabung atas keadaan Yerusalem yang menyedihkan dan menimbulkn pertanyaan mengapa Tuhan harus meninggalnya begitu lama. Dengan demikian ketiga pasal di tengah-tengah mencerminkan murka Allah, memandangnya dalam terang yang baru di pasal 3. dimana penulis memastikan tujuannya untuk mengembalikan Yehud kepada Tuhan (3:40)

Puisi III

Dihubungkan dengan fasal 2 oleh gagasan murka ilahi diajukan di fasal 3:1 dan diakhiri diayat terakhir (ay 66). Orang yang meratap itu mungkin adalah bangsa itu atau mungkin juga penulisnya (Yeremia). Penulis menjelaskan bahwa penderitaan bangsa itu disebabkan oleh cambuk murka Tuhan, penulis menyuarakan keluhan seperti Ayub (3:3-20). Diikuti oleh keyakinan percaya kepada Tuhan (ay 21-36). Kemudian bagian terakhir fasal ini diteruskan dengan satu pengakuan bahwa bencana itu adalah perbuatan Tuhan (ay 37-39). Kemudian bagian terakhir fasal ini diteruskan dengan suatu pengakuan bahwa bencana itu adalah perbuatan Tuhan (ay 37-39), panggilan untuk bertobat (40-42), keluhan yang lain (43-54), dan diakhiri dengan mempertimbangkan apa yang akan dilakukan Tuhan terhadap musuh-musuh-Nya (ay 55-56). Pasal ini merupakan inti kitab Ratapan. C.W. Eduard Naegelsbach mengatakan bahwa fasal 3:19-40 merupakan puncak gunung yang menonjol dari kegelapan kepada terang matahari; dari sana penyair mulai turun pada kesuraman lagi. Penjelasan penyair tentang kepribadian bangsa itu adalah penting untuk memahami kitab ini. Tuhan telah melakukan peristiwa-peristiwa yang mengerikan karena dosa-dosa Yehuda (ay. 42), tetapi ia mempunyai tujuan yang memulihkan, untuk mengembalikan bangsa itu kepada Tuhan (ay 40). Sebagian kebesaran bangsa Israel Kuno terdiri dari kenyataan bahwa orang Israel mampu menghadapi dosa mereka beserta akibat-akibatnya. Kitab Ratapan merupakan salah satu pernyataan yang mendalam tentang kebesaran itu.

Puisi IV

Puisi keempat ini adalah menggambarkan reruntuhan Yerusalem yang mengejutkan diikuti oleh bala kelaparan dan penderitaan. Kota itu semakin runtuh (4:1), dan kelaparan serta kematian mengejar disetiap jalan. Bahkan pemimpin-pemimpin tidak terbebas dari hebatnya kelaparan. Wajah mereka hitam bagaikan jelaga, dan kulit mereka berkerut pada tulang-tulangnya (4:8). Wanita memasak anak-anak mereka untuk memuaskan rsa lapar yang mengganggu (4:10). Ini suatu gambaran yang sangat mengerikan. Puisi ini begitu jelas menggambarkan keadaan itu, sehingga sulit mempercayai untuk mempercayai bahwa bahwa penyair itu sendiri tidak menyaksikan hal-hal mengerikan yang diuraikannya. Mungkin kondisi ini menjadi lebih parah dengan dengan perbuatan penjarahan oleh orang Edom setelah kejatuhannya (lihat Obaja). Tanggung jawab atas peristiwa ini juga sudah ditentukan, bukan pada bangsa itu pada umumnya, tetapi pada para nabi dan ima. Mereka tidak lagi menikmati kedudukan mereka yang terhormat dalam masyarakat, tetapi telah mengembara keliling dikota dan begitu cemar oleh darah sehingga tak seorangpun dapat menyentuh pakaian mereka (4:13-16). Menempatkan tanggungjawab kepada para nabi dan imam mengingatkan kita pada Yeremia. Puisi ini berakhir dengan pengumuman bahwa penghukumn atas kejahatan putri Sion dihapuskan (4:22).

Puisi V

Adalah suatu doa di mana penyair terus meratapi keadaan Yerusalem yang menyedihkan dan mengajukan pertanyaan mengapa Tuhan telah meninggalkan mereka begitu lama (5:20). Pada waktu itu menyalahkan para ayah atau nenek moyang krena penderitaan yang sedang dialami adalah hal yang sudah biasa terjadi, “Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu” (Yer 31:29; Yeh 18:2). Jadi kata-kata ini mencerminkan rasionalisasi populer pada masa itu. puisi ini berakhir dengn suatu ayat yang sering dipermasalahkan (ay 22). Mungkin yang lebih sesuai adalah “Apa Engkau sudah membuang kami sama sekali; sangat murkakah Engkau terhadap kami?”

b. Pembuangan & Hari Tuhan (Suatu Analisa)

Di dalam pasal 1 penyair membicarakan masalah murka ilahi dan menjadikannya pusat perhatian di pasal 2. Murka ilahi itu menjadi nada tambahan di pasal 3 dan 4. kitab Ratapan menggunakan salah satu istilah “hari kemurkaan” yang digunakan oleh Yefanza untuk menjelaskan hari penghakiman yang datang atas Yehuda (Zef 2:2-3). Bencana yang menimpa Yerusalem dan pembuangan ke Babel merupakan akibat-akibat kemurkaan Yahweh (1:12;2:1,21,22). Dalam bahasa Amos hari itu adalah “kegelapan dan bukan terang.” (Amos 3:10)

Penulis juga menyadari bahwa hari Tuhan (hari murka Allah kepada Yehuda) adalah seperti pedang bermata dua. Bukan hanya Yehuda yang menerima penghukuman-Nya yang adil, tetapi juga musuh-musuh Tuhan. Maka Yerusalem berseru,

Dengarlah bagaimana keluh kesahku,
Sedang tiada penghibur bagiku;
Seteru-seteruku mendengar kecelakaannku.
Mereka bergembira karena engkau yang mendatangkannya!
Datnglah kiranya hari yang telah kau umumkan itu,
Dan biarlah mereka menjedi seperti aku!
(Ratapan 1:21)

ia yakin bahwa musuh-musuh Yehuda juga akan ditimpa oleh murka Allah yang sama dari Allah.

c. Bait Allah, Para Imam, Para nabi dan Pelayanan Agama dalam kehancuran (Suatu analisa)

Kesedihan menyelimuti Bait Allah yang hancur sangat kuat dalam kitab ini. Sukacita yang menyertai perkumpulan perayaan telah terdesak oleh kematian dan kehancuran. Tuhan meninggalkan tempat kudus-Nya dan menyerahkannya ketangan musuh (2:6).

Hiruk pikuk para penakluk yang edan dan penjarah yang serakah menciptakan kebisingan dalam bait itu yang dalam beberapa hal mirip dengan keramaian pada hari perayaan jemaah (2:7). Para imam telah mati do kota saat mencari makan (1:19). Hari perayaan telah tiba, dan tak seorangpun muncul (1:4). Para imam mengeluh. Lembaga ibadah telah hancur, sebab mereka tidak menghalangi jalan penghukuman. Para pejabatnya dan nabi-nabi palsu membantu proses persiapan kehancuran (4:13-16). Beranjak dari penglihatan yang palsu dan menipu (2:14), para nabi membuat kemajuan – mereka tidak melihat penglihatan sama sekali (2:9). Rasa malu yang menimpa nabi dan imam setelah kejatuhan layak mereka terima di negeri asing dimana mereka dicerai-beraikan (4:16).

Kitab ini, yang penuh dengan penyesalan dan penebusan dosa, membuka jiwa Yehuda bagi Tuhan dan manusia, pengakuan dosa yang jujur, keyakinan bahwa Yahweh adalah hakim dan penebus, serta harapan akan kasih setia yang diperbarui setiap pagi merupakan batu landasan yang diatasnya Israel yang diperbarui dapat berdiri. Jiwa bangsa ini telah begitu terbenam dan hampir menghirup nafas terakhir. Tetapi pada reruntuhan masa lampau itu Tuhan mulai membangun masa depan. Jiwa Israel dihihidupkan kembali sebab ia menyesali dosa-dosanya dan berharap pada Tuhan. Kitab Ratapan menyingkapkan jiwa itu, dipermalukan oleh dosa dan dimuliakan oleh anugerah kepada semua manusia.

KITAB YEHEZKIEL

I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Latar belakang sejarah Kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap:

1. Pada tahun 605 SM, pemuda-pemuda Yahudi pilihan dibawa ke Babel, antara lain Daniel dan ketiga sahabatnya;
2. Pada tahun 597 SM, 10.000 tawanan dibawa ke Babel, di antaranya Yehezkiel; dan,
3. Pada tahun 586 SM, pasukan Nebukadnezar telah membinasakan kota dan Bait Sucinya, lalu membawa sebagian besar orang yang tidak terbunuh ke Babel.

Pelayanan Yehezkiel sebagai nabi terjadi pada masa sejarah PL yang paling gelap: tujuh tahun sebelum kebinasaan itu pada tahun 586 SM (593-586 SM) dan 15 tahun setelah kebinasaan itu (586-571 SM). Kitab ini mungkin selesai sekitar tahun 570 SM.
Yehezkiel, yang namanya berarti “Allah menguatkan”, berasal dari keluarga imam (Yeh 1:3) dan tinggal di Yerusalem sepanjang 25 tahun pertama hidupnya. Dia sedang dalam pendidikan untuk menjadi imam di Bait Suci ketika dibawa ke Babel pada tahun 597 SM. Sekitar lima tahun kemudian, pada umur 30 tahun (Yeh 1:2-3), Yehezkiel menerima panggilan sebagai nabi dan penugasan ilahinya, setelah itu ia melayani dengan setia selama sekurang-kurangnya 22 tahun (Yeh 29:17); Yehezkiel berusia sekitar 17 tahun ketika Daniel dibawa pergi, sehingga keduanya kurang lebih sama umurnya. Baik Yehezkiel maupun Daniel merupakan rekan sezaman yang lebih muda daripada Yeremia dan sangat mungkin banyak dipengaruhi oleh nabi Yerusalem yang lebih tua ini (bd.Dan 9:2). Pada saat Yehezkiel tiba di Babel, Daniel sudah terkenal sebagai orang yang memiliki hikmat nubuat yang luar biasa; Yehezkiel menyebutnya tiga kali di dalam kitab ini (Yeh 14:14,20; Yeh 28:3). Berbeda dengan Daniel, Yehezkiel berkeluarga (Yeh 24:15-18) dan hidup sebagai warga biasa di antara para buangan Yahudi di tepi Sungai Kebar. (Yeh 1:1; Yeh 3:15,24; bd.Mazm 137:1).
Kitab ini dengan jelas menyebutkan bahwa nubuat-nubuatnya adalah dari Yehezkiel (Yeh 1:3; Yeh 24:24). Pemakaian kata ganti “aku” dalam seluruh kitab, bersama dengan kesatuan kitab ini dalam gaya dan bahasa yang dipakai, menunjuk kepada Yehezkiel sebagai penulis tunggalnya. Nubuat-nubuatnya dapat diberi tanggal dengan tepat karena cara penanggalannya yang teratur (bd. Yeh 1:1-2; Yeh 8:1; Yeh 20:1; Yeh 24:1; Yeh 26:1; Yeh 29:1,17; Yeh 30:20; Yeh 31:1; Yeh 32:1,17; Yeh 33:21; Yeh 40:1*). Pelayanannya dimulai bulan Juli tahun 593 SM dan berlangsung sampai sekurang-kurangnya nubuat terakhir yang dicatat pada bulan April, 571 SM.

b. Penulis : Yehezkiel

c. Tema : Hukuman dan Kemuliaan Allah

d. Tanggal Penulisan : 590-570 SM

e. Tujuan Penulisan

Tujuan nubuat-nubuat Yehezkiel terutama bersifat ganda:

1. Untuk menyampaikan berita Allah mengenai hukuman atas Yehuda dan Yerusalem yang sudah murtad (pasal 1-24; Yeh 1:1–24:27) dan tujuh bangsa asing di sekitar mereka (pasal 25-32; Yeh 25:1–32:32) dan,
2. Untuk menopang iman sisa umat Allah dalam pembuangan mengenai pemulihan umat perjanjian-Nya dan kemuliaan akhir dari kerajaan-Nya (pasal 33-48; Yeh 33:1–48:35). Sang nabi juga menekankan tanggung jawab pribadi setiap orang di hadapan Allah dan bukan memikirkan hukuman pembuangan sebagai sekadar akibat dosa-dosa leluhur saja (Yeh 18:1-32; Yeh 33:10-20).

f. Isi Ringkas

Kitab Yehezkiel disusun dengan baik, dan ke-48 pasalnya dengan sendirinya terbagi menjadi empat bagian utama.

1. Bagian pengantar (pasal 1-3; Yeh 1:1–3:27) menguraikan penglihatan penuh kuasa Yehezkiel tentang kemuliaan dan takhta Allah (pasal 1; Yeh 1:1-28) dan dilanjutkan dengan penugasan ilahi sang nabi ke dalam tugas kenabian (pasal 2-3; Yeh 2:1–3:27); perhatikan pengalaman Musa di semak yang menyala (Kel 3:1–4:31) dan penglihatan Yesaya di Bait Suci (Yes 6:13) sebagai penyataan luar biasa yang sama dari Allah pada permulaan tugas-tugas kenabian mereka.

2. Bagian kedua (pasal 4-24; Yeh 4:1–24:27) mencatat amanat Yehezkiel yang keras dan menghilangkan harapan mengenai hukuman atas Yehuda dan Yerusalem yang tidak terelakkan lagi karena mereka terus memberontak dan murtad. Sepanjang tujuh tahun terakhir dari Yerusalem (593-586 SM), Yehezkiel memperingatkan orang Yahudi di Yerusalem dan para buangan di Babel tentang harapan palsu bahwa Yerusalem akan lolos dari hukuman. Dosa-dosa Yerusalem pada masa lalu dan masa kini memastikan kehancurannya yang sekarang. Yehezkiel mengumandangkan amanat kenabian tentang malapetaka dahsyat ini melalui berbagai penglihatan, perumpamaan, dan tindakan simbolik. Ps Yeh 8:1–11:25 menggambarkan Yehezkiel dibawa Allah ke Yerusalem dalam penglihatan untuk menyampaikan nubuat-nubuat kepada kota itu. Dalam pasal 24 (Yeh 24:1-27) kematian istri tercinta Yehezkiel menjadi suatu perumpamaan dan tanda tentang akhir Yerusalem.
3. Bagian ketiga (pasal 25-32; Yeh 25:1–32:32) berisi nubuat-nubuat hukuman terhadap tujuh bangsa asing yang bersukacita atas malapetaka Yehuda. Dalam nubuat yang cukup panjang terhadap Tirus muncul suatu penggambaran samar-samar tentang Iblis (Yeh 28:11-19) sebagai kekuatan sesungguhnya di belakang raja Tirus.

4. Bagian terakhir (pasal 33-48; Yeh 33:1–48:35) menandai suatu peralihan dalam berita sang nabi dari hukuman suram ke penghiburan dan harapan di masa depan (bd. Yes 40:1–66:24). Setelah Yerusalem jatuh, Yehezkiel bernubuat tentang kebangunan rohani dan pemulihan dimasa depan, ketika Allah akan menjadi gembala yang sejati bagi umat-Nya (pasal 34; Yeh 34:1-31) dan memberi mereka “hati yang baru” dan “roh yang baru” (pasal 36; Yeh 36:1-38). Di dalam konteks ini terdapat penglihatan Yehezkiel yang terkenal mengenai sejumlah besar tulang yang secara nubuat dihidupkan kembali (pasal 37; Yeh 37:1-28). Kitab ini ditutup dengan melukiskan bahwa pada akhir zaman Bait Suci, kota suci, dan tanah suci akan dipulihkan (pasal 40-48; Yeh 40:1–48:35).

g. Ciri-ciri Khas

Tujuh ciri utama menandai kitab Yehezkiel.

1. Kitab ini penuh dengan penglihatan misterius, perumpamaan yang berani dan perbuatan simbolik yang aneh sebagai sarana penyataan nubuat Allah.
2. Isinya diatur dan diberi tanggal dengan saksama; terdapat lebih banyak tanggal daripada kitab nubuat PL lainya.
3. Dua frase khusus muncul berkali-kali:
a. “Mereka akan tahu bahwa Aku ini Tuhan” (65 kali dengan aneka variasi)
b. “kemuliaan Tuhan” (19 kali dengan aneka variasi).
4. Yehezkiel secara khusus disapa oleh Allah dengan sebutan “anak manusia” dan “penjaga”.
5. Kitab ini mencatat dua penglihatan luar biasa mengenai Bait Suci — yang pertama sebagai Bait Suci yang dinajiskan dan menanti kebinasaan (pasal 8-11; Yeh 8:1–11:25) dan yang lain sebagai dipulihkan dan disucikan dengan sempurna (pasal 40-48; Yeh 40:1–48:35).
6. Lebih dari nabi lain, Yehezkiel disuruh oleh Allah untuk menyatukan dirinya secara pribadi dengan sabda kenabian dengan melakukannya selaku lambang nubuat.
7. Yehezkiel menekankan tanggung jawab pribadi kepada Allah.

h. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Nubuat pasal 33-48 (Yeh 33:1–48:35) pada hakikatnya mengenai karya penebusan Allah di masa depan sebagaimana dinyatakan di dalam PB. Bagian ini bukan hanya berbicara tentang pemulihan Israel secara jasmaniah ke negeri mereka, tetapi juga suatu pemulihan akhir di masa depan yang mencakup penggenapan sempurna dari tujuan Allah bagi Israel rohani dalam hubunganya dengan kemuliaan dan kuasa Allah di Bait Suci (penyembahan), dan tujuan Allah bagi bangsa-bangsa sebagai hasil pekabaran Injil. Nubuat-nubuat Yehezkiel yang penting mengenai Mesias PB ialah Yeh 17:22-24; Yeh 21:26-27; Yeh 34:23-24; Yeh 36:16-38 dan Yeh 37:1-28.

Tafsiran Kitab Yehezkiel

a. Penglihatan Pendahuluan (Psl 1-3)
(Menggali Isi Alkitab: J. Sidlow Baxter)

Penglihatan yang terdapat dalam permulaan Yehezkiel adalah istimewa. Artinya begitu perlu kita pahami, sehingga segenap pelajaran ini untuk membicarakan hal tersebut. Penglihatan itu dilukiskan dalam pasal I. Isinya 3 bagian, demikian pula maksudnya. Ketiga bagian itu adalah: 1) Latar belakang, 2) bagian tengah, dan 3) klimaks yang mengagumkan. Bila kita mengerti bagian-bagian itu kita akan mengerti pula maksud-maksudnya yang tiga rangkap.

Latar Belakang

Latar belakang penglihatan itu adalah dimana Yehezkiel melihat angin badai dan segumpal awan. Awan itu berisi api yang berkilat-kilat, datang dari utara (1:4). Adapun ucapan api yang berkilat-kilat dan awan itu dikelilingi oleh sinar, menurut kata aslinya: api yang tangkap menangkap atau berkejar-kejaran. Nyala api itu memancar-mancar membahayakan. Tapi dikatakan pula, bahwa ditengah-tengah gumpalan awan dan api itu kelihatan seperti suasa mengkilat. Yang diterjemahkan suasa mengkilat disini adalah khs Yehezkiel, dan itu adalah semacam logam yang bersinar. Maksud Yehezkiel adalah bahwa ditengah-tengah gumpalan dan api itu terdapat suatu pusat atau inti yang bersinar-sinar. Inilah yang menyebabkan lukisan penglihatan ini menjadi hidup.

Apakah arti badai, awan dan api ini? Jawabnya hanya satu: ialah lambang penghukuman. Ini menjadi jelas, sebab dikatakan bertiup dari utara – dan penghukuman atas Yerusalem itu datang dari Babel, yang letaknya disebelah utara, lihatlah Yeremia 1:14-15; 4:6; 6:1. selanjutnya dikatakan ada tangan yang terulur kepada Yehezkiel, memberikan sebuah gulungan kitab…di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah dan rintihan (2:9,10). Semunya itu menyiratkan bahwa badai dan awan dan api itu mengandung arti penghukuman, seperti dikemukakan diatas. Pada masa itu Yehezkiel ada di Babel, tidak di Yerusalem; mengapa ia mengatakan bahwa penghukuman itu datang dari utara?… karena rohnya dibawa pergi dari Babel ke Yerusalem! Lihatlah bagaimana dalam 3:14 diceritakan, bahwa ia diangkat oleh Roh. Artinya sesudah penglihatan itu ialah Yerusalem; dan maksud di balik lambang-lambang itu ialah akan menyatakan penghukuman yang tidak lama lagi akan dijatuhkan.

Pusat Penglihatan

Di tengah-tengah awan yang berputar-putar itu Yehezkiel melihat empat mahluk hidup (1:5). Masing-masing mahluk bermuka 4 dan bersayap 4 dan bertangan 4 (1:6,8). Perlu kita sadari bahwa ke -4 mahluk itu adalah mhluk konkret. Keempatnya adalah kerubim – hal ini dikatakan oleh Yehezkiel sendiri dalam pasal 10. yaitu dalam Kejadian disebut pintu ke taman Firdaus; kemudian disebut pula dalam Wahyu menjaga aras Tuhan di dalam Sorga (Wahyu 4). Walaupun demikian perlu disadari, bahwa cara melukiskannya dalam Yehezkiel hanyalah secara kiasan saja – karena kerub adalah roh, dan roh tidk mempuyai muka, sayap atau tangan! Kiasan itu dipakai untuk menyatakan sifat dan pekerjaan mahluk yng sangat indah itu, agar dapat ditngkap artinya oleh pikiran manusia. Dalam hal ini Yehezkiel dengan hati-hati mengatakan bahwa hanya rupanya saja yang nampak kepadanya (1:5). Ada 15 kali menggunkan kata itu! Apakah artinya bagi kita rupa 4 mahluk yang hidup itu?
1. Masing-masing mahluk bermuka 4 – muka singa, muka lembu, muka manusia, muka rajawali. Artinya – Kekuatan, pengabdian, kepandaian, ketinggian. Kiasan ini mengungkapkan kekuatan yang sebesar-besarnya, pengabdian yang selembut-lembutnya, kepandaian yang sangat sempurna dan kerohanian yang setinggi-tingginya.
2. Masing-masing mahluk bersayap 4 dan bertangan 4. sebuah tangan dan sebuah sayap pada masing-masing 4 sisinya – menyatakan kesanggupan melakukan pengabdian dengan sempurna (1:6,8).
3. Masing-masing berjalan lurus ke depan; kearah mana roh itu hendak pergi kesanalah mereka pergi, mereka tidak berbalik klau berjalan (1:12). Firman ini menggambrkn bahwa krubim itu benar-benar mlaksanakan kehendak Tuhan.
4. Rupa mereka kelihatn seperti bara api yang menyala seperti suluh (1:13) – suatu ibarat yang menyatakan suatu kesucian mutlak. Dan dari api itu kilat sabung menyabung. Mhluk-mahluk hidup itu terbang kesana kemari seperti kilat (1:14) – menytakan kecepatan dan ketangkasannya pada waktu bertindak.

Jadi dalam 4 mahluk hidup itu terdapat kekuatn pengabdian, kepandaian dan kerohanian yang setinggi-tingginya; kesanggupan melakukan pengabdian degan sempurna; pelaksanaan kehendak Tuhan; kesucian yang mutlak; kecepatan dan ketangkasan bertindak.

Tapi dalam 1:15, terdapat lukisan lain yang sangat mengherankan. Di samping tiap-tiap mahluk hidup itu terdapat sebuah roda. Artinya msing-masing mempunyai empat roda, tip sisi sebuah roda (lihat 10:9). Roda itu dapat berputar dan berjalan dengan kecepatan yang luar biasa; besarnya sampai kebumi dibawahnya (1:15) dan tingginya sampai kelangit – mereka mempunyai lingkar dan aku melihat, bahwa sekeliling lingkar yang empat itu penuh dengan mata. (1:18). Catatlah 4 jentera itu menghubungkan mahluk sorgawi itu dengan bumi!

Yang lebih ajaib lagi, roda-roda yang sangat besar itu msing-msing terdiri dari dua roda yang menjadi satu. Keempatnya adalah serupa, buatnya adalah seolah-olah roda yang satu ditengah-tengah yang lain (1:16). Seringkali penafsir berpikir.bahwa hanya ada satu roda besar, dengan memunyi stu roda kecil ditengah-tengah, lalu keduanya berpusing sejalan dan searah. Bukan demikian maksud Yehezkiel. Ini nyata dari lukisannya mengenai roda-roda dan 4 mahluk hidup, mreka tidak berbalik kalau berjalan, masing-masing berjaln lurus kedepan (1:9, 12,17).

Bagaimanakah caranya 4 mahluk hidup itu berjalan tanpa usah memalingkan diri karena mereka masing-masing bermuka 4; masing-masing menghadap ke utara, timur, selatan, dan ke barat. Maka tidak perlu ia berpaling kesalah satu jurusan, dan jika akan terbangun, tidak usah memalingkan diri; karena masing-masing mahluk itu bersayap 4, sebuah pada tiap-tiap sisi; jadi jika akan menuju kesuatu arah, telah tersedia sepasang sayap yang akan tinggal digerakkan saja. Dan roda itupun demikian pula, tidk ada yang harus dipalingkan terlebih dulu. Tinggal digerakkan saja; karena masing-masing erdiri dari dua buah yang dipasng bersilang, sebuah berpusing dri uatara keselatan dn sebuah lagi dari timur kebarat. Roda semacam itu mustahil dapat dibuat; tapi kita lihat disini adalah lambang atau ibarat.

Roda yang dapat berpusing dan berjalan secepat kilat kesegala jurusan tanpa ush berpaling itu, mempunyai lingkar dan yang 4 itu penuh dengan mata (1:18). Dengan sendirinya segenap mata yang tak terhitung banyaknya itu memandang kesegala penjuru. Apapun pasti terliht olehnya; tidak stupun yang tersembunyi dari pemandangannya. Maka jelaslah kiranya bahwa ini melambangkan sifat kemahatauan.

Dan terakhir roda yang hebat itu penuh dengan kehidupan dari mahluk-mahluk hidup itu sendiri – Roh mahluk-mahluk hidup itu berada di dalam roda-rodanya (1:20). Justru roda-roda itu secara seksama dan sempurna melakukn kehndak dan gerakan keempat mahluk hidup itu (1:21).

Menurut Sidlow Baxter gambaran tentang kerub itu adalah lambang dari penghukuman yang segera akan datang mengalahkan orang Yehuda, lalu bangsa ini akan dibawanya sebagai tawanan ke tempt pembuangan. Penjelasan yang diberikan kepada Yehezkiel melalui penglihatn kerub-kerub dengan roda-rodanya, maksudnya ialah menyatakan kepadanya bahwa segala penghukuman yang bakal terjadi diatas bumi, hanya merupakan bayangan dari apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam alam yang tidak kelihatan. Segala peristiwa yang erjadi diatas bumi ini janganlah dianggap terpisah dri peristiwa yg terjadi dialam yang tidk kelihatan. Pada dasarnya dibalik pristiwa itu ada mahluk rohani yang datang dari Tuhan. Itulah yang hendk dijelaskan kepada Yehezkiel, secara khusus dalam hubungannya dengan kebinasaan Yerusalem. Dan kita sekalianpun harus tahu dengan jelas akan hal itu, istimewa dalam hubungnny dengan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada zaman sekarang ini. Jdi maksud dri penglihatan ini adalah untuk menyingkapkan bahwa dibalik segala peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini terdapat pekerjaan kuat kuasa sorgawi.

Betapa mencolok hal itu disingkapkan oleh roda-roda tersebut. Roda-roda itu berda diatas tanah tapi tingginy sampai kelangit. Rod-roda itu bergerak dn berjalan kesana kemari diatas bumi, tapi semuany digerakkan oleh kuasa ari atas – karena Roh mahluk-mahluk hidupitu berada dalam roda-rodannya. Rod-rod yang hebat dncepat jalannya itu adalah jentera pemerintahn Tuhan, yaitu roda providensia Tuhan dan khususny pelaksanaan penghukuman yang berup providensia itu. Roda-rod pemerinthn Tuhan berjlan secepat kilat tnp dapat dielakkan oleh siapapun, bergerak kesegala jurusan dunia. Juga tidak perlu berpaling atau berbalik, karena ia menghadap kesegala tempat dan penjuru dunia, lagi penuh dengan mata yang serentak melihat keutara, selatan, timur dan barat dan melihat segl sesutu disegala tempt pad setiap saat.

Sebagaimana roda-roda itu menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi dengan kuasa di sorga, demikianpula keempat mahluk hidup di atas roda itu melambangkan hidup Allah. Telah kita ketahui keempat muka itu melambangkan 4 macam gagasan: kekuatan, pengabdian, kepandaian, dan kerohanian yang tertinggi dengan ditambah sifat rahasia dan misterius. Setiap mahluk hidup mukanya yang sebuah hanya dapat melihat ke satu jurusan saja (ay 10, 12); tatkala memperlihatkan diri kepada Yehezkiel, mereka mengambil tempat dalam bentuk segi empat, masing-masing mahluk pada satu sudut, sehingga muka manusia melihat segala searah, tapi 16 muka mahluk hidup dalm bentuk 4 kali 4 itupun melihat pula kepada segala juruan. Jika 4 roda yang dahsyat itu melambangkan menyatakan sifat maha tahu, maha kuasa dan maha hadir Tuhan, maka muka mahluk hidup itu menyatakan sifat moril dan intelektual Tuhan, karena kita harus ingat, sebagaimana roh mahluk hidup itu ada dalam roda, demikian pula Roh Allah ada dalam mahluk hidup itu (ay 12). Jadi rod-rod itu menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dimuka bumi dengan kerubim yang disorga; dan selanjutnya, kerub-kerub menghubungknnya dengan Tuhan.

Bagi Yehezkiel dan rsul Yohanes (Wahyu 4:7), ke 4 mahluk itulah paling sempurna melambangkan kehidupan Tuhan. Sebab itu setelah Anak Allah menjelma menjadi manusia diatas bumi, maka kita harus melihatnya dengan 4 jalan seperti dilambangkan 4 mahluk dalam penglihatan Yehezkiel. Hal itu nampak dalam penitik beratan khidupn Tuhan Yesus oleh empat penulis injil. Dalam Injil Matius Yesus nampak sebagai raja (Singa), dalam Injil Markus sebagai pelayan (Lembu), dalam Injil Lukas sebagai Anak Manusia ((Manusia) dan Injil Yohanes ditulis dari segi kerohanian-Nya (Burung Rajawali).

Klimaks

Sekarang meningkat kepada klimaks tertinggi yang terlihat pada Yehezkiel dalam penglihatan itu. Pada hakekatnya, Yehezkiel melihat tempat kemuliaan Tuhan yng sangat ajaib susunanya, yang ada di atas kerub-kerub. Tib-tiba ia mendengar suara dri lengkung langit diatas kepala kerub-kerub itu (ay 25), dan ketika memandng keatas dilihatnya ada menyerupai tahta yang kelihtannya seperti permata lazurit; dan diatas yang menyerupai tahta itu ada kelihtan seperti rupa manusia yang berselimut api.

Perhatikanlah betapa hti-hatinya Yehezkiel berkata – seperti rupa manusia dan menyerupai tahta, senantiasa, seperti atau menyerupai. Bukan diri Tuhan sendiri yang dilihat oleh Yehezkiel, melainkan beberap rupa tertentu, yng mksudnya ialah memberi penjelasan baginya akan tabiat dn sifat Tuhan yang seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat meliht Dia (1 Tim 6:16).

Rupa yang lazim bagi kerubim adalah seperti manusia (ay 5). Disinipun terdapat kesan bahwa rupa Tuhan adalah seperti rupa manusia – barangkali karen tidak ada lagi lambang yang lebih tinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia. Tapi keterangan selanjutnya tidak jelas, kren memang tidk dilukiskan oleh akal manusia. Lambang trsebut diselimuti oleh api. Pusatnya seperti logam yang cair dan bercahaya dan dikelilingi oleh sinar (ay 27). Lambang ini menyatakan kesucian yang tak terhingga dn kemuliaan yang tak terhampiri. Yehezkiel sdar bahwa yang nampak itu adalah rupa kemuliaan Tuhan, lalu ia sujud mukanya sampai ketanah.

Maksud puncak penglihtan ini jelas, seprti bagian-bagian lainya. Jika kerub-kerub dn roda-roda menyatakan bahwa di balik segala peristiwa yang terjdi di muka bumi terdapat pekerjaan kuat kuasa sorgawi, maka juga puncak klimaks arasy inipun menyingkapkn pula, bahwa dibalik segala peristiwa yang terjadi dimuka bumi dan diats segala kuat kuasa yang tidak kelihatan itu terdapat pemerinthan, kehendak serta tujuan yang berdaulat dari Tuhan sendiri.

Yehezkiel mendengar dan meliht, lalu ia sujud mukanya sampai ketanah. Tapi tidak itu saja. Ia melihat sesuatu yang tak kunjung dapat dilupakannya. Ia telah melihat suatu pelangi pada keliling arasy (ay 28), yang merupakan mahkota bagi kemuliaan yang sangat indah itu. Inilah perjanjian yang telah diberikan oleh Tuhan dan menjadi lambang akan kasih setian-Nya. Suatu jaminan yang menyatakan bahwa setelah lenyap penghukuman yang dahsyat, akan datang masa cerah yang gemilang. Pelangi itu menyatakan, bahwa ditengah-tengah murka yang sebesr-besarnya terdapat kasih yang sedalam-dalamnya. Bahkan kesucian yang tak terhingga dan kemuliaan arasy yang mahatinggi itupun msih berada dibawah naungan anugerah!

Puji nama Tuhan, bahwa pelangi itu senantiasa ada keluhan manusia akhirnya akan berubah menjadi nyanyian puji-pujian dan ucapan syukur, dan dimana dos telah bertambah-tambah maka akhirnya anugerah akan beroleh kemenangan dalam suatu himpunan manusia yng menjadi kudus bagi Tuhan.

Maksud Tiga Berganda

Dalam penglihtan pertama terdapat maksud tiga berganda. Pertama, latar belakang berupa badai dan awan dan api maksudnya ialah menyingkapkan datangnya penghukuman. Kedua kelompok pusat penglihatan mengenai kerub dan roda-roda, tujuannya ialah menunjukkan bahw dibalik peristiwa-peristiwa yang terjadi dimuka bumi terdapat pekerjaan kuat kuasa sorgawi. Ketiga puncak klimaks penglihatan mengenai arasy dan pelangi, tujuanya ialah memperlihatkan bahwa yang unggul diatas segala sesuatu ialah Tuhan sendiri, bahwa kedaulatan kehendak-Nya mengtasi segala perkara, dn dalam kedahsyatan murka-Nya Ia ingat akan kasih-Nya, dan bahwa pada akhir penghukuman itu akan terbit anugerah dan kebenaran.

Apabila kebinasaan Yerusalem yang menyedihkan itu terjadi Yehezkiel harus dijaga jangan goncang imannya; karena boleh jadi timbul sangkaan dalam hatinya, bahwa Tuhan tidak sanggup memelihara kota pilihannya, atau bahwa ia sudah tidak berkuasa lagi, sebab dikalahkn olh berhala-berhala kafir. Maka sebelum penghukuman itu dijatuhkan, ia harus sudh tahu bahwahl itu telh lebih dahulu diketahui, bhwa sudah ditentukan dari semula, dan dibalik penghukuman itu terdapat pekerjaan kuat kuasa dari atas, dan juga bahwa sesudah penghukuman terjadi akan datang berkat.

Apa artinya penglihatan itu bagi Yehezkiel, dan bagaimana pengertiannya tentang maksud penglihatan yang tiga berganda itu? Hal ini nampak jelas dalam segala nubuat yang diucapkannya. Mengherankan bahwa Yehezkiel yang hidup pada masa yang sangat buruk – selaku tawanan – namun begitu teguh pengharapannya dan keyakinannya akan pemulihan Israel. Walaupun ia tidak mengucurkan air matanya seperti Yeremia, namun nubuatnya tentang kemenangan Tuhan melalui Israel, tidak kurang jelas dan tegasnya. Boleh dikatakan bahwa ia secara langsung sudah melihat kemuliaan bait Tuhan yang akan dibangun sekali waktu kelak, dan akan keindahan kota Tuhan yang kelak akan disebut Yahweh Syammah – Tuhan ada di sana.

Kita perlu memperhatikan maksud penglihatan itu. Ilmu pengetahuan telah memberikan kuasa dan senjata baru kepada manusia. Kejahatan menyatakan diri dalam bentuk yang jauh lebih hebat dan dahsyat daripada masa yang sudah-sudah. Segala perkara bergerak cepat dan secara besar-besaran serta mengandung ancaman-ancaman ngeri, didalangi oleh kekuatan-kekuatan anti Tuhan. Keadaan dunia international dengan mudah dapat menjadi lautan kekacauan. Tali kendali dari sorga seakan-akan sedang kendur. Kuasa-kuasa kegelapan kelihatan semakin merajalela dan makin leluasa. Pandangan mata kita sangat mudah terpesona oleh evolusi sejarah manusia pada masa ini, sehingga kita kehilangan pandangan akan kemuliaan arasy Tuhan, yang berada jauh diatas segala perkara, dan pengertian akan pemerintakan Tuhan yang berdaulat.

Memang, dewasa ini secara rohani kita perlu meliht tahta itu, dan kita juga perlu meliht pelangi yang melengkung diatas tahta itu yang melambangkan kasih setia Tuhan. Pelangi itu memberi arti: Keempat kerub itu masing-masing bermuka singa, lembu, manusia dan burung rajawali. Singa melambangkan segala binatang liar; lembu melambangkan binatang jinak yang berguna; manusia melambangkn segenap umat manusia; dan burung rajawali melambangkan segala burung yang dilangit. Pelangi itu mengingatkan kita kepada perjanjian Tuhan dengan Nuh (Kejadian 9:12-17), dan melalui Nuh dengan seluruh umat manusia dn binatang-binatang yang hidup dengn manusia di muka bumi.

Penglihatan Yehezkiel menunjukkan bahwa perjanjian itu memeteraikan dan memahkotai pemerintahan Tuhan diatas bumi. Tuhan ingat akan perjanjian-Nya dengan manusia dan segala mahluk. Walaupun pada saat-saat tertentu ia terpaksa menjatuhkan hukuman keatas bumi. Terpujilah Tuhan bahwa pada saat dunia sedang mengalami kegoncangan yang terus menerus seperti sekarang ini, pelangi masih saja ada! Pelangi masih tetap melengkung diatas tahta (arasy) Tuhan. Masa kesusahan besar sekalipun hanyalah akan merupakan tirai hitam saja, yang akan menjadi pertanda akan kedatangan yang segera dari kerajaan seribu tahun yang penuh kemuliaan.

b. Penglihatan Tiga Serangkai

Yehezkiel disebut juga Penilik pulau Patmos zaman Perjanjian Lama. Di tepi sungai Kebar ia dianugerahi penglihatan-penglihatan istimewa, seperti halnya dengan Rasul Yohanes yang dibuang kepulau Patmos. Penglihatan pertama telah kita bicarakan, terutama disajikan dalam pasal 1; penglihatan kedua lebih panjang, dilukiskan dalam pasal 8-11; dan penglihtan ketiga lebih panjang lagi dalam pasal 40-48. jika kita berhasil menangkap intisari dari ketiga penglihatan ini berarti kita mengerti segenap amanat yang terkndung dalam Yehezkiel.

Penglihatan I (1-3)

Penglihtan I telah kita bicarakan. Kita telah mengetahui apa yang menjadi tujuan sentral penglihatan I. Pada garis besarnya penglihatan I menunjukkan bahwa dibalik segala peristiwa yang terjadi di atas bumi terdapat pekerjaan kuasa-kuasa ajaib dari sorga, dan diatas segala peristiwa dan pekerjaan itu terdapat kehendak Tuhan sendiri. Penglihatan I teristimewa menunjukkan kepada Yehezkiel, bahwa di balik penghukuman yang menimpa Yerusalem terdapt kegiatan Tuhan yang berdaulat.

Penglihatan II (7-11)

Penglihatan II terjadi pada tahun keenam (8:1), yaitu 5 tahun sebelum kebinasaan Yerusalem. Dalam penglihatan itu Roh membawa…Yehezkiel ke Yerusalem (8:3). Penglihatan II bergerak dalam 4 tingkatan. 1. terlihat bahwa Yehuda menajiskan Bait Suci (ps 8). 2. Terlihat pnghukuman Tuhan atas umat Israel (ps 9). 3. Kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Allah (ps 10). 4. Kemuliaan Tuhan itupun meninggalkan Yerusalem (psl 11).

Dalam psl 8 kepada Yehezkiel ditunjukkan cara orang Yehuda menajiskan Bait Tuhan. Sesudah sampai ke pintu gerbang pelataran dalam yang menghadap ke utara, ia melihat berhala cemburuan, yang menimbulkan cemburu (8:3). Berhala ini didirikan dirumah Tuhan yang sebelah dalam! Padahal Allah telah berfirman, janganlah membuat bagimu patung yang menyerupai apapun …sebab Aku, Tuhan, Allah-mu adalah Allah yang cemburu (Keluaran 20:4-5; Ulangan 32:16,21). Lihatlah pertentangan yang terdapat disini: sesudah Yehezkiel melihat berhala cemburun itu, ia berseru, Lihat disana nampak kemuliaan Allah Israel (8:4). Tantangan yang kelewat batas – menempatkan berhala disitu! Kedurhakaan Yehuda diukur menurut besarnya perbandingan antara berhala yang buruk itu dengan syekinah sorgawi yang penuh kemuliaan.

Sesudah Yehezkiel melihat huru-hara penyembhan berhala. Ia dibawa masuk kedalam bilik rahasia, tempat orang melakukan pemujaan. Disitu terdapat 70 orang tua-tua kaum Israel yang mempersembahkan dupa kepada berhala-berhala binatang (8:7-13). Kemudian ia dibawa ke pintu rumah Tuhan yang disebelah utara, lalu nampak olehnya perempuan-permpuan yang menangisi dewa Tamus (8:13-35), yaitu dewa Adonis orang Yunani. Hari raya dewa Tamus diperingati dengan upacara menangisi kematian dewa itu oleh kaum perempuan, kemudian diteruskan dengan kesukaan atas kedatangannya kembali diserta dengan perbuatan-perbuatannya yang sangat keji. Sesudah itu Yehezkiel melihat 25 orang berdiri diantara mezbah tempat prsembahan korban dan pintu masuk ketempat kudus. Mereka tidak menyembah dengan menghadap ketempat yang kudus, melainkan membelakanginya dan menghadap kesebelah timur sambil sujud pada matahari (8:16). Adapun 25 orang yang berdiri dalam ruang tempat imam-imam itu adalah agaknya imam besar dengan 24 kepala-kepala imam.

Jadi dalam Bait Tuhan, Yehezkiel melihat keseluruhan Israel menyembah berhala, tua-tua bangsa memuja berhala binatang, dengan sembunyi kaum perempuan melakukan pelacuran dengan menyembah dewa Tamus, dan imam-imam berpaling dari Tuhan menjadi menyembah matahari. Segenp lapisan bangsa terlibat dalam pendurhakaan. Kerusakan dalam bidang keagamaan senantiasa mengakibatkan kerusakan moril dalam seluruh sektor kehidupan sebab itu tidaklah mengherankan jika dalam ayat 17 kita baca, mereka memenuhi tanah dengan kekerasan.

Pasal 9 secara simbolis menggambarkan penghukuman atas orang-orang jahat itu. Ada 7 orang yang ditugaskan; seorang disuruh melindungi minoritas yang tetap setia kepada Tuhan, sedang yang 6 orang lagi disuruh membunuh sekalian orang yang sisa. Catatlah bahwa pmbunuhan itu atas perintah Tuhan sendiri (9:5-7).

Pasal 10 berisi upacara penting yaitu keberangkatan Tuhan meninggalkan Bait Suci. Ayat 4 mengatakan bahwa, kemuliaan Tuhan naik dari atas kerub dan pergi ke atas ambang pintu Bait Suci. Kemudian 10:18 dan 19 menguraikan tentang keberangktan kemuliaan Allah meninggalkan bait suci sama sekali. Akhirnya dalam pasal 11:22,23, kemuliaan Tuhan meninggalkan Yerusalem pula. Maka kebinasaan kota yang telah ditinggalkan Tuhan itu sudah pasti dan tak terhindarkan lagi.

Maksud utama semuanya ini jelas. Jika penglihatan I menunjukkan bahwa dibalik penghukuman yang akan segera terjadi terdapat kehendak Tuhan, maka penglihatan II memperlihatkan bahwa sebab-musabab penghukuman itu adalah kejahatan Yehuda. Penglihatan I mengatakan bahwa penghukuman itu disebabkan oleh dosa. Penglihatan I menguraikan fakta penghukuman, penglihatan II menguraikan sebab – musabab penghukuman itu.

Penglihatan III (40-48)

Dalam penglihatan III Yehezkiel melihat Bait Suci dan kota Tuhan pada masa yang akan datang, dan kemuliaan Allah di tegakkan untuk selama-lamanya. Firman ini merupakan bagian Yehezkiel yang paling menarik. Mari kita melihatnya:

Pertama, yang dilukiskan oleh nabi Yehezkiel dalam penglihatan ini bukanlah Bait Suci yang didirikan oleh raja Salomo dan yang telah dibinasakan. Bukan pula Bait Allah yng baru yang didirikan oleh sisa bangsa sesudah zaman pembuangan. Juga bukan Bait suci yang didirikan setelah itu, yaitu yang didirikan oleh raja Herodes. Sampai disini semua orang sependapat karena sesudah Bait Suci yang dibangun oleh Herodes dibinasakan pada tahun 70 M, kemudian tidak ada Bait Suci lagi. Dan karena Bait Suci dalam Yehezkiel tidak dapat dirohanikan menjadi Gereja Kristen, maka Bait Suci dan kota Tuhan yang terlihat dalam penglihatan itu tentulah baru akan ada pada masa yang akan datang.

Kedua, sekalipun demikian masih tetap merupakan pertanyaan: Apakah perkataan Yehezkiel harus ditafsirkan sebagai bahasa yang biasa dalam artinya harafiah atau dalam arti kiasan? Kita menolak teori modern yang mengatakan bahwa Bait Suci, ibadat dan kota Tuhan, itu hanyalah hasil angan-angan Yehezkiel sendiri saja, yang sekarang selaku pola pembangunan kembali bangsa israel sekembalinya dari tanah pembuangan. Sukar sekali menyetujui pendapat ini, karena dari perkataan Yehezkiel sendiri ternyata bahwa apa yang diceritakannya ditunjukkan sendiri oleh tangan Tuhan dalam penglihatan-penglihatan Ilahi (40:1,2). Tapi yang paling penting ialah apakah itu ditafsirkan harafiah atau secara kiasan?

Kecuali ada hal-hal yang tidak membolehkan, maka sebaiknya Firman Tuhan itu dalam instansi pertama ditafsirkan sebagai bahasa biasa dalam arti harafiah.

Tapi jika kita melihat tentang ukuran Bait suci itu maka kita langsung memikirkan bahwa karena besarnya Bait Suci itu maka jika secara harafiah tidak mungkin dapat digenapi.

1. Lihatlah ukuran Bait Suci dn tempat suci sekelilingnya. Sebelah luar Bait Suci panjangnya 500 tongkat pengukur, dan lebarnya 500 tongkat pengukur atau dalam KJV 500 cubits ( dalam hal ini 1 tongkat pengukur = 6 hasta = 3,1 m). Maka Bait Suci itu akan berukuran 1 ½ KM persegi, jadi sama ukurannya dengan kota Yerusalem yang dikelilingi oleh pagar tembok. Dan kalau kita pikirkan bahwa gunung sion adalah sebagian dari Yerusalem, maka mustahil Bait Suci sebesar seluruh Yerusalem didirikan diatas gunung itu saja. Dan jika kita perhatikan bahwa tempat suci sekelilingi Bait Suci, atau persembahan khusus yang berupa tanah itu, panjangnya adalah 25.000 tongkat pengukur (dalam KJV 25000 cubits) dan lebarnya 25.000 tongkat pengukur ini sekitar 77 ½ km diukur dari utara keselatan, dn 77 ½ km diukur dari timur kebarat. Maka ini berarti bahw luasnya sama dengan luas persegi dari Tanjung Priok Kepuncak, dan dari Tangerang ke krawang! Dari tanah seluas 77 ½ km persegi itu sebidang tanah. 77 ½ x 31 km (45:34; 48:10), dan seluas itu pula disediakan bagi orang-orang Lewi (45:5; 48:13). Selain itu masih ada lagi sebidang tanah yang disediakan tempat negeri yang kelilingnya 20.000 tongkat pengukur, atau 62 km (45:6; 48:15-19), sedang pada zaman Yosephus jarak keliling Yerusalem hanya 6 ½ km saja! Maka tidaklah mungkin perkataan Yehezkiel itu ditafsirkan secara harafiah; karena jika ditafsirkan secara harafiah maka Bait Suci itu seluas Yerusalem dan tempat suci sekelilingnya akan seluas 5.500 km persegi!
2. tidak mungkin membangun tempat suci seluas itu, kecuali sungai Yordan digeser dan dipindahkan kesebelah timur! Tanah Israel digeser dan dipindahkan kesebelah Timur! Tanah Israel dibatasi oleh laut tengah disebelah barat dan oleh sungai Yordan disebelah Timur; tempat suci yang panjangnya 77 ½ km dan lebarnya 77 ½ km tidak mungkin diletakkan antara laut tengah dan sungai Yordan, karena dua tempat itu tidak lebih antara 65 km. Meskipun andaikata persegi yang luas itu dibelokkan ke lereng-lereng ditepi laut, namun tetap tidak dapat mencapai ukuran seluas itu – lagipula dikatakan, bahwa pada setiap sisi (yaitu pada kanan kiri) ditambah lagi dengan tanah yang disebut bagian penghulu (45:7; 48:21,22). Tuhan memang berkuasa memindahkan sungai Yordan; tapi apakah hal ini boleh dianggap termasuk dalam arti penglihatan itu?
3. Selanjutnya masih terdapat satu kesulitan lain lagi, walaupun tempat suci ini panjang atau lebarnya 77 ½ km, tapi tempat letaknya kota Yerusalem belum termasuk didalamnya. Dengan demikian negeri Tuhan yang dilihat oleh nabi Yehezkiel bukanlah Yerusalem.
4. Penglihatan Yehezkiel menempatkan Bait Suci 500 tongkat pengukur jauhnya disebelah utara Negeri Tuhan, jadi jauh dari pusat kota itu. Baik kitab suci maupun tradisi Yahudi tidak pernah memisahkan Bait Suci dari Yerusalem; maka tafsiran nubuat dalam mana Bait suci dipisahkan dari Yerusalem, tanpa alasan apa-apa tidak mungkin diterima. Seperti dikatakan oleh C.J Ellicott, suatu Bait Suci yang tempatnya tidak diatas bukit Moria (Sion), bukanlah Bait Suci yang menjadi harapan bangsa Yehuda. Betapa sukarnya bagi kita membayangkan Bait Suci seluas 1 ½ km persegi luasnya diluar negeri yang baru itu, terbenteang diatas berbagai bukit dan lembah; maka terlebih sukar lagi membayangkan suatu negeri yang baru kiloan-meter jauhnya dari negeri Yerusalem, serta bait suci yang baru yang 1,22 km disebelah utara lagi.
5. keberatan lain terhadap tafsiran harafiah mengenai hal ini adalah masalah penglihatan tentang air, yang dilihat oleh Yehezkiel keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci dan mengalir menuju ke timur (47:1-12). Seperti yang dikatakan oleh CJ, Ellicott, beberapa air ini mengalir kesebelah timur, lalu sampai kelaut, dan laut ini tentulah laut mati; tetapi aliran air itu tidak mungkin terjadi, kecuali jika permukaan bumi diubah!… karena bait suci yang nampak dalam penglihatan itu tempatnya disebelah barat bukit pemisah air. Dikatakan pula bahwa beberapa air itu menyebabkan air laut menjadi tawar, suatu peristiwa yang tidak mungkin terjadi kecuali ada aliran keluar dari dalam laut itu; betapapun banyaknya air sungai tidak akan bisa mengilangkan asinnya laut mati, karena air laut itu cepat sekali menguap, sedang Yehezkiel menyatakan bahwa laut tidak mengalir keluar (47::11). Dan lagi sifat dari apa yang disebut beberapa air itu sendiri, merupakan mukjizat yang kekal untuk selama-lamanya. Dikatakan bahwa air itu berasal dari gunung yang amat tinggi (40:2) – misalkan ada gunung yang sangat tinggi di wilayah itu serta diatasnya dapat pula ada pancaran mata air yang besar! – setelah mengalir 1000 hasta (1 hasta = 52 cm) dari hulu, airnya telah menjadi banyak sekali, dan setelah mengalir 4000 hasta (2 km) telah menjadi sebatang sungai yang tak dapat diarungi orang, atau telah sama besarnya dengan sungai Yordan. Hal demikian, tanpa ada anak sungai yang mengalir kedalamnya, tidaklah mungkin tanpa mukjizat Tuhan! Tapi yang terlebih mengherankan ialah keadaan air itu: dapat mendatangkan kehidupan dan kesembuhan; pada tebingnya tumbuh pohon-pohanan yang senantiasa rimbun daunnya dan lebat buahnya, dan daunya dapat dijadikan obat, sedang buahnya untuk dimakan; telebih lagi buah itu tidak akan habis-habisnya selama-lamanya.
6. Misalkan segala keadaan seperti yang tersebut itu mungkin terjadi, masih juga ada kesukaran yang lebih besar lagi. Dalam Bait suci yang nampak dalam penglihatan itu hal korban binatang diadakan kembali (43:13-27, dsb). Apakah masuk akal, bahwa dalam Bait Suci yang akan datang kelak akan diadakan lagi persembahan korban seperti itu? – yaitu sesudah terjadi persembahan korban yang sempurna di Golgota? Bukankah gagasan demikian menyalahi ajaran kitab PB? Bukankah peraturan hal korban binatang zaman PL hanya merupakan lambang dari persembahan korban yang sempurna yang bakal terjadi di Golgota, serta sudah tidak berlaku lagi dengan digenapinya hal itu? Semua tafsiran penglihatan Yehezkiel secara harafiah, akan kandas disini. Suatu pendapat mengatakan bahwa hal mengadakan korban itu kembali, maksudnya ialah menjadi peringatakan, sama seperti Perjamuan suci bukanlah untuk selama-lamanya, hanya sampai kepada kedatangan Tuhan yang kedua kalinya saja. Apakah masuk akal bahwa sesudah peringatan dengan roti dn anggur ditiadakan, diadakan pula peraturan 16 korban binatang untuk memperingati persembahan korban di Golgota? Demikianlah peringatan yang dikehendaki oleh Tuhan pada zaman akhir kelak? Apakah kita mengira bahwa setelah Tuhan Yesus datang kembali dengan kemuliaan dan memerintah seluruh muka bumi, perlu diadakan peringatan seperti itu? Sudah tentu tidak! Tapi jika firman itu tidak ditafsirkan secara harafiah, lalu bagaimana tafsiran yang seharusnya? Sesuai prinsip tafsiran yang sehat hendaklah diingat baik-baik bahwa apa yang kita baicarakan disini bukanlah nubuat langsung, melainkan penglihatan. Hal itu mengharuskan kita bertindak hati-hati. Penglihatan ini harus dibaca dengan petunjuk-petunjuk dari dua penglihatan sebelumnya. Dalam penglihatan tentang kerub-kerub itu dinyatakan secara simbolis – walaupun sebenarnya kerub-kerub itu memang ada. Dengan kata lain, yang nampak itu adalah fakta yang sesungguhnya, dikelilingi dan dinyatakan secara simbolis. Hal seperti ini berulangkali kita temui dalam Alkitab. Demikian pula dengan penglihatan III, juga ini berpusat pada suatu fakta yang sesungguhnya dan yang dikelilingi dan dinyatakan secara simbolis. Dalam kerajaan seribu tahun, Bait dan Kota Tuhan akan menjadi realisasi-realisasi konkret. Sedangkan segala lambang yang dipakai dalam penglihatan itu adalah alat untuk menyatakan secara simbolis sifat-sifat yang sebenarnya dari kerajaan Tuan. Arti dari segala lambang itupun jelas. Besarnya ukuran yang terdapat dalam penglihatan itu ialah untuk menunjukkan betapa hebatnya kebesaran Bait Suci dan negeri Tuhan pada masa yang akan datang kelak. Berbagai bentuk ukuran kubus melambangkan kesempurnaannya. Dalam lukisan mengenai upacara pemberian itu kita lihat kesucian mutlak dari ibadat pada masa yang akan datang kelak. Beberapa air yang memancar dari tempat kudus memberitakan kelimpahan hidup dan berkat yang meliputi seluruh dunia. Kedatangan kembali kemuliaan Allah yang akan tinggal untuk selama-lamanya (43:1-7), menyatakan peniadaan dosa untuk selama-lamanya (43:1-7), menyatakan peniadaan dosa untuk selama-lamanya dan keadilan yang akhirnya menang; sedang penempatan Arasy Tuhan di tengah-tengah Bani Israel sampai selama-lamanya (43:7), menyatakan kemuliaan tak berkesudahan dari kerajaan yang akan datang itu. Demikianlah dilambangkan gagasan-gagasan utama mengenai Bait Suci, ibadat dan kota Tuhan dalam kerajaan yang akan datang – kebesaran yang tak terhingga, kesempurnaan ilahi, kesucian yang mutlak sempurna, kehidupan yang penuh, berkat bagi segenap dunia, dosa dilenyapkan untuk selama-lamanya, kebenaran akhirnya menang, serta Tuhan berada ditengah-tengahnya memeritah dalam kemuliaan yang kekal.

Ketiga Penglihatan Bersama-sama

Ketiga penglihatan itu bersama-sama maksudnya memberikan pandangan yang seutuhnya tentang berbagai perkara kepada Yehezkiel. Yang inti gagasan pada penglihatan pertama ialah keunggulan pemerintahan Tuhan. Inti gagasan gagasan pada penglihatan II ialah: campur tangan Tuhan. Inti gagasan pada penglihatan III ialah: Penggenapan Tuhan. Dalam penglihatan I Tuhan menguasai dengan pemerintahan yang berdaulat; dalam penglihatan II Tuhan turut campur tangan dengan penghukuman yang adil, dan dalam penglihatan III Tuhan menggenapkan dengan pemulihan rahmat.

Dalam penglihatan I, kita lihat kemuliaan itu meningkat; dalam penglihatan II kemuliaan itu menjauh; dan dalam penglihatan III kemuliaan itu kembali. Dalam pengliatan I, Yehezkiel harus melihat bahwa singgasana Tuhan jauh tinggi diatas roda pemerintahan: dalam penglihatan II ialah harus melihat kemenangan Tuhan dalam perwujudan definitif rencananya. Dengan perkataan lain Yehezkiel harus melihat bahwa kehendak Tuhan berada diatas segala perkara, di balik segala perkara dan melintasi segala perkara.

Yehezkiel mengerti kebenaran yang tiga berganda itu. Ia hidup dan bekerja dalam rangka dan kuat kuasa kebenaran. Kitapun harus hidup dan bekerja dalam rangka dalam kuat kuasa penglihatan itu juga. Jika tidak, tentulah hati kita akan patah oleh keadaan zaman. Hendaklah semua hamba Tuhan bertahan seperti Yehezkiel; dengarlah kembali suara sayap dan gerakan roda-roda; lihatlah kembali orang yang berpakaian lenan dan yang mempunyai alat penulis disisinya. Dan yang disuruh menulis huruf T pada dahi orang-orang (Yeh 9:3,4) dan tujukannlah pandangan anda kedepan Bait Suci dan negeri Tuhan yang akan datang. Inilah penglihatan tiga serangkai yang mengubah ketakutan menjadi pengharapan, dan keluh kesah dan tangisan menjadi nyanyian pujian syukur. Semoga semuanya tergores selama-lamanya dihadapan mata kita!

Apa yang telah difirmankan Tuhan pasti akan terjadi.

Pemberitaan dengan tanda-tanda & Secara Langsung (25-39)

a. Pemberitaan Dengan Tanda-Tanda.

Yehezkiel harus bersaksi kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak. Maka ia disuruh melakukan bermacam aksi simbolis dihadapan mereka, untuk menggambarkan penghukuman yang mengancam Yehuda. Diantara aksi-aksi itu tentu ada yang sangat menjengkelkan dan menyusahkan sekali baginya, tetapi semua pemberitaan itu mengandung suatu arti yang amat istimewa.

Arti itu bertambah jelas jika kita meninjau kembali daftar analisis kitab ini. Dalam kitab ini terdapat perkembangan yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama, psl 4-24, seluruhnya berbicara tentang penghukuman atas Yerusalem. Dalam pasal-pasal ini terdapat tidak kurang dari 10 macam tindakan simbolis, padahal dalam pasal-pasal berikutnya hanya terdapat satu saja, yaitu dalam 37:16. mengapa demikian? Jawabnya terdapat dalam 3 alinea yang menceritakan bahwa Yehezkiel dijadikan kelu atau bisu sampai pada masa Yerusalem dibinasakan. Pertama 3:26,27, yaitu pada permulaan pelayanan Yehezkiel Tuhan berfirman kepadanya, dan aku akan membuat…engkau menjadi bisu. Kedua, 24:27, yaitu 4 ½ tahun sesudah itu Tuhan berfirman kepadanya. Pada hari itu (yaitu pada saat Yerusalem dibinasakan), mulutmu akan terbuka dan engkau akan berbicara…dan tidak lagi tetap bisu. Ketiga, 33: 21,22, demikian bunyinya, Datanglah kepadaku seorang yang terluput dari Yerusalem dan berkata, Kota itu sudah ditaklukkan! Maka…Tuhan membuka mulutku…dan aku tidak bisu lagi.

Apakah ayat-ayat tersebut membingungkan? Sebenarnya tidak, bukankah bagi suatu bangsa yang telingannya tuli terhadap Firman Tuhan, Tuhan membisu? Tuhan telah menganugerahi Yehezkiel amanat yang besar dan indah: meskipun dalamnya terkandung ancaman penghukuman yang akan segera datang. Namun amanat itu juga berbicara tentang masa sesudah masa penghukuman, masa yang cemerlang dengan janji-janji pengampunan dan pemulihan. Tapi teman-temanya sesama tawanan telah demikian tegar hatinya dan terpaut kepada kejahatan, sehingga terlalu rendah untuk dapat dengar-dengaran kepada amanat yang seindah itu. Mereka tetap dalam keadaan ini sampai kepada saat Yerusalem dibinasakan. Barulah mereka sadar, bahwa perkataan nabi-nabi seperti Yeremia dan Yehezkiel, adalah benar-benar Firman Tuhan. Namun sebelum Yerusalem binasa, kesaksian akan hal Tuhan harus disampaikan kepada mereka, tidak soal apakah mereka mendengar atau tidak (2:5-7) – sekalipun isi amanat itu hanya terbatas pada pemberitaan pemberitaan hukuman atas dosa-dosa mereka. Dalam arti inilah Yehezkiel dikatakan menjadi penjaga kaum Israel (3:17). Tuhan tidak menghendaki manusia (sekalipun yang berhati batu dan memberontak) binasa dalam pengkuman tanpa memberi kesaksian dan peringatan terlebih dahulu kepadanya.

Karena kedurhakaannya, maka orang Yehuda zaman dahulu itu menjadi tuli terhadap Firman Tuhan, sehingga peringatan mengenai penghukuman itu terpaksa diberitakan dengan tanda-tanda. Maksudnya ialah merangsang ingin tahu mereka dan mereka mau menanyakan artinya. Selain itu maksudnya juga meringankan kejahatan mereka, yaitu kejahatan karena menolak Firman Tuhan yang mereka dengar secara langsung. Bahwa cara pemberitaan ini sungguh-sungguh menimbulkan ingin tahu mereka, nyata dari 12:9 dan 24:19.

Selain itu, pemberitaan dengan tanda-tanda ini mempunyai maksud lain: dengan cara ini Tuhan menyatakan bahwa Ia sudah menghentikan usaha-Nya untuk berbicara dengan mereka dan membujuk-bujuk mereka. Sikap mereka yang kepala batu sudah mencapai titik, dimana Tuhan tidak dapat dan tidak suka lagi berfirman secara langsung kepada mereka, lihat 14:3. karena mereka meremehkan Firman Tuhan, maka Tuhan lalu membisu, sekalipun Ia masih terus memberi peringatan kepada mereka! Dan sekarang mereka dibiarkan mencari sendiri apa maksud-Nya dengan tanda-tanda simbolis yang serba aneh. Jadi itulah sebabnya Yehezkiel akhirnya terpaksa melakukan pemberitaan dengan tanda-tanda kepada bangsa yang bengkok dan terbalik itu.

Jika kita periksa lagi ketiga ayat yang menceritakan Yehezkiel menjadi bisu, ternyata mulai ayat pertama (3:26) sampai pada ayat kedua (24:27), kebisuan Yehezkiel hanya untuk sebagian saja; karena dalam 3:27 Allah menambahkan, tetapi kalau Aku berbicara dengan engkau, Aku akan membuka mulutmu dan engkau akan mengatakan kepada mereka. Tetapi mulai ayat kedua (24:27) sampai dengan ayat ketiga (33:21,22), kebisuannya terhadap Israel sudah total; karena dalam bagian kedua (25 ke 32), Yehezkiel tidak berbicara sepatahpun kepada bangsanya. Ia hanya berbicara kepada bangsa-bangsa kafir. Pemberitaan Yehezkiel terakhir dengan tanda-tanda kepada bangsa Israel, mencapai klimaks dalam tanda simbolis yang penuh duka, yaitu kematian istrinya! Dan sesudah itu ia menjadi bisu sama sekali terhadap bangsanya selama 1 ½ tahun – lihat 24:15-27.

Banyak yang dapat kita pelajari dari pemberitaan dengan tanda-tanda simbolis ini. Kita harus senantiasa siap sedia untuk bersaksi menurut tiap cara yang dikehendaki Tuhan, bahkan kepada orang-orang yang sama sekali tidak menghargai kesaksian kita. Kita harus rela mengorbankan milik kita yang paling berharga sekalipun demi pemberitaan khabar sukacita itu kepada orang lain, sama seperti Yehezkiel yang berpisah dari isterinya, yang merupakan kenangan baginya. Lihat bagaimana Yehezkiel dilarang melakukan perkabungan seperti menurut adat istiadat, dilarang menangis dan mengeluarkan air mata (24:16,17). Dukacita pribadi harus meminggir bagi dukacita tentang peristiwa yang lebih dari itu, yaitu kebinasaan Yerusalem dan kebinasaan bangsanya.

Kita sekalianpun harus demikian pula: kita harus berani melupakan dukacita dan kesedihan pribadi, karena mengenangkan sengsara yang terlebih besar yang akan menimpa sekalian orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Dan lagi sebagaimana Yehezkiel berbicara lewat tanda-tanda simbolis, dan sebagaimana bahkan ia sendiri pribadi telah menjadi tanda simbolis (24:24). Maka demikian pula kita dalam sektor kehidupan kita harus menjadi tanda simbolis yang menunjuk kepada Kristus, baik dalam kehidupan Rumah tangga, kehidupan ekonomi dan sosial maupun dalam reaksi kita terhadap segala pengalaman hidup.

b. Pemberitaan Secara Langsung

Kita meningkat ke suatu yang luas dan indah. Beberapa dari antara nubuat PL yang paling menarik mengenai baik bangsa Israel maupun bangsa kafir, terdapat dalam Yehezkiel. Seperti contoh berikut ini:

Peristiwa nubuat mengenai Tirus (26-28)
Tirus adalah kota perdagangan dan pelabuhan terbesar dari dunia lama, bentengnya amat kuat. Kekuatan kota itu seakan-akan menjamin kelangsungan hidup yang terus menerus bagi Tirus. Tapi Yehezkiel memberitakan bahwa kota itu akan binasa – Aku (Tuhan) membawa dari utara raja Nebukadnezar, raja Babel…untuk melawan Tirus…Ia hendak menginjak-nginjak semua jalan-jalanmu, rakyatmu akan dibunuh dengan pedang, dan tugu-tugu yang kau andalkan akan dirobohkan… (26:7,11). Dan segala nubuat ini terjadi. Setelah Tirus dikepung 13 tahun lamanya, barulah kota yang amat kuat itu ditaklukkan oleh Nebukadnezar.

Tapi penaklukan oleh raja Nebukadnezar belumlah penggenapan seluruh nubuat Yehezkiel. Itu barulah merupakan tanda atau jaminan bahwa kalimat lain pun akan digenapi pula. Tuhan berfirman, Debu tanahnya akan kubuang…dan akan kujadikan dia gunung batu yang gundul (26:4). Firman diulangi lagi pada ayat 14. dalam pasal 26:5 dikatakan, sekalipun Tirus sangat mewah dan perdagangannya meliputi seluruh dunia, namun keindahannya akan lenyap jua, ia akan menjadi penjemuran pukat ditengah lautan, atau dengan perkataan lain seperti yang tercantum pada ayat 14, akan menjadi penjemuran pukat, dengan ditambah keterangan engkau tidak akan dibangunkan kembali.

Kemudian berlalu 250 tahun. Namun nubuat ini belum juga digenapi. sesudah mengalami kekalahan oleh raja Nebukadnezar, orang Tirus berusaha keras supaya tidak mengalami kekalahan lagi. Sebagian besar dari harta benda mereka dipindahkan kesuatu pulau yang letaknya 1km dari pantai. Demikian air laut mengelilingi pulau itu merupakan benteng pertahanan alami yang kokoh, yang mereka anggap lebih kuat lagi dari pagar tembok buatan manusia. Karena benteng air laut ini dengan angkatan lautnya yang besar, Tirus baru ini lebih terjamin keselamatannya daripada kota-kota lainnya.

Tapi 2 ½ abad kemudian, perkataan nabi Yehezkiel digenapi seluruhnya. Raja Iskandar Agung menyerang kota itu. Setelah melihat air laut yang 1 km lebarnya, ia pun memutuskan untuk membuat sebuah jalan yang akan menghubungkan pulau itu dengan daratan. Pagar tembok kota Tirus yang lama dibongkarnya, menara-menara, istana dan gedung-gedung yang lainnya untuk menimba air, tepat sebagaimana dikatakan oleh Yehezkiel – mereka akan merampas kekayaanmu dan menjarah barang-barang perniagaanmu; mereka akan mruntuhkn tembok-tembok dan merobohkan rumah-rumahmu yang indah; batumu, kayumu dan tanahmu akan dibuang kedalam air (26:12). Untuk mempersiapkan besar-besaran terhadap kota Tirus baru yang terletak diatas pulau yang berhadapan dengan kota Tirus lama, diperlukan banyak sekali tanah untuk bahan penimbun, sehingga reruntuhan dan abunya sekalipun disapu dan digunakan, dan ini membuat kota lama menjadi gunung batu yang gundul (ay 4). Demikianlh nasib kota Tirus dan sampai sekarang kota itu tidak pernah dibangun lagi, bahkan telah berubah menjadi tempat penjemuran pukat, sampai kepada saat ini.

Nubuat Mengenai Mesir

Negeri Mesir adalah negeri purba yang penuh kuasa, penuh rahasia dan hal-hal yang menakjubkan (psl 29-32). Mengingat kejadianya masa itu, rasanya mustahil pikiran seorang manusia dapat mencetuskan suatu nubuat seperti itu, jika tidak dipimpin oleh Tuhan yang Mahatahu. Dalam 29:8-12 dikatakan bahwa Mesir akan menjadi sunyi sepi dan menjadi reruntuhan 40 tahun lamanya.

Pada Yehezkiel 29:13-15 tertulis sbb:

Beginilah Firman Tuhan Allah: Pada akhir keempat puluh tahun itu Aku akan mengumpulkan orang-orang Mesir dari tengah bangsa-bangsa di mana mereka mereka berserak. Dan Aku akan memulihkan keadaan Mesir dan mengembalikan mereka ketanah Patros, yaitu tanah asal mereka, dan disana mereka mejadi kerajaan yang lemah. Diantara kerajaan-kerajaan ia akan yang paling lemah dan tidak akan dapat meninggikan dirinya lagi diatas bangsa-bangsa lain. Aku akan membuat mereka begitu lemah, sehingga mereka tidak akan memerintah bangsa-bangsa lagi.

Kemudian nampak ditambah lagi dengan suatu nubuat pendek (29:17), yang ditulis oleh Yehezkiel 17 tahun sesudahnya (bnd ayat 1 dengan ayat 17). Tambahan ini berbicara tentang serangan yang dilakukan oleh Nebukadnezar sesudah mengalahkan Tirus (lih 29:17-20). Karena dalam tambahan ini dinyatakan tahunnya yaitu pada tahun 571 atau 570 SM, dan kita tahu bahwa Firaun Hophra meninggal pada tahun 570 SM. Tentang peristiwa kematiannya terdapat keragu-raguan, tapi yang pasti ialah bahwa ia mati dalam tangan musuh (yang juga telah diberitakan dalam Yeremia 44:30), dan musuh itu ialah raja Nebukadnezar.

Sejarawan Yosephus menceritakan bahwa Nebukadnezar menyerang Mesir dan membunuh rajanya, lalu negeri itu diperintahnya. Garis besar nubuat mengenai sejarah Mesir selanjutnya sesuai benar dengan sejarah negeri itu sampai sekarang ini, dan merupakan hal yang sangat menabjubkan!

Walaupun diberitakan bahwa bangsa-bangsa besar lainya seperti bangsa Asyur dan Babel akan lenyap, namun mengenai bangsa Mesir dikatakan bahwa mereka akan tetap ada. Dan benarlah demikian! Bangsa itu ampai sekarang ini masih tetap ada. Dan diberitakan pula, bahwa Mesir akan tetap suatu negra, dan sekarangpun ia tetap suatu negara. Juga menurut nubuat Yehezkiel telah digenapi, dan penggenapan itu menjadi kenyataan yang dapat disaksikan oleh seluruh dunia.

c. Nubuat Yehezkiel Terhadap Israel

Nubuat Yehezkiel terhadap bangsanya sendiri sungguh dahsyat. Sidlow Baxter berkata bahwa siapapun yang membaca Firman Tuhan seperti tersebut dalam Yehezkiel 34:11-16, 22-31; 36:8-12; 22:38; 37:1-28; 39:21-39? Alangkah tepat dan mempesona penglihatan tentang lembah yang penuh dengan tulang-tulang orang mati itu (ps 37)! Dalam masa lampau Israel pernah mengalami baik kemerosotan maupun pembangunan kembali. Tapi kemerosotan seperti pada waktu itu sungguh luar biasa; ke-12 suku bangsa itu telah berserak di tanah pembuangan. Bait Allah sudah tidak ada dan Yerusalem tinggal reruntuhan saja. Sebab itu nubuat mengenai pemulihan itu agaknya kedengaran seperti olok-olok pahit bagi bangsa itu. Tapi penglihatan mengenai tulang-tulang yang kering dan tentang kehidupan kembali tulang-tulang itu, merupakan jaminan bagi kebahagiaan Israel di kemudian hari, serta menyatakan bahwa Tuhan berkuasa melakukan perbuatan-perbuatan yang mustahil.

Tentu kita harus ingat, bahwa ini penglihatan, bukan nubuat langsung. Kiasan mengenai kebangkitan dari mati ini janganlah ditafsirkan harafiah. Janganlah mengatakan bahwa dua potong papan dalam 37:16 dan 19 adalah Yehuda dan Israel. Kedua papan itu hanya ibarat perumpamaan saja. Demikianlah juga mengenai tulang-tulang itu, janganlah kiranya tulang-tulang yang kering itu dianggap tulang orang-orang Israel yang telah mati. Harus ditafsirkan sebagaimana Tuhan sendiri menafsirkannya. Karena ayat 11 mengatakan, Tulang-tulang ini adalah seluruh kaum Israel. Mereka sendiri mengatakan, tulang-tulang kami menjadi kering, dan pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Jadi tulang-tulang ini menjadi kiasan bagi bangsa yang telah tertawan, bukan tulang sesungguhnya. Penglihatan ini adalah kiasan mengenai pemulihan bangsa Israel, bukan kebangkitan orang yang sudah dikuburkan. Tentang kebangkitan tubuh orang yang sudah mati, memang Alkitab juga mengajarkannya, namun itu ada dibagian yang lain, bukan dalam bagian ini. Jadi bukan kebangkitan badani yang yang dimaksud oleh penglihatan nabi Yehezkiel, melainkan pemberitaan yang menakjubkan tentang kebangkitan kembali suku-suku Israel dari lembah pembuangan dalam pemulihannya selaku bangsa.

Ayat 14 mengatakan bahwa bangsa itu akan didudukkan kembali dalam negerinya. Ini menunjukkan bahwa yang dimaksud ialah orang-orang Israel yang telah berserak kesegenap penjuru dunia, bukan orang-orang yang sudah mati. Orang-orang yang sudah mati itu sebagian besar dikuburkan dinegerinya sendiri. Jadi jika yang dimasud oleh penglihatan itu kebangkitan badani, maka tentu tidak perlu diberikan hal akan didudukkan bangsa itu kembali dalam negerinya.

Ayat 19 bicara baik tentang penghimpunan maupun tentang pembaruan. Dua kerajaan akan dihimpun kembali menjadi satu, ibarat dua potong papan yang dipersatukan. Ayat 24 memberitakan tentang Almasih, anak Daud, menjadi raja yang memerintah atas dua kerajaan yang terhimpun menjadi satu. Ayat 26 memberitakan suatu perjanjian damai yang kekal dengan mereka serta memberitakan bahwa tempat kediaman Tuhan akan ditaruh di tengah-tengah mereka dan tidak akan dipindahkan lagi dari sana. Ini merupakan nubuat yang indah dan amat ajaib, yang penggenapannya masih dinanti-nantikan. Tetapi sebagaimana nubuat mengenai Tirus, Mesir, dan lain-lain itu sudah digenapi, maka demikian pula nubuat indah tentang destinasi Israel yang definitif.

Demikianlah isi kitab Yehezkiel. Amanat yang disampaikannya akan hidup terus beserta kita. Yerusalem telah mengalami kegagalan dan duduk meratap diatas debu. Tapi Tuhan Allah Yerusalem bekerja terus, dari abad-keabad, sampai kepada zaman atau waktu yang telah Dia ditentukan sendiri. Ia tak akan berhenti sebelum Yerusalem baru, ratu kota dari tata baru dengan perkataan YAHWEH SYAMMAH (Tuhan hadir disitu – 48:35) terukir padanya. Dosa akan terus merajalela sekeliling kita, tapi kita telah mendengar roda-roda kendaraan Tuhan dan melihat pelangi sekeliling arasy, dan juga telah melihat penglihatan mengenai Bait dan Negeri Tuhan yang akan dibangun pada akhir zaman kelak. Mata kita telah dibuka Tuhan terhadap tujuan-Nya yang gilang-gemilang itu, maka kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (Roma 5:2).

Polaritas Manusia dan Resolusi Allah Dalam Kitab Yehezkiel
(Suatu Analisis)

Polaritas yang telah diciptakan oleh ketidaktaatan manusia di Israel merupakan pokok utama dari pemberitaan nubuat. Hal itu telah menempatkan Israel dalam posisi yang berlawanan dengan Allah. Seruan etis para nabi yang memanggil laki-laki dan perempuan untuk mengubah jalan-jalan mereka sering tidak mempengaruhi orang Israel, dan bahkan lebih sering tidak mengubah perilaku mereka. Kejatuhan Yerusalem, dengan Yehezkiel sebagai pengawas, dan pembuangan, dengan sisanya sebagai korban, membuktikan secara tidak tertandingi bahwa moral Israel itu tidak lentur. Yehezkiel sama jelas dengan nabi-nabi lain, telah menetapkan kutub-kutub yang bertentangan dan kemudian menunjukkan bahwa Yahweh memecahkan polarisasi tersebut. Disatu pihak Allah menyatakan bahwa Ia akan memalingkan wajah-Nya dari Israel (mis 7:22), dan dipihak lain bahkan Ia tidak akan menyembunyikan wajah-Nya dari mereka lagi (39:29). Pada satu kutub Israel menghalau Yahweh dari tempat kudus-Nya (8:6), dan pada kutub yang lain Yahweh memberikan printah untuk Bait Suci yang baru dimana Ia akan tinggal sampai kekal (37:26-28; 40-48). Kemuliaan Tuhan meninggalkan Bait Suci (11:23), dan kemudian kembali (43:1-5). Ia menyerahkan negeri itu untuk dihancurkan sehingga Nuh, Daniel, dan bahkan Ayub tidak dapat menyelamatkannya (14:12-20), dan kemudian memulihkan dan membagi kembali negeri itu untuk umat-Nya (47:13 – 48:35). Pada sisi yang satu Israel melanggar Perjanjian Musa (16:59), dan disisi yang lain Tuhan mendirikan perjanjian yang kekal. Para gembala mengabaikan kawanan domba-Nya (34:10), dan Ia sendiri menjadi gembala yang baik (34:11). Kekejian Israel karena penyembahan berhala dipertentangkan dengan kekudusan Yahweh. Pertobatan kurang menonjol dalam kitab ini, karena memberikan peluang bagi inisiatif Yahweh untuk mengadakan perubahan-perubahan yang drastis yang akan menyelamatkan dan memulihkan Israel. Penggunaan kata ganti orang pertama untuk menekankan sukyek kata kerja (Allah) menggambarkan perubahan tekanan dari pertobatanmanusia kepada tindakan ilahi:
Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan Engkau pada masa mudamu dan aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal (16:60)
Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau (16:62)
Aku sendiri akan mengambil sebuah carang dari puncak pohon aras yang tinggi (17:22)
Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya (34:1)
Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku (34:15)
Aku sendiri akan menjadi hakim diantara domba-domba yang gemuk dan domba yang kurus (34:20)

Dalam keadaan tergesa-gesa pada pinggiran bencana, Israel telah mendengar perkataan para nabi, tetapi tidak memahaminya. Namun bencana yang utama telah datang tanpa dapat dielakkan. Yehezkiel tidak berbicara banyak tentang bagaimana menghindarinya. Tanggung jawab berat yang diterima adalah menafsirkan benacana tersebut. Dan sekarang dalam menghadapi kehancuran dan menghadapi keputusasaan, harapan hanya dapat ditemukan pada pribadi tersebut dn tindakan-tindakan Yahweh sendiri. Ini adalah tema nubuat yang kuno yang tidak lagi dapat didengar oleh Israel, dan dalam kitab Yehezkiel ketulian umat tersebut telah berpasangan dengan kebisuan nubuat. Namun, ketika mereka dapat mendengar dan nabi itu dapat berbicara, Firman keselamatan begitu mengejutkan sebagaimana firman penghukuman yang menimbulkan kehancuran yang dahsyat.

KITAB DANIEL

I. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Daniel, yang namanya berarti “Allah adalah Hakim(ku),” adalah tokoh utama dan penulis kitab dengan namanya ini. Kepenulisan oleh Daniel bukan hanya dinyatakan secara tegas dalam Dan 12:4, tetapi juga tersirat dengan banyak petunjuk riwayat hidupnya sendiri dalam pasal 7-12 (Dan 7:1–12:13). Yesus menghubungkan kitab ini dengan “nabi Daniel” (Mat 24:15) ketika mengutip Dan 9:27.
Kitab ini mencatat berbagai peristiwa dari penyerbuan pertama Nebukadnezar ke Yerusalem (tahun 605 SM) hingga tahun ketiga pemerintahan Koresy (tahun 536 SM); jadi latar belakang sejarah kitab ini ialah Babel selama 70 tahun pembuangan yang dinubuatkan oleh Yeremia (bd. Yer 25:11). Daniel adalah seorang remaja ketika peristiwa dalam pasal 1 (Dan 1:1-21) terjadi dan sudah mencapai akhir usia 80-an ketika
menerima berbagai penglihatan dalam pasal 9-12 (Dan 9:1–12:13). Ia mungkin hidup sampai sekitar tahun 530 SM, menyelesaikan kitab ini dalam usia lanjutnya (bd. Yohanes dan kitab Wahyu). Para pengeritik modern yang menganggap kitab ini ditulis sekitar abad ke-2 SM dengan nama samaran Daniel telah berkesimpulan demikian lebih karena dibimbing praduga filsafat mereka dan bukan oleh fakta-fakta.
Pengetahuan kita tentang nabi Daniel ini diperoleh hampir sepenuhnya dari kitab ini (bd. Yeh 14:14,20). Daniel mungkin menjadi keturunan Raja Hizkia (bd. 2Raj 20:17-18; Yes 39:6-7); dia pasti berasal dari keluarga terdidik kalangan atas Yerusalem (Dan 1:3-6), karena Nebukadnezar pasti tidak akan memilih pemuda asing dari kalangan bawah untuk istananya (Dan 1:4,17). Daniel mungkin dijadikan sida-sida di Babel seperti kebiasaan ketika itu bagi pegawai laki-laki di istana (bd. Dan 1:3; 2Raj 20:18; Mat 19:12*). Keberhasilan Daniel di Babel disebabkan oleh integritas kepribadian, karunia-karunia nubuat, dan campur tangan Allah yang mengakibatkan dia segera mendapat kenaikan pangkat kepada kedudukan penting dan penuh tanggung jawab (Dan 2:46-49; Dan 6:1-3).
Secara kronologis, Daniel termasuk salah satu nabi PL yang terakhir. Hanya Hagai, Zakharia, dan Maleakhi mengikutinya dalam aliran nubuat PL. Dia adalah rekan sezaman yang lebih muda dari Yeremia dan mungkin sama umurnya dengan Yehezkiel.

b. Penulis : Daniel

c. Tema : Kedaulatan Allah Dalam Sejarah

d. Tanggal Penulisan : Sekitar 536-530 SM

e. Tujuan Penulisan

Ada dua maksud untuk penulisan kitab Daniel:

1. Untuk menenteramkan hati umat perjanjian PL bahwa hukuman pembuangan mereka di antara bangsa-bangsa kafir tidak akan menjadi nasib tetap mereka; dan
2. Untuk mewariskan kepada umat Allah sepanjang sejarah berbagai penglihatan bersifat nubuat tentang kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa dan kemenangan terakhir kerajaan-Nya di bumi.

Kedua maksud ini ditunjukkan sepanjang kitab ini dalam kehidupan Daniel dan ketiga sahabatnya dan dilukiskan dalam nubuat dan pelayanan Daniel. Kitab ini menegaskan bahwa janji-janji Allah untuk memelihara dan mengembalikan umat perjanjian-Nya adalah sama pastinya dengan kerajaan Mesias yang akan datang yang akan bertahan selama-lamanya.

f. Isi Ringkas

Isi kitab Daniel adalah paduan riwayat hidup, sejarah, dan nubuat. Bentuk tulisannya ialah sastra apokalips, yang artinya bahwa berita nubuatnya menyingkapkan penyataan Allah
1. Melalui berbagai penglihatan, mimpi, dan lambang,
2. Untuk memberikan semangat kepada umat Allah pada masa krisis dalam sejarah, dan
3. Untuk membayangkan pengharapan Israel mengenai kemenangan akhir kerajaan Allah dan kebenarannya di bumi (Lihat “PENDAHULUAN WAHYU”).

g. Kitab ini dengan sendirinya terbagi menjadi tiga bagian utama

1. Pasal 1 (Dan 1:1-21) ditulis dalam bahasa Ibrani dan memberikan latar belakang sejarah kitab ini.
2. Pasal 2-7 (Dan 2:1–7:28), dimulai Dan 2:4, ditulis dalam bahasa Aram, menggambarkan kebangkitan dan keruntuhan empat kerajaan yang kuat di dunia yang berturut-turut dan diikuti oleh penetapan Kerajaan Allah sebagai kerajaan yang kekal (khususnya pasal 2, 7; Dan 2:1-49; Dan 7:1-28). Pasal-pasal ini menekankan kedaulatan Allah atas dan campur tangan-Nya dalam hal ihwal manusia dan bangsa-bangsa dengan menguraikan:
a. Naiknya Daniel hingga kedudukan tinggi di istana Nebukadnezar (pasal 2; Dan 2:1-49);
b. Seseorang seperti “anak dewa” di dalam perapian yang menyala-nyala bersama ketiga kawan Daniel (pasal 3; Dan 3:1-30);
c. Kegilaan sementara Nebukadnezar sebagai hukuman Allah (pasal 4; Dan 4:1-37);
d. Peranan Daniel dalam perjamuan Belsyazar, yang menyatakan akhir kerajaan Babel (pasal 5; Dan 5:1-30);
e. Pembebasan ajaib Daniel dari gua singa (pasal 6; Dan 6:1-29); dan
f. Penglihatan mengenai empat kerajaan dunia berturut-turut yang dihakimi oleh “Yang Lanjut Usia” (pasal 7; Dan 7:1-28).

3 Dalam pasal 8-12 (Dan 8:1–12:13), Daniel kembali menulis dalam bahasa Ibrani dan menguraikan berbagai penyataan yang luar biasa dan kunjungan malaikat dari Allah mengenai:
a. Umat Yahudi di bawah pemerintahan kafir kelak (pasal 8-11; Dan 8:1–11:45),
b. Periode “tujuh puluh kali tujuh” sebagai waktu yang ditetapkan Allah untuk menyelesaikan misi Mesias demi mereka (pasal 9; Dan 9:1-27), dan
c. Pembebasan akhir mereka dari semua penganiayaan pada akhir zaman (pasal 12; Dan 12:1-13).

h. Berita nubuat Daniel ini mencakup dua dimensi :

1. Masa depan yang dekat dan,
2. Masa depan yang jauh, sekalipun sering kali keduanya terpadu.

Misalnya, dalam pasal 8,11 (Dan 8:1-27) dan (Dan 11:1-45), Daniel menubuatkan tentang lambang “antikristus” yaitu Antiokhus IV Epifanes, yang menajiskan Bait Suci Yerusalem pada tahun 168 SM, sedangkan ia juga bernubuat tentang antikristus akhir zaman (Dan 8:23-26; Dan 11:36-45; bd. Wahy 13:1-10). Hal saling mempengaruhi di antara dua masa depan ini secara umum menandai nubuat alkitabiah dan secara khusus nubuat Daniel. Allah menyatakan kepada Daniel bahwa nubuat tentang masa depan yang jauh adalah berita terselubung “sampai pada akhir zaman” (Dan 12:4,9), ketika pengertian akan diberikan kepada umat Allah yang di dalam kesucian dan hikmat mencari Dia untuk memperoleh pengertian sama seperti Daniel (Dan 12:3,10).

i. Ciri-ciri Khas

Delapan ciri utama menandai kitab ini.

1. Kitab ini adalah kitab nabi besar terpendek dan kitab nabi PL yang paling banyak dibaca dan dikaji.
2. Di bagian-bagian nubuat PB, Daniel disebut atau dikutip lebih sering daripada kitab PL lainnya.
3. Kitab ini merupakan kitab “Apokalips” PL, sebagaimana Wahyu untuk PB, yang menyatakan tema-tema nubuat akbar yang sangat penting bagi gereja akhir zaman.
4. Kitab ini berisi ringkasan sejarah nubuat paling terinci dalam PL. Dalamnya terdapat satu-satunya nubuat PL yang menetapkan waktu kedatangan pertama Mesias (Dan 9:24-27).
5. Kitab ini menerangkan lebih banyak tentang penulisnya daripada kitab nubuat PL lainnya (mungkin terkecuali Yeremia). Perhatikan khususnya bahwa Daniel ditandai sifat integritas yang tinggi, hikmat nubuat yang besar, dan ketekunan dalam doa dan berpuasa.
6. Kitab ini berisi teladan terpenting di Alkitab tentang doa syafaat untuk pemulihan umat Allah berlandaskan janji-janji diilhamkan dari firman Allah (lih. pasal 9; Dan 9:1-27, diilhamkan oleh Yer 25:11-16; Yer 29:7,10-14).
7. Kisah-kisah tentang Daniel dan kawan-kawannya termasuk kisah yang paling digemari dalam Alkitab (khususnya pasal 3, 6; Dan 3:1-30; Dan 6:1-29).
8. Drama “tulisan di dinding” pada perjamuan Belsyazar menjadikan frasa itu sebagian dari pepatah bahasa Inggris hingga hari ini.

j. Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Pengaruh Daniel terhadap PB jauh melampaui lima atau enam kali kitab ini dikutip langsung. Banyak dari sejarah dan nubuat Daniel muncul kembali dalam bagian-bagian nubuat di Injil-Injil, Surat-Surat, dan kitab Wahyu. Nubuat Daniel tentang kedatangan Mesias meliputi penggambaran diri-Nya sebagai:
1. Batu besar yang akan meremukkan kerajaan dunia (Dan 2:34-35,45),
2. Anak Manusia, yang akan diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan suatu kerajaan oleh Yang Lanjut Usia (Dan 7:13-14), dan
3. “Yang diurapi, seorang raja” yang akan datang lalu disingkirkan (Dan 9:25-26).

Beberapa penafsir percaya bahwa penglihatan Daniel dalam Dan 10:5-9 merupakan penampakan Kristus sebelum penjelmaan (bd. Wahy 1:12-16).
Daniel berisi banyak tema nubuat yang secara lengkap dikembangkan dalam PB; mis. kesengsaraan besar dan antikristus, kedatangan Tuhan kita kali kedua, kemenangan kerajaan Allah, kebangkitan orang benar dan orang fasik, dan hari penghakiman. Kehidupan Daniel dan ketiga kawannya menunjukkan ajaran PB tentang pemisahan pribadi dari dosa dan dunia, yaitu hidup di dunia yang tidak percaya tanpa ikut serta dalam suasana dan cara-caranya. (Dan 1:8; Dan 3:12; Dan 6:10; bd. Yoh 17:6,15-16,18; 2Kor 6:14–7:1).

Tentang deviluvgod

Semua KArena KAsih KArunia Tuhan. I Love U SO Much Jesus CHrist
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s